Selasa, 22 Maret 2016

Berdamai dengan Keadaan (1)

Berdamai dengan keadaan.

Melihat satu kalimat yang ia tulis sendiri, hanya membuatnya tersenyum kecut. Ayska, terlihat termenung di tangga masjid besar. Ah, maksudnya tengah melamunkan sesuatu. Melihat sekumpulan mahasiswi di halaman masjid, memory memaksanya untuk kembali mengingat masa yang telah lalu. Sebuah masa yang membuatnya gagal untuk berdamai dengan keadaan hingga sekarang. Masa yang tak mampu ia jabarkan dengan kata-kata. Atau lebih tepatnya hanya ingin ia pendam dalam-dalam.

Masa itu adalah saat pendidikannya terhalang, ntah biaya... atau ibunya. Bahkan sampai saat ini, ia tak mampu temukan jawabnya. Yang mampu ia ambil kesimpulan adalah pendidikannya terhalang oleh ibunya dengan biaya sebagai alasannya. Oh, betapa ia kerap bertanya lebih pada dirinya, keadilan macam apa yang ia terima. Ntah mengapa ia terkadang sulit sekali untuk menerima.

Ada masa-masanya ia memilih untuk mengikhlaskan, perlahan rasa benci itu menghilang. Seiring waktu berjalan ia mampu lepaskan beban, terima kenyataan, mungkin ini bagian dari takdir perjalanannya. Namun bila rasa marah itu kembali menyerang, betapa ia seakan tak mampu untuk lupakan. Ia ingin berteriak, marah, tetapi pada siapa? Kepada ibunya? Kepada kakaknya? Kepada mereka yang terlibat didalamnya? Bahkan ia rasa itu percuma. Kemarahannya tidak akan membawa perubahan apapun. Yang ada justru menambah berantakan pada hatinya.

Ayska bahkan tak tahu harus bagaimana mendeskripsikan apa yang ada dalam benaknya. Haruskah dia bersedih sebab teringat masa itu? Haruskah ia tersenyum? Akan tetapi senyum yang bagaimana? Kembali ia ingatkan diri, bahwa hal itu tak akan merubah apapun juga. Yang harus ia rubah adalah suasana hatinya. Dirinya harus bangkit. Lagi-lagi kembali bermuara pada, berdamai dengan keadaan.

Berdamai dengan keadaan, salah satu kalimat yang ia tanamkan dalam dirinya. Yah, meski ia akui, kalimat tersebut, atau kalimat motivasi yang tanpa sengaja hadir dihati, masih jua sebatas teori. Terkadang ia hanya berpikir tanpa tindakan. Terlalu berkutat pada teori tanpa tahu harus berbuat apa. Itu Ayska. Setidaknya itu yang Ayska rasa tentang dirinya.

Benarlah jika ia merasa dirinya tak juga berkembang. Ayska kembali tersenyum. Ia bertanya lebih kepada dirinya, berkembang yang bagaimana? Yang seperti apa? Berkembang dalam arti macam mana? Berkembang yang dilihat dari aspek apa? Dilihat dari sisi mana? Oh, lagi-lagi Ayska tak mengetahuinya. Ntah apa jawabnya, ntah siapa yang mampu menjawabnya.

Melihat teman-teman yang bisa dikatakan berubah, setelah mendapat pekerjaan yang layak, uang berlimpah. Ayska kembali hanya bisa berkhayal. Seandainya, seandainya, seandainya. Berandai-andai bilakah Ayska mampu seperti mereka. Lagi-lagi patokannya pada dunia. Ayska hanya bisa beristighfar. Kembali Ayska ingatkan hatinya, untuk tidak menjadikan dunia sebagai barometer hidupnya. Hanya bisa menasehati jiwanya yang ntah bagaimana. Jiwa yang mungkin terlupa akan kasihNya, jiwa yang mungkin terlupa bahwa rizkinya telah ditentukan oleh Ar-Razzaaq, yang Maha pemberi rizki.

Nantikan kisah selanjutnya, yah...


Nadilla Afrina 

12 komentar:

  1. sebagai pengingat diri juga...makasih

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Alhamdulillah... terimakasih telah berkunjung... :)

      Hapus
  3. ini perenungan yang daleeeemmm banget.. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) tidak bisa diterjemahkan dengan kata2...

      Hapus
  4. Berdamai dengan hati... Hmn...

    Semngat mba, semoga bisa bedamai dgn hatinya... (Sory g nyambung)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehm, sepertinya nyambung deh... hehe

      Na'am, InsyaAllah semangat

      Hapus
  5. Sepertinya cerita diatas banyak dialami orang.salah satunya ssya..thanks tulisannya mb

    BalasHapus
  6. berdamai dengan keadaan, nama lain dr ikhlas.. :)

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...