Jumat, 11 Maret 2016

Pandanglah Dirimu

Dalam sebuah hubungan, ntah pertemanan atau apapun itu, di dunia nyata atau dunia maya, menemui persoalan adalah sebuah kewajaran. Saling emosi, saling merasa paling benar itu pun juga wajar. Berakhir dengan permusuhan dan putusnya hubungan, mungkin tak jarang kita temui. Yang langka adalah saat pertengkaran berakhir pada kemaafan. Hal yang sulit kita dapati.

Saat persoalan benar-benar telah berada dipuncak, lantas membiarkan ego mengambil alih rasa, yang tercipta hanya sikap saling menyalahkan. Yang satu merasa lawannya berlebihan, yang lain merasa lawan menyerang. Hingga pertengkaran tak berkesudahan, tak terelakkan. Rasa saling mengalah, seperti mengangkat tepung puluhan kg. Rasa saling minta maaf, serasa mustahil.

Saat-saat seperti itulah terkadang kita butuh waktu menyendiri, saling introspeksi, mencari duduk perkara yang diperdebatkan seperti apa, siapa yang memulai, sikap memulai itu adalah sikap yang tepat atau sebaliknya, pantaskah jika hal itu terlalu dibesar-besarkan, hingga akhirnya temukan titik terang. Tahu apa yang baik tuk diputuskan.

Alih-alih mendatangkan kemaafan, ternyata berakhir dengan putusnya hubungan. Kan sayang.... Berargumen 'dulu engga kenal, sekarang demikian' nah loh, itu alasan atau pembelaan? Jika dulunya tidak kenal, dan sekarang diperkenalkan hingga terjadi pertengkaran, itu salah siapa? Yang salah bukan pada pertemanan kalian, akan tetapi diri kalian yang salah mengambil tindakan.

Satu yang perlu diingat, belajarlah untuk tabayyun lebih dulu sebelum saling serang. Tentang ucapan misal, ntah lisan atau yang dituliskan, jangan lantas menyerang. Menilai bahwa komentarnya selalu bikin kontroversi, ungkapannya selalu memicu perdebatan, atau hal senada lainnya. Tanpa perlu tabayyun tentang maksud kalimah lawan.

Sebatas menurut pengamatan saya, perselisihan umumnya dipicu karena lisan. Lisan yang tidak atau kurang dijaga. Juga disebabkan karena kurangnya sikap tabayyun. Meneliti lebih dulu, mencari kejelasan. Sebab kita mengakui kalau cara pandang tidak selalu sama, maka cara mengambil kesimpulan dari suatu perkataan perlu untuk diperhatikan disini. Mengambil kesimpulan tanpa kita pikirkan adalah suatu kesalahan. Ah, maksudnya kekeliruan.

Ada baiknya kita perbanyak membaca, salah satunya adalah membaca keadaan. Supaya cara berpikir kita tidak dangkal, tidak cetek dalam berpikir. Begitu kita dapati ucapan teman yang 'menurut kita' salah, jangan lantas kita berkesimpulan dia buat salah. Apa yang 'menurut kesimpulan kita' salah, belum tentu dari kacamata pandang orang lain. Belum tentu juga kalau maksud si teman dari kalimah yang ia ucapkan, seperti yang kita simpulkan.

Alih-alih bernasehat, tak disangka memberi sengat. Dalam nasehat terdapat adab. Setidaknya kalau tidak begitu tahu adab bernasehat, kita bisa misalkan diri kita sendiri. Bagaimana bila posisi kita ada di mereka. Ada seseorang yang gayanya memberi nasehat pada kita, namun di muka umum. Bagaimana perasaan kita? Apa yang akan kita lakukan? Silahkan dijawab pada diri kalian masing-masing.

Jangan salahkan mereka yang mungkin tidak menerima nasehat kita. Periksa kembali cara yang kita punya. Ah, maksudnya cara yang kita ambil dalam memberikan nasehat tersebut. Setidaknya kalau kita menasehati, lakukan dengan sembunyi, supaya mampu meminimalisir salah arti. Jangan sampai nasehat kita justru menyakiti. Perlu kita ketahui kondisi hati setiap kita tak selalunya stabil. Oleh karenanya diperlukan sikap hati-hati.

Saya sebagai penulis disini, hanyalah diri yang juga masih berusaha untuk bisa. Semoga yang sedikit ini, kita bisa ambil manfaatnya. Tulisan ini dibuat sebagai pengingat hati terlebih untuk diri penulis itu sendiri. Jika ada kesalahan, sampaikan kebenaran dengan cara santun.

Yang berikhtiar dalam perbaikan,
Nadilla Afrina

6 komentar:

  1. aku pernah bertengkar sama seorang sahabat dan memilih ego jadi kami sempet gak teguran lama. waktu aku masih menyebalkan sekali. hahaha
    harusnya aku baca artikel mbak Nadila ini dulu.^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi bisa aja mba sasmitha. Ehm, masanya sudah berbeda, mba... hehe

      Hapus
  2. Keren banget tulisan mba Nadillah...
    Tabayyun- memilih cara bijak Menasehati..

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) Alhamdulillah, aamiin... :) iya, harus dipelajarin dulu duduk persoalannya. Tidak asal-asalan...

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...