Jumat, 22 April 2016

Cerita Faisal

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Meja belajarnya kini sudah kembali rapi setelah sebelumnya nampak berantakan oleh diktat-diktat kuliahnya. Laptop yang tadinya menyala dan berada di lantai sekarang sudah berada ditempatnya. Sudah waktunya Faisal harus istirahat. Faisal tak ada minat untuk sekedar melihat ponselnya yang sedari tadi menimbulkan bunyi pertanda ada pesan baru diterima. Sebab Faisal tahu, pesan yang sedari tadi masuk hanya notificitation pesan dari grup whatsapp yang ia ikuti. Dan kalaupun ada pesan penting dari temannya yang lama tidak ia balas, teman-teman biasa akan meneleponnya.

Ya, Faisal memang sengaja mengikuti beberapa grup di whatsapp. Tetapi ada diantara grup yang ia ikuti, Faisal mungkin termasuk silent reader seperti temannya satu grup itu bilang. Bukan tersebab dia tidak menghargai grup yang ia ikuti, tetapi mungkin sudah menjadi pilihannya di grup itu. Bagaimana tidak, sedari awal ia mengikuti grup itu dia sudah mencoba untuk menjadi pembaca aktif. Tetapi agaknya Faisal tetap menjadi asing. Hingga semakin kesini Faisal semakin merasa nyaman dengan keterasingan itu.

Silent reader, sebuah gelar yang diberikan oleh beberapa teman disana hanya membuatnya tertawa saja. Ia sama sekali tidak terganggu dengan gelar itu dan sama sekali tidak marah atau tiba-tiba menghilang saat dari temannya berkomentar, 'tema kali ini bikin silent reader muncul' atau komentar senada lainnya ketika dirinya atau teman-teman yang mendapat julukan sama turut hadir meramaikan grup. Justru komentar seperti itu membuatnya tertawa. Secara tidak langsung mereka merindukan para silent reader itu untuk ngobrol bersama. Sayangnya, sebatas menurut pengalaman yang Faisal punya, saat dimana para silent reader yang dirindukan itu muncul acap kali diabaikan oleh teman-teman. Sehingga mungkin beberapa dari silent reader berpikir, 'muncul engga muncul di grup sama saja. Mending jadi silent reader sekalian.'

Silent reader, terkadang Faisal juga penasaran, sebetulnya apa sih yang membuat teman-teman menjadi silent reader? Dan kenapa yang leave dari grup umumnya mereka yang mendapat julukan silent reader itu? Setelah melalui penelitian sederhananya, Faisal mendapat jawaban kalau ternyata silent reader itu dilatarbelakangi oleh beberapa persoalan. Inti pada umumnya bukan bermaksud mereka tidak menghargai grup yang mereka ikuti dan bukan bermaksud mereka tidak turut berkontribusi memberikan pendapat atau apalah itu namanya. Apalagi tujuan masuk gabung di grup hanya ingin menjadi silent reader. Tidak, sama sekali bukan itu. Sebenarnya hampir sama, salah satu alasan kita gabung disuatu grup supaya bisa menambah relasi, teman, bisa akrab dengan mereka atau apalah istilahnya. Meski terkadang ada tujuan yang tidak terpenuhi. Salah satunya menjadi asing itu tadi, pertanda bisa dekat dengan mereka tidak terealisasi, bukan? Tetapi apapun itu, tidak setiap alasan mereka bisa disalahkan. Ya, itu hanya pendapat Faisal saja.

Faisal sendiri sebetulnya tidak bermaksud menjadi silent reader. Tetapi beberapa alasan membuatnya harus diam sehingga membuat dirinya selalu tertawa tiap kali gelar itu ia baca. Mau bagaimana, tidak setiap waktu ia bisa berada di depan layar gadgednya lalu pantengin terus chat grup, kan? Apalagi terkadang Faisal sama sekali tidak mengerti tentang obrolan chat yang sedang dibahas, tidak tertarik ikuti obrolan, dan grup yang ia ikuti pun tidak hanya satu dua grup. Belum lagi dia yang terbilang jarang tengok grup sebab kesibukan yang terkadang tak terbendung. Mau bagaimana lagi selain meminta maaf pada teman-teman dengan berkata, 'maafkan jika kurang aktif di grup ini' atau kalimat seirama lainnya. Lupakan itu, Faisal sudah lelah. Bahkan ia hampir lupa dengan apa yang ingin ia lakukan sebab teringat tentang silent reader. 

Bunda masuk ke dalam kamarnya saat ia berniat mengambil air wudhu sebelum tidur, membuat Faisal mengurungkan niatnya. Faisal kembali duduk. Bunda menghampiri Faisal dan mengambil duduk di sofa samping meja belajarnya. Kini Bunda dan Faisal duduk hampir saling berhadapan. Sudah bisa Faisal tebak pasti bunda akan menanyakan hal sama seperti sebelum-sebelumnya. Meski dirinya merasa bosan, tetapi bundanya tidak akan pernah bosan sampai dia mengiyakan keinginan bunda itu.

"Bunda belum tidur?" Faisal bertanya tentang hal yang sudah ia ketahui. Kalaulah bunda sudah tidur lalu siapa yang duduk di sofa samping meja belajarnya?

"Bunda jangan khawatir, Faisal pasti juga akan menikah. Tapi bukan dalam waktu dekat ini, Bunda..." cepat Faisal sebelum bunda menanyainya.

Bunda hanya tersenyum. Sebetulnya bunda sedang tidak ingin bicarakan itu. Tetapi ada hal lain yang ingin bunda katakan. Tetapi bunda paham, Faisal mungkin sudah hafal setiap bunda menemui Faisal. Bunda berpikir, mungkin caranya salah. Biar bagaimana pernikahan itu tidak bisa diundurkan waktunya atau dimajukan sesaat saja. Semua sudah ditentukan. Kapan seorang hamba akan menikah. Dan bunda mengambil kesimpulan bahwa mungkin memang Faisal belum saatnya untuk menikah dalam waktu dekat ini. Bunda juga merasa, sesekali menanyai kapan Faisal menikah itu boleh, akan tetapi jika terlalu sering pun mendesak seperti yang sudah bunda lakukan, bunda rasa itu juga kurang tepat. Terlebih bunda merasa Faisal tidak sedang menunda pernikahannya, akan tetapi Faisal tengah mengusahakannya untuk bisa segera menikah.

"Oya Bunda, dibalik permintaan Bunda... Bunda tahu, ada hal luar biasa di sana. Bunda  masih ingat dengan muslimah berjilbab merah hati yang Faisal ceritakan waktu lalu?" Faisal mulai bercerita pada bunda.

Kini bunda sudah siap menempatkan diri sebagai pendengar setia cerita dari putranya. Bunda menjadi teringat dengan cerita putranya waktu lalu tentang seorang muslimah berjilbab merah hati itu. Betapa muslimah itu mampu menguras perhatian Faisal hanya untuk muslimah itu seorang. Putranya itu begitu antusias seiring cerita-cerita itu mengalir. Sampai-sampai Faisal hampir kena marah ayahnya sebab terlalu pikirkan perempuan. Kali pertamanya bunda temui Faisal begitu antusias bercerita tentang suatu hal setelah bertahun-tahun lamanya tidak bunda dapati moment seperti ini. Ah, maksudnya waktu lalu. Kini bunda dapati kembali pribadi Faisal yang telah lama menghilang.

"Tadi pagi saat Faisal berangkat kuliah naik bus umum, ada dua kejutan di dalam bus yang Faisal dapati di sana. Dan muslimah berjilbab merah hati itulah satu dari dua kejutan yang ada. Dan yang mengejutkan lagi, gadis itu ternyata mahasiswi baru di kelas Faisal," Faisal tertawa kecil menceritakan itu pada bunda. Matanya menatap langit-langit. 

Bunda paham putranya sedang jatuh hati pada seorang gadis. Dan saat ini putranya sedang berusaha keras membatasi rasa. Biar bagaimana gadis itu bukanlah siapa-siapanya. Dan putranya paham, bahwa cinta ada aturannya.

"Bunda, tiada yang salah dengan cinta, kan? Yang menentukan salah tidaknya adalah sikap kita..."

Bunda tersenyum mendengar penuturan putranya. Bunda mengusap lembut kepala Faisal.

"Siapa nama mahasiswi baru itu, Sayang?" tanya bunda menggenggam tangan Faisal.

Faisal menggulirkan pandangan ke arah bunda, lalu tersenyum seraya menjawab, "Mahasiswi baru itu bernama Naisya."

"Pasti orangnya manis, ya?" tebak bunda tersenyum. Bunda melihat Faisal hanya tersenyum dengan kepala tertunduk.

"Sudah malam, Nak. Cepat ambil air wudhu lalu pergi tidur. Besok kau harus kuliah..." lanjut bunda melepas genggaman tangannya lalu mengusap pelan bahu Faisal.

Faisal hanya mengangguk. Bunda melangkah meninggalkan Faisal. Faisal sendiri menatap kepergian bunda dari kamarnya. Setelah bunda menutup kembali pintu kamarnya, Faisal mulai beranjak mengambil air wudhu. Malam semakin larut. Faisal sudah siap berlayar mengarungi lautan mimpi yang akan membawanya berlabuh untuk menyambut kejutan lain esok hari.

~~~~~~~~~~
Lanjut ke episode 6.

Ainayya Ayska

6 komentar:

  1. Apa masih berlanjut ceritanya? :)

    BalasHapus
  2. Bunda ..dia lah tempat kita curhat..

    BalasHapus
  3. Cie ... Si faisal seorg silent reader ya... Hmn...

    BalasHapus
  4. Lanjutkan ... layak di Novelkan ini Nadila

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Alhamdulillah... makasih, moga kedepannya lebih baik... :)

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...