Senin, 21 Maret 2016

Singkatnya kata (5)

Terkadang sebagian teman menilai, Dania terbilang beruntung bisa akrab dengan Syifa. Meski Dania sendiri merasa, dia belum seberuntung dengan apa yang temannya kira. Sebab dia belum mengerti tentang bagaimana karakter Syifa. Bagi Dania, mengerti dan mampu memahami karakter Syifa adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuknya, ntah apa alasannya. Dania tidak serumit Syifa, harus memiliki alasan dalam setiap hal.

Beruntung. Syifa rasa itu pemikiran konyol dan terlalu berlebihan jika beruntung disandarkan pada seseorang yang bisa kenal dengannya. Siapapun itu. Mereka pikir Syifa ini siapa? Apa istimewanya? Justru Syifa merasa dirinya hanyalah seseorang yang tidak berguna. Dia gagal dalam mengiyakan pesan kakaknya. Hingga sampai kakaknya meninggal, ia tak bisa berbuat apa-apa. Syifa selalu tegaskan hal itu. Dia bersyukur jika dikenal, akan tetapi ia sangat tidak suka jika teman-teman berlebihan tentangnya.

"Ada yang lebih penting dari sekedar kau mencari tahu tentang karakter seseorang lebih dalam, Dania. Tanpa kau cari tahu, kau pasti akan memahami bagaimana karakter seseorang setelah lama kau berinteraksi dengannya. Sebab tidak semua orang mampu kau pahami karakternya dalam waktu singkat."

Syifa sering mengingatkan Dania. Bahkan kalimat yang sering Syifa lafadzkan hampir ia hafal. Ya, selalu kalimat itu yang Syifa ucapkan. Dan ia menjadi teringat saat Syifa begitu marah tersebab teman-teman berlebihan tentangnya. Meski mereka terbilang belum lama saling mengenal, tetapi Dania paham betul bahwa Syifa dengan kemarahannya yang seperti itu bukanlah Syifa banget.

"Inilah sosok Syifa yang kalian kenal. Sosok Syifa yang lain. Sosok Syifa yang kalian banggakan, tidak seperti yang kalian sangkakan."

Satu kalimat terakhir yang masih Dania ingat saat itu. Kalimat yang membuatnya terperangah, saat dimana Syifa berubah menjadi sosok yang tidak ia kenal.

Kita tahu bahwa setiap kita memiliki kelebihan juga kekurangan. Bagaimanapun kita, tak menutup kemungkinan bahwa kita bisa salah. Syifa senang kita saling menilai kelebihan teman-teman. Bukan mencari kesalahan atau kekurangan. Tapi Syifa juga tidak ingin kita terlalu berlebihan. Yang berhak menerima pujian hanya Allah. Seberapa pantas kita menerima pujian? Bagi Syifa, berlebihan dalam memberikan pujian sesama kita bukanlah sesuatu yang wajar, bukan hal yang dianjurkan.

Waktu lalu, Dania juga sempat terlibat obrolan empat mata dengan Syifa. Syifa yang selalu fokus menatap buku bacaannya. Syifa yang ntah paham atau tidak dengan celoteh-celoteh Dania. Syifa yang masih dengan berbagai hal tidak Dania ketahui.

"Syifa yang masih dengan kemisteriannya, setidaknya menurut seorang Dania," komentar Syifa tertawa lepas saat itu, "Dania memang seorang petualang. Lantas, petualang rasa atau petualang karakter kalau dalam kasus ini?"

"Syifa itu sebenarnya mudah untuk ditebak karakternya. Mudah dikenali sifatnya. Hanya saja..." Dania sebentar berpikir, menepuk-nepuk dagu dengan jari telunjuknya sambil kepala menengadah ke atas dengan satu tangan yang lain bertumpu di atas meja perpustakaan, "mungkin aku belum tahu caranya saja. Kau adalah orang yang unik, Syifa. Jadi aku harus menemukan cara baru untuk tahu karaktermu. Dan tentunya dengan cara yang menurutku unik juga."

Syifa hanya menggelengkan kepalanya, matanya terus fokus pada buku yang saat ini tengah ia baca. Sebentar ia hentikan aktifitas bacanya, memandang Dania yang berlalu meninggalkan ruang perpustakaan. Ntah perasaan apa yang pantas hadir dalam hatinya, senang, marah, kecewa, kesal, atau seperangkat rasa lainnya.
Biarlah. Bahkan Syifa tak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Tak ada waktu? Bukan, Syifa memang sengaja tak memberi celah untuk waktu memikirkan hal yang Syifa rasa sangat tidak penting. Ya, ada yang lebih penting bagi Syifa dari sekadar memikirkan tentang rasa saat itu.

Klik Singkatnya kata (6) untuk ikuti selanjutnya.
Atau
Klik Singkatnya kata untuk ikuti dari awal.

Nadilla Afrina

3 komentar:

  1. kayaknya aku harus membacanya secara runtut biar mudeng dengan seluruh ceritanya deh.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba... dengan senang hati boleh...

      Makasi telah berkunjung... :)

      Hapus
  2. Sy juga belum mudeng klu tdk baca scra utuh....

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...