Selasa, 05 April 2016

Berdamai dengan Keadaan (6)


Apakah ini sebatas keberuntungan semata? Atau mungkin ini hadiah dari Allah, sebagai ganti atas kekecewaannya

Mulai dari semester kedua kelas satu hingga semester satu kelas tiga MTs, ia mampu mempertahankan prestasinya. Juara satu selalu jatuh padanya. Meski di semester akhir kelas tiga, bukan Ayska juaranya. Ntah sebuah prestasi yang membanggakan atau tidak. Yang Ayska tahu, ia tidak ingin berlebihan. Sebaik apa prestasinya di kelas, belum tentu ia mampu tetap bertahan diatas jika ia disuruh bersaing dengan siswa diluar sekolahnya. Setidaknya itu menurut Ayska. Bukan tersebab nyalinya ciut, sebatas menurut pengamatannya semata. Prestasi yang mampu ia raih di sekolah yang bukan pilihannya, ntah apa namanya, Ayska tak mampu simpulkan. Apakah ini sebatas keberuntungan semata? Atau mungkin ini hadiah dari Allah, sebagai ganti atas kekecewaannya? Ya, mungkin ini adalah salah satu hadiah dari banyak hadiah yang Allah beri.

Ayska masih melanjutkan pengembaraannya. Senyum yang tadinya merekah kini kembali redup. Begitu lulus dari MTs, Ayska kembali kecewa untuk kesekian kalinya. Hal yang ia alami saat lulus SD dahulu, kembali berulang saat dirinya lulus dari Mts. Untuk memasuki sekolah yang ia inginkan, kembali terkubur, tinggal mimpi terpendam tanpa bisa ia perjuangkan. Padahal sebelumnya ia prediksi, bahwa ibunya akan berubah seiring waktu berjalan bersama prestasi yang ia genggam, tetapi tidak. Prediksinya melesat jauh dari angan. Sama saja, ibunya adalah ibu yang selalu utamakan kakaknya, ibu yang sulit di mintain uang sekolah, dan lain sebagainya.

Dan akhirnya Ayska lelah, dengan semua sikap yang ibu limpah kepadanya. Terkadang ia berpikir, kapan ia mendapatkan keadilan? Adakah bila dia mati ibunya baru tersadar? Ntahlah. Ayska hanya bisa beristighfar. Sikap, ketidakadilan, dan perlakuan yang keluarga berikan kepadanya, membuatnya menjadi pribadi yang seolah tidak peduli dengan keluarga. Ntah mau buat apa mereka, seakan Ayska tidak mau tahu, mau berlaku bagaimana mereka padanya, Ayska tidak peduli itu. Tersebab Ayska sudah merasa hidup sebatangkara.

Dirinya masih yakin, keadilan akan Allah berikan. Sebab Allah tidak akan membiarkan hambanNya kalut dalam penderitaan. Pernah dulunya Ayska ingin pergi dari rumahnya sebab merasa tidak kuat lagi dengan sikap keluarga. Bahkan ia sudah berkemas, tepatnya saat dirinya duduk dikelas dua MTs. Ya, Ayska masih ingat betul saat itu. Kakaknya zalim terhadapnya. Sering ia mendapat pukulan keras. Ia mengemas barang-barangnya selepas kakaknya menampar begitu keras dengan sandal. Keadilan macam apa yang ia terima? Bahkan, ibunya hanya diam mengetahuinya.

Ayska tidak bermaksud mendramatisir keadaan, itulah kenyataan. Tetapi tak apa, lupakan. Meski itu kebenaran, siapa yang mendengar jerit batinnya yang tersiksa. Oh,.bahkan tak ada. Hanya Allah yang memenuhi janjinya, bahwa deritanya... tak akan selamanya. Bersama kesulitan ada kemudahan, setelah berlalunya malam datanglah siang. Ada pelangi disebalik hujan. Jangan bertanya kenapa pada setiap ujian yang diberikan, bukan? Selalu ada hikmah disebalik tangisan.

Terkadang ia merasa iri dengan anak-anak yang lain, juga dengan teman-teman. Mereka diberi kebebasan untuk memilih sekolah favorit mereka. Mungkin tidak perlu jauh-jauh, kakaknya sendiri saja. Ibunya begitu membebaskan kakaknya untuk memilih sekolah pilihan kakaknya. Bagaimana dengan dirinya? Bahkan ia merasa ibunya tidak bisa mengerti akan keinginannya. Yang ibunya tahu hanyalah Ayska yang harus menuruti kehendaknya.

InsyaAllah masih akan berlanjut...

Nadilla Afrina 

3 komentar:

  1. ya Allah,,nggak tamat-tamat
    di tunggu ye

    BalasHapus
  2. Ayska, dengerin aja kata ibu, niat ibu baik. Hihihi

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...