Rabu, 16 Maret 2016

Singkatnya kata (4)

Hal tersebut tak lantas menjadikan Syifa berbangga diri. Jika banyak dari mereka ingin berteman dengannya, Syifa syukuri. Bilapun tidak, bahkan dia tidak peduli. Beberapa dari temannya mungkin menilai bahwa sikap terlalu diamnya Syifa, cenderung membuat teman-teman yang ia punya satu per satu akan meninggalkan dirinya. Kesimpulan yang tidak Syifa pedulikan. Kesimpulan yang tidak Syifa tahu darimana dan kapan datangnya. Diam-bawelnya seseorang bukanlah penentu dari banyak tidaknya teman. Tergantung kondisinya. Begitulah pendapat ringkas Syifa. Selama apa yang Syifa lakukan baik untuknya, ia suka dengannya, dan tidak merugikan orang lain, apa salahnya? Begitu pikirnya.

Teman suka atau tidak dengan kita, itu urusan mereka. Yang terpenting kita tidak merugikan mereka. Itu saja. Syifa tidak terlalu pusingkan bila teman tidak suka dengannya. Yang ia pusingkan manakala teman tidak tenang berada di dekatnya, seolah Syifa akan menebar bahaya jika mereka terus bersamanya. Sebab Syifa buat jahat misal. Ah, itu permisalan yang Syifa buat sendiri dalam catatannya.

Syifa letakkan kembali buku bacaannya. Lalu ia ambil buku catatan dan pena dari dalam tasnya. Tangannya menari-nari lincah bersama pena di lantai yang bernama kertas berwarna pink lembut.

Wahai diri, cobalah untuk sadari.
Bahwa...
Setiap yang hilang, pergi, dan telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Jangan harapkan yang percuma nan sia2...
Akan tetapi, mintalah untuk diberikan ganti dengan yang lebih baik dari yang bukan menjadi hak milik kita lagi.
Meski kita tahu, sebelum kita meminta kepadaNya...
Allah sudah beri kita dengan yang lebih indah dari sebatas apa yang berada diangan-angan diri kita.

Kadang kita merasa sedih dan kecewa
saat apa yang 'kita merasa pernah memilikinya' apapun itu,
hilang dari genggaman dalam kejapan mata saja.
Ingin rasanya kita curahkan segala keluhan dalam benak
pada 'seseorang yang kita rasa' mampu menampung semua
beban hati berharap hadirlah sebuah solusi.
Tapi tak sadarkah kau bahwa mungkin 'seseorang' tersebut
juga tengah mencari sandaran
atas beban yang dia rasa ternyata lebih berat darimu?
Cobalah tuk mengerti dan sadari
bahwa sebaik-baik tempat meluahkan segala beban dihati
hanya pada Allah.
Ya, luahkan semua keluhan yang ada dalam batinmu pada Allah...
jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sungguh, pertolongan Allah itu dekat.

Barangkali orang yang selalu kau kasih semua keluhanmu
telah merasa bosan tanpa kau sadari...
seperti dirimu yang terkadang rasa jenuh bila ada sesiapa yang cerita padamu tentang keluhan mereka.
Wajar, bukan? Bukankah itu manusiawi?
Jangan terlalu berharap pada manusia
karena akan berakhir dengan kecewa.
Tapi tambatkan setiap harapan
hanya pada yang Maha Segala...
Mungkin kita pernah merasa apa yang selama ini kita minta
Tak kunjung tiba berada tepat di depan mata.
Tapi disisi lain, mungkin Allah sudah berikan kita
dengan suatu yang lebih indah tanpa kita sadari.
Ya, tanpa kita menyadarinya.
Tidakkah kita berprasangka baik saja?

Selesai. Ia kembali baca seuntai nasehat yang ia tulis sendiri. Setidaknya sebagai pengingat hati bahwa apa yang telah terjadi adalah bagian daripada takdir. Bagian dari sebuah perjalanan.

Klik Singkatnya kata (5) untuk ikuti kisah selanjutnya.
Atau
Klik Singkatnya kata untuk ikuti dari awal.

Nadilla Afrina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...