Senin, 28 Maret 2016

Berdamai dengan Keadaan (4)

Ayska tersenyum juga sedih jika mengingat masa-masanya sewaktu di Mts. Jalannya tidak mudah meski ia terima keputusan ibunya. Salah satunya perihal uang pembayaran sekolah. Sekolah yang katanya, sekolah yang orang bilang biaya murah, biaya terjangkau, biaya bersahabat itu. Hampir setiap waktu pembayaran sekolah tiba, membayar buku, juga kebutuhan sekolah yang lain dia harus memutar otak. Disaat teman-teman yang lain bisa duduk santai, uang saku sekian dan sekian bisa habis untuk jajan. Tetapi tidak untuk Ayska. Setiap diberi uang saku yang tidak seberapa, ia harus terima untuk tidak jajan. Ia kumpulkan uang saku tersebut untuk pegangan sekiranya ibunya sulit dipinta uang.

Berpikir bagaimana ia bisa melunasi uang pembayaran sehingga ia bisa mengikuti ujian, berpikir bagaimana ia bisa turut memiliki buku pelajaran, sementara dirinya tiada daya untuk mencari uang tambahan. Jika lah ia ingin bekerja, kerja apa yang ia bisa? Siapa yang mau menerima karyawan seusianya? Tak jarang jika ia harus beradu argumen dengan ibunya dulu untuk bisa dapatkan uang pembayaran. Ibunya selalu beralasan untuk Ayska bilang jauh-jauh hari sebelumnya jika ada biaya sekolah tiba.

Oh, ibu... bagaimanakah Anda ini? Bahkan Ayska kerap meminta dua atau tiga pekan sebelumnya. Justru kakaknya Ayska yang terbilang baru kemarin atau dua tiga hari sebelumnya meminta, engkau berikan begitu saja. Dalam kasus seperti ini siapa yang keterlaluan dan siapa yang tidak berpikir? Sungguh Ayska merasa dipersulit. Ayska berpikir dengan ia mengikuti keputusan ibunya, maka semua akan dipermudah. Nyatanya tidak, bahkan semua tidak memberikan perubahan apapun. Seolah Ayska pengemis dalam keluarganya sendiri.

Belum lagi sikap lain yang ibu dan kakaknya sendiri beri. Tapi sudahlah, dalam hal ini Ayska tak ingin jatuh cerita. Biarlah menjadi kisah antara dirinya dan keluarganya. Bilakah Ayska tuliskan dalam rangkaian kata, mungkin satu buku juga tidak akan bisa memuatnya. Berlebihan memang. Tetapi itulah kenyataannya. Ah, setidaknya menurut Ayska sendiri.

Senyum Ayska kembali mengembang saat dia teringat, suatu hal yang sulit untuk dia percaya mengejutkan dirinya. Hal yang mungkin baginya mustahil untuk mendapatkannya. Ayska berhasil meraih juara kedua dikelasnya. Lebih tepatnya di semester pertama kelas satu MTs. Sesuatu yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Yang ia ingat, selama sekolah di SD, dia seringnya masuk 10 besar. Masuk 5 besar mungkin bisa dihitung dengan jari, masuk 3 besar hanya sekali, yaitu di kelas empat SD.

Ya, sekali di kelas 4 SD. Dan di caturwulan dua Ayska berhasil meraih juara tiga. Saat itu, sistem semester baru ia dapati saat dirinya duduk dikelas 5 SD. Rasanya cukup senang, terlebih ayah memujinya. Ayah juga berjanji akan memberikannya hadiah uang sebesar seratus ribu jika nantinya Ayska mampu meraih juara pertama. Uang seratus ribu di masanya saat itu bukanlah jumlah yang sedikit. Seratus ribu adalah jumlah yang cukup besar, terlebih untuk anak seusianya.

Nantikan kisah selanjutnya, yah...

Nadilla Afrina 

4 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...