Kamis, 14 April 2016

Berdamai dengan Keadaan (Selesai)

Egois. Ayska menilainya. Tidak peduli dengan keinginannya. Tidak mau sedikit saja untuk bisa mengerti dirinya. Tetapi ia bisa apa? Ia hanya seseorang yang tiada daya untuk perjuangkan haknya. Ia hanyalah seseorang yang terjebak oleh keadaan. Sampai-sampai ia merasa tak mampu untuk lisankan atau sebatas tuliskan.

Hingga saatnya Ayska jadikan pondok pesantren sebagai pelariannya. Mengingatnya Ayska terkikik geli. Ia tak menyangka bahwa dirinya mampu melakukan hal sekonyol itu. Bukan apa, dengan tinggal di pondok pesantren, Ayska berpikir bahwa ia bisa menjauhi keluarganya. Mengobati sakit hatinya, kecewa pada ibunya. Ibu yang ntah apakah memperhatikan dirinya atau sebaliknya.

Berharap hidup di pesantren akan memperbaiki hatinya yang ntah sudah terpecah bagai apa, berharap mampu membuat hidupnya lebih baik, perasaannya membaik, benar-benar bisa berdamai dengan keadaan. Berdamai dengan keadaan yang tidak lagi musiman. Ia berpikir, sama-sama merasa hidup tanpa keluarga, maka pesantren adalah lebih baik baginya. Barangkali suasana akan lebih bersahabat daripada di rumah orangtuanya.

Akan tetapi harapan yang dirangkainya, tak lebih dari sebatas mimpi. Hidupnya di pesantren tidak bertahan lama. Ayska mencukupkan diri bertahan hidup di pesantren hanya empat hari empat malam saja. Ayska menyebutnya dengan berkunjung ke pesantren. Sebab baginya sebutan itu lebih tepat untuk waktu yang terbilang singkat. Bukan apa, alasan yang tidak ingin Ayska utarakan. Biarlah dirinya sendiri yang mengetahui. Bukan orang lain.

Hidup di pesantren. Ayska hanya menggelengkan kepala dengan senyum yang sulit untuk diartikan. Sebuah perjalanan singkat yang bisa menghabiskan berhalaman-halaman jika diceritakan terlewat tulisan, dan bisa memakan waktu berjam-jam jika diceritakan lewat lisan. Perjalanan yang tidak mudah bagi Ayska, dimulai dari proses pendaftaran sampai dimana ia harus tinggalkan pesantren, tinggalkan teman-teman yang begitu memperhatikan dirinya, yang peduli dengannya, yang tidak inginkan berpisah darinya dengan waktu sesingkat ini. Tangisan mengiringi kepergiannya yang tak mungkin akan kembali.

Ka Tiar, begitulah Ayska akrab memanggilnya. Karena memang ka Tiar lebih dewasa darinya. Begitu merasa kehilangan dirinya. Tangisannya pecah seketika begitu mendapati ibu pondok mengijinkannya untuk pulang, tinggalkan pesantren. Ayska terlihat berhenti menulis sejenak, kembali Ayska menerawang jauh ke alam kahyangan. Ah, maksudnya ke alam ingatan masa silam. Masa dimana dia mengenal ka Tiar.

Sebuah pertemuan sederhana di bus, sama-sama ingin ke pesantren saat itu. Perkenalannya terjadi saat bus yang mereka tumpangi mogok. Ntah sebab jalanan yang terlalu menanjak, bus yang sudah tua, kelebihan beban, atau bahkan ketiga-tiganya. Yang jelas, Ayska tak pikirkan itu. Yang Ayska pikirkan adalah bagaimana dirinya dan tiga orang yang mengantarkannya bisa sampai pesantren tepat waktu, alias tidak terlambat. Sebab hari itu ada pengajian dalam rangka penyambutan santri baru, setidaknya itu istilah Ayska saja. Sebab Ayska juga tidak terlalu paham pengajian hari itu dalam rangka apa. Yang Ayska tahu, begitu pengajian selesai, para santri sudah mulai tinggal di pesantren dan para wali santri kembali pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.

Kembali pada pertemuan Ayska dan ka Tiar. Begitu supir dan kenet menghimbau kepada semua penumpang untuk segera turun dari bis, saat itulah kisah mereka dimulai. Sebatas melihat dari penampilannya, ntah mengapa Ayska rasa kemungkinan seseorang yang Ayska lihat juga melakukan perjalanan ke pesantren. Dan ntah mengapa juga, Ayska dengan penuh percaya diri mengajak seseorang itu bicara. Ya, terjadilah percakapan diantara mereka.

"Assalamu'alaikum," salam Ayska mengawali percakapan mereka.

"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang itu.

"Maaf, kaka mau ke pesantren juga? Pesantren Al Hikmah?" Super Pe De Ayska saat itu. Asal tebak saja. Ayska berpikir siapa tahu tembakannya benar. Kalaupun salah, tak mengapa. Setidaknya bisa menjadi bagian dari cerita perjalanannya.

Tepat sasaran. Setidaknya Ayska tidak merasa malu sebab tebak asalnya. Dari situlah percakapan berlanjut. Hingga lahirlah sejarah pertemanan diantara mereka. Ya, meski diakui hal itu tiada lama. Empat hari di pesantren, waktu yang cukup singkat.

Ayska teringat saat dirinya harus antri kamar mandi, antri ambil air wudhu, antri cuci baju, antri makan juga antrian lainnya. Belum lagi dirinya yang terbilang susah mencari tempat untuk istirahat, masih banyak lagi yang bilamana ia tuliskan, tak akan mampu ia selesaikan meski ia kerjakan seharian. Terlebih bila ia tuliskan, alasan tentang dirinya memutuskan tinggalkan pesantren, tidak akan pernah ia cantumkan. Hanya bikin penasaran pembaca saja, bukan? Penasaran tanpa pernah mereka temukan jawaban. Kasihan nian..., Ayska kembali tersenyum.

Kalau tidak tersenyum, maka Ayska hanya termenung sedih. Memangnya Ayska harus apa? Hanya ada dua rasa disini. Dua rasa saat Ayska mengingati.

Pada akhirnya keputusan benar-benar jatuh untuk pulang. Setibanya ia di rumah, ntah mengapa ia merasa ibunya begitu senang mendapati dirinya. Ntah sebatas perasaan, ataukah kenyataan. Ayska tidak peduli lagi. Bahkan lepas satu hari kepulangan, ibu mengajaknya keliling kota, Ayska disuruhnya untuk memilih sekolahan pilihan Ayska sendiri. Untuk apa? Bahkan Ayska rasa percuma. Toh pendaftaran sudah ditutup semua. Sekolah sudah masuk hari pertama atau ntah hari keberapa.

Ayska bertanya, ntah pada siapa. Jikalah memang ibu membebaskan ia untuk memilih sekolah, kenapa tidak sedari awal saja? Sedari awal masa pendaftaran masih dibuka? Lantas apa maksudnya? Oh, bahkan Ayska tidak percaya. Ayska coba tanyakan pada saudara yang berprofesi sebagai pengajar. Ayska mendapat jawab, jikalah memang ingin masuk disekolah pilihannya, harus menunggu satu tahun lagi. Dan saudara menyarankan satu tahun ini Ayska manfaatkan waktu untuk kursus atau yang lain.

Satu tahun? Oh, bahkan Ayska tidak percaya itu. Satu tahun untuk menunggu pendaftaran sekolah dibuka, Ayska rasa bukanlah waktu yang singkat. Terlebih jika mengikuti kursus... kursus apa yang ia ikuti jika biaya saja ia tidak punya. Haruskah ia menjual ginjalnya? Oh, Ayska, sadarlah... pulanglah dari dunia hayalmu. Ini bukan dunia sandiwara yang bisa kau perankan tanpa resiko berarti. Ayska masih terbilang cukup waras. Ayska hanya sedikit mendramatisir. Sebatas menghibur kegetiran hati yang ia jalani.

Lalu apa? Ayska harus meminta biaya kursus pada ibunya? Yang benar saja? Bukankah biaya sekolah di sekolah pilihan ibunya ia seperti mengemis? Itu saja belum tentu ibu kasih, bukan? Sementara ini untuk kursus yang menjadi pilihannya, oh, rasanya sangat mustahil.

Sesaat Ayska lupakan kegetiran hati, ia kembali menyelami memory, mencari sesuatu yang bisa menghibur hatinya. Ayska mendadak terkikik geli mendengar pernyataan ustadznya begitu mendapati dirinya kembali. Pernyataan? Ntah pernyataan ntah pertanyaan, Ayska hanya tidak menyangka dengan yang ustadz katakan. Tetapi Ayska paham, mungkin itu hanya candaan yang ustadz berikan.

"Ko balik pulang dari pesantren? Kenapa? Apa karena ada ikhwan yang suka terus kirim surat?"

Saat itu Ayska tidak bisa menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum-senyum mengelak. Oh, rasanya sulit dipercaya.

Pilihan kembali jatuh pada sekolah impian ibunya. Kembali ia terpaksa terima. Ayska hanya ingin lulus bareng bersama teman-teman seangkatannya dulu. Ayska tidak ingin jika sekolahnya harus ditunda, tahun depan tidak ada lagi kesempatan. Belum tentu ibunya mengijinkan. Itu saja alasannya dan tidak lebih. Sebab, Ayska belajar dari yang sudah-sudah tentang sikap ibunya.

Semester pertama kelas satu SMK, Alhamdulillah ia berhasil meraih juara kedua. selebihnya kembali seperti di masa SD, hanya bisa meraih 10 besar. Berat perjalanan tidak jauh beda dengan masa MTsnya. Hanya saja semakin kesini arah hidupnya semakin tertata. Ayska sama sekali tidak peduli ibu dan kakaknya berbuat apa. Yang ia yakini, bahagia ada di hatinya. Itu saja.

Tidak sampai disitu. Dulu Ayska bagai pengemis di keluarganya sendiri, sekarang, seolah dia dijadikan mesin pencetak uang. Ah, tapi sudahlah. Ayska sudah lelah. Dia tak lagi berminat menyelesaikan tulisannya. Dia hanya berharap, suatu saat nanti ia mendapatkan haknya untuk bahagia dan mendapatkan keadilan yang nyata. Dia hanya berdoa, semoga Allah mengampuninya. Memberikan kekuatan untuknya terus bertahan dalam perjalanan. Karena Ayska yakin, setiap yang Ayska dapati adalah bagian dari ujian hidupnya. Ayska hanya coba tuk bisa maafkan dan tetap berbuat baik pada mereka.

Ayska hanya ingin benar-benar bisa berdamai dengan keadaan. Sebab akan percuma jika hanya benci, benci, benci yang menghuni hati. Terlebih jika dendam yang bersemayam. Ntah sampai kapan, Ayska akan memilih untuk diam. Mungkin dengan diam akan lebih menyelamatkan hati dan lisan.

Selesai. Kini Ayska menghirup napas lega. Ayska sudah menutup tulisannya dengan ucapan terimakasih. Ia bersyukur pada Allah yang telah memberikan ujian dengan sikap ibu dan kakaknya. Itu pertanda, Allah sayang padanya, bukan? Ayska juga berterimakasih pada teman-teman yang telah memberikan nasehat-nasehat indahnya. Semoga kebaikan apa yang kita lakukan dan berikan, bisa menjadi amal yang diterima. Allah meridhai setiap langkah hidup kita, aamiin...

Terimakasih untuk kalian yang setia menyimak kisah singkat ini sedari awal.
Sekian...

Nadilla Afrina

2 komentar:

  1. aku bacanya belang bentomg deh

    BalasHapus
  2. Oio Asyka ya... Jdi mmbyangkan penulisnya dari sesosok Asyka.. Hmn...

    Salut sma Asyka, bisa tersenyum dgn berbagai persoalan hidup...

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...