Kamis, 24 Maret 2016

Berdamai dengan Keadaan (3)

Ayska terdiam, tatapannya kosong. Kali ini pandangannya tak menentu ke segala arah. Memory masih terus mengajaknya berkelana, menyelami waktu yang telah habis masanya. Ayska tersenyum kecil kala mendapati ingatannya pada sang ayah. Ayah, yang begitu menyayanginya, yang begitu mengerti dirinya, yang begitu memperhatikannya. Yang kepergiannya menyadarkan Ayska, bahwa kematian itu nyata.

Sebelum ditinggal pergi ayahnya, Ayska merasa bahwa kematian itu hanya ada dalam cerita. Kematian tidak akan menimpa orang yang menyayanginya. Kehidupannya akan baik-baik saja selama ayah berada di sisinya. Tak ada yang berani mengusik ketenangannya, tak akan ada yang berani memarahinya, juga tak ada yang berani berlaku kasar padanya. Karena ayah selalu menjaga dan membelanya. Seakan ayah tak ingin sesuatu melukainya.

Bukan tersebab ayah tidak bisa membedakan benar-salah perbuatannya, sehingga ayah tak peduli apakah Ayska benar atau salah, ayah tetap membelanya. Justru ayah akan marah sesaat saat Ayska berbuat salah. Akan tetapi tidak seperti ibunya. Yang ia rasa ibu hanya menyayangi kakaknya. Apa-apa kakaknya, begitu seterusnya. Ayah lain, meski ayah amat menyayanginya, akan tetapi ayah juga menyayangi kakaknya, sebab kakaknya juga anak dari ayahnya. Jikalah ayah terbilang sering memarahi kakaknya, itu karena memang kakaknya nakal. Itu yang Ayska tahu selama Ayska mengenal ayahnya. Seolah dirinya menjadi kesayangan ayahnya. Anak yang diharapkan akan hidup lebih baik dari ayah. Juga kakaknya yang ayah harap bisa mengayomi keluarga jika beliau telah tiada. Setidaknya itu kesimpulan yang Ayska bisa ambil dari harapan ayah, yang masih bisa ia ingat. Meski sampai saat ini, kakaknya tidak bisa mengayomi keluarga seperti kakak lainnya.

Ya, itu saat ayahnya masih ada. Begitu ayahnya tiada, semua berubah. Sampai Ayska tak mampu mengenali siapa yang menyayanginya. Mungkin hanya tersisa kakek dari pihak ayah, juga kakek-nenek dari pihak ibu yang masih perhatikan kebahagiaan nya. Sementara yang lain, ntahlah.

Memory mengajak berputar kembali pada keinginan ibu. Ayska disekolahkan oleh ibunya di sebuah sekolah Mts —sederajat dengan Smp. Bukan tersebab dirinya tidak suka sekolah di Mts. Ia bahkan suka masuk sekolah di Mts, hanya saja bukan sekolah Mts yang ibu pilihkan untuknya. Lagi-lagi Ayska harus berdamai dengan keadaan. Coba menerima seperti yang orang bilang, lumayan lah daripada tidak sekolah. Mau tidak mau ia harus bisa bersahabat dengan sekolahnya itu.

"Bagaimana bisa kita lewati hari-hari dengan menyenangkan di sekolah bila kita tak mampu bersahabat dengan sekolah kita sendiri?" Begitulah pikir Ayska.

Bagaimanapun caranya, Ayska harus bisa bersahabat dengan sekolahnya. Itu tekadnya. Ayska teringat akan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216,

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayska hanya bisa husnudzan, ia coba husnudzan dengan pilihan itu. Barangkali dengan ia bersekolah di sekolah tersebut, ia temukan kebaikan yang banyak. Ayska berpikir bahwa kebahagiakan kita terkadang hadir dari sesuatu yang tidak kita suka. Ya, jangan terlalu benci, barangkali suatu saat kita akan sangat berterimakasih dengan apa yang terjadi hari ini.

Tunggu kisah selanjutnya, yah...

Catatan :
Bagi yang belum baca Berdamai dengan Keadaan (2), silahkan dikunjungi... biar nyambung dan tidak bingung.

Nadilla Afrina

2 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...