Selasa, 08 Maret 2016

Siapalah Aku

Tak kenal maka ta'aruf.

Sudah pernahkah kalian mendengar istilah ini? Ya, tak kenal makanya kenalan. Bicara soal perkenalan... ngomong-ngomong sudah kenal dengan pemilik akun ini? Pemilik akun ini adalah seseorang yang lebih suka menyembunyikan dirinya, dikenal sebagai Nadilla Afrina. Kalian sudah mengenal siapa Nadilla Afrina? Nadilla Afrina itu Menanti Salam Lewat Bintang. Seperti yang sudah tercantum di blog ini. Kalian tak paham juga? Pemilik akun ini adalah pemilik akun facebook Menanti Salam Lewat Bintang. Sudah tahu? Belom tahu juga? Itu loh... yang jadi salah satu peserta di kelas ODOP. Masih tidak mengenalnya? Ya sudah, Lupakan. Mungkin memang si Menanti Salam Lewat Bintang bukankah orang terkenal, bukan siapa-siapa.

Aku tidak tahu bagaimana cara kalian mengenalku. Kalian berminat atau tidak untuk mengenalku, adalah diluar sepengetahuan aku. Juga bukan menjadi urusanku, bahkan aku tak pedulikan itu. Selama aku tidak merasa terganggu akan kedatanganmu, itu tak mengapa bagiku.

Maaf, belum-belum sudah tidak nyambung. Tapi tak apa, lupakan.

Sebetulnya tanpa aku ceritakan tentang siapa aku, kalian sudah tahu. Kalian bisa baca profil di akunku, atau postinganku waktu lalu. Tanggal berapa? Ntah, aku juga tak tahu.

Kawan, siapalah aku?
Aku hanyalah orang yang ingin menjadi diriku, bukan menjadi orang lain. Karena bagiku, menjadi pribadi orang lain itu hanyalah menipu. Menipu diriku. Jadi...

Inilah aku, dengan segala kelebihan dan kekuranganku
Inilah aku, dengan segala kemampuan dan keterbatasanku

Kawan, siapalah aku?
Aku hanyalah diri yang mencoba untuk tegar seperti daun
Tetap tersenyum walau terjatuh
Tetap tersenyum walau celaan acap kali mereka hadirkan

Penafsiran orang beragam, namun yang aku ingat adalah, apapun penafsiran manusia... ntah apapun itu, tidak akan membawa pengaruh apapun tentang siapa aku dihadapan Allah. Oleh sebabnya di profil akunku, aku tuliskan bahwa, "Saya seperti apa yang Anda nilai dalam hati anda di mata Anda."

Bila masih penasaran, silahkan baca kembali profil akunku.

“Jika kamu mampu untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Kamu tidak rugi walaupun tidak dikenal, dan kamu tidak rugi walaupun kamu tidak dipuji. Kamu tidak rugi walaupun kamu tercela di mata manusia, asalkan di mata Allah kamu selalu terpuji.” (FUDHAIL BIN IYADH)

Siapa yang tidak mengenal Fudhail bin iyad? Kisah taubatnya membuat hati tak lagi mampu menahan perih.

Atau, Uwais Al-qarni. Beliau adalah seorang penduduk negeri Yaman, tetapi hampir tidak ada yang mengenalnya. Namun namanya mampu dikenal oleh penduduk langit.

Dua kisah yang menyadarkan aku, membacanya mampu menembus benteng pertahanan airmataku. Tak usah sedih jika manusia tak mengenalmu, tak perlu risau akan penafsiran buruk mereka tentang dirimu.

Sebab terkadang,
Umumnya manusia itu hanya bisa menilai dari apa yang dapat mereka lihat,
Larut dalam menilai orang lain, namun lalai menilai dirinya sendiri,
Sibuk melihat aib orang lain, lupa dengan aib sendiri,
Lupa kebaikan orang kepadanya, hanya sebab kesalahan kecil yang orang itu buat.

Kawan, siapalah aku?
Aku hanya seseorang yang punya angan dan impian
Tapi aku coba berdialog dengan hatiku, "Wahai diri, sesungguhnya kematian akan menghampiri..."

Ya, kematian sewaktu-waktu bisa bertamu. Aku tahu itu. Maka kucoba tuk nasehati diriku, "Pendekkan anganmu, dan mulailah untuk mencari akhiratmu!"

Sebab, panjang angan-angan bisa membuat seseorang malas beramal, lupa akan kematian.

Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, "Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara."
Ibnu Umar berkata, “Jika kamu berada disore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada dipagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu." (HR. Al-Bukhari)

Aku mengupayakan mimpi sebatas yang aku mampu. Karena aku yakin, manakala aku betul-betul mengejar akhiratku, maka dunia akan menghampiriku.

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Dunia itu ibarat bayangan, bila kau kejar, dia akan lari darimu. Tetapi bila kau palingkan badanmu, dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu.”

Aku berpikir, mengejar dunia tak akan pernah ada habisnya. Sementara usiaku berkurang seiring berlalunya waktu. Jika diriku tersibukkan dengan duniaku, lantas bekal apa yang aku bawa untuk kematianku? Ya Rabbku, ampuni aku.

Semoga impian-impian yang ada padaku, adalah sesuatu yang dapat membahagiakanku di akhirat nanti.

Kawan, siapalah aku?
Aku bukanlah mereka dengan segudang prestasi
Aku hanyalah orang biasa yang mencoba untuk berkarya

Kawan, siapalah aku?
Bahkan aku bukanlah siapa-siapa

Sekian perkenalan dariku. Beginilah aku.

Nadilla Afrina 

9 komentar:

  1. Kawan, siapalah aku?

    Kamu adalah kmu, sy adalah sya...
    Good person (^_^)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ^_^ bingung mau nulis apa, jadinya ya begitu... hehehe bingung memperkenalkan diri

      Hapus
    2. ^_^ bingung mau nulis apa, jadinya ya begitu... hehehe bingung memperkenalkan diri

      Hapus
  2. siapalah aku..?

    yah, siapa sih kita?

    *bingung sendiri ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya itu... dan akhirnya saya

      Hapus
    2. Iya, makanya itu... dan akhirnya saya lelah

      Hapus
  3. Saya juga bukan siapa-siapa Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) bisa aja...
      Kalau sini fakta, situ apa? :D

      Hapus
    2. Nadilla dah berkunjung, tapi bingung ninggalin jejaknya... :) jadinya cuma baca2, mba...

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...