Selasa, 19 April 2016

Dua Kejutan di Dalam Bus

Faisal terlihat buru-buru. Ia sudah mengemasi buku-bukunya ke dalam tas. Padahal masih pukul delapan pagi. Sementara jam mata kuliah pertama masih dimulai jam sembilan nanti. Terlebih perjalanan dari rumah ke kampusnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 sampai 20 menit. Tidak bisakah Faisal lebih santai sedikit? Tapi biarlah. Sudah menjadi kebiasaannya datang tepat waktu atau menunggu jamnya dimulai di kampus. Mungkin ia ada urusan lain.

Pagi ini ia berencana akan naik bus umum ke kampusnya. Tidak ingin mengemudikan mobil pribadi atau mengendarai sepeda motor kesayangannya. Ia ingin sesekali berganti suasana. Barangkali ada hal menarik ia jumpai di sana. Setelah pamitan pada sang bunda, ia keluar rumah dan menunggu bus di depan rumahnya. Karena bus selalu melintas di depan sana. Rumahnya memang terbilang cukup strategis. Jalan raya depan rumahnya memang selalu dilalui oleh transportasi umum. Tidak perlu berjalan ke halte bus menunggu bus tujuannya.

Tak berapa lama ia menunggu bus tujuannya, kini kendaraan beroda empat yang bisa menampung banyak penumpang itu datang juga. Bus itu berhenti tepat di depannya. Jelas saja, sopir sudah paham dengan isyarat yang diberikan penumpangnya. Faisal hanya melambaikan tangan ketika bus sudah terlihat semakin mendekat. Kini Faisal berangkat bersama bus yang ditumpanginya. Meski bukan hal baru untuknya naik bus, setidaknya itu sedikit mengurangi kegalauan hatinya.

Busnya belum terlalu ramai penumpang. Meskipun begitu tempat duduk hampir terisi penuh. Bersyukur ia masih mendapat kursi penumpang. Ia mengambil duduk di kursi baris kedua sebelah kiri. Disamping kirinya ada seorang bapak-bapak berkaca mata. Fokus pada smartphonenya. Ntah apa yang disibukkan disana. Penampilannya cukup rapi. Sepertinya bapak itu seorang pengajar. Setidaknya sebatas yang ia lihat saja.

Kursi depannya masih kosong, masih belum berpenghuni. Mungkin sebentar lagi akan terisi. Faisal mengamati pemandangan luar. Pagi ini belum ia dapati hal menarik. Hampir setiap penumpang sibuk dengan gadgetnya. Hanya satu dua orang yang terlihat mengobrol juga membaca buku. Ada juga yang hanya diam menikmati pemandangan luar. Menikmati saat-saat santai tanpa harus fokus mengemudi. Menikmati saat-saat satu bus bersama orang dari berbagai kalangan. Cukup menyenangkan. Meski terkadang tak ia temukan hal menarik, setidaknya ada nuansa berbeda yang belum tentu ia dapati saat mengemudi mobil atau mengendarai sepeda motor sendiri.

Terlihat di halte bus depan sana para calon penumpang sudah siap menyambut bus tujuan mereka. Tentu saja sama dengan bus yang ditumpanginya. Mau bus yang mana lagi? Ia hanya melihat satu bus ini yang terlihat akan berhenti. Di belakang bus ini belum terlihat bus lainnya sama sekali. Calon penumpangnya tidak banyak, tetapi cukup untuk mengisi beberapa kursi yang nampak kosong. Satu diantara mereka adalah seorang nenek. Sosok wanita luar biasa. Di usianya yang sudah senja nenek itu masih terlihat aktif mengajar. Darimana Faisal tahu? Dilihat dari seragam guru Smp yang dikenakan nenek tersebut jelas saja Faisal tahu.

Kini bus berhenti tepat di halte bus. Kernet segera turun mengatur para penumpang supaya tidak berdesak-desakan saat masuk. Ada yang menarik di sana, kernet itu mendahulukan nenek yang Faisal lihat tadi. MasyaAllah, pemandangan yang langka. Yang sering Faisal temui, kernet hanya sibuk mencari penumpang saat bus berhenti ditempat pemberhentian tanpa memperhatikan disiplinnya penumpang. Tidak peduli apakah berdesakan atau beraturan. Tapi ini, kernet itu begitu peduli dan begitu menghormati. MasyaAllah, dalam hati Faisal berulang-ulang menyebut nama Allah.

Begitu para penumpang sudah naik semua, bus itu kembali berjalan. Nenek yang tadi sudah duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan Faisal. Mengambil duduk dekat jendela. Kernet juga sudah mulai menarik ongkos penumpang.

"Hei, tidak bisakah kamu merokok nanti. Kasihan penumpangku yang tidak kuat dengan bau asap rokokmu," tegur kernet pada seseorang di belakang, "nona, silahkan pindah ke depan saja, masih kosong satu kursinya."

Teguran kernet tersebut membuat beberapa penumpang termasuk Faisal menoleh ke arah kernet dan penumpang yang kena tegur. Seorang gadis yang dipanggil nona oleh kernet itu menganggukkan kepala. Sayangnya Faisal tidak begitu jelas melihat wajah gadis tersebut karena terhalang oleh badan kernet yang berdiri membelakangi Faisal. Yang Faisal lihat gadis itu bangkit hendak pindah tempat duduk seiring Faisal mengembalikan perhatiannya ke depan.

Gadis itu berjalan ke depan menuju kursi kosong. Lalu mengambil duduk tepat di kursi kosong depan Faisal. Faisal sedikit terkejut melihat gadis itu. Bukankah gadis itu adalah Muslimah Berjilbab Merah Hati yang waktu lalu sempat mencuri perhatiannya? MasyaAllah. Sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, hatinya sedikit berdebar. Tidak, Faisal segera beristighfar. Faisal berusaha menjaga hati, ia tidak ingin sampai terjebak rasa.

"Kamu sakit, Nak?" Samar-samar Faisal dengar nenek yang duduk di samping gadis itu menanyai gadis tersebut. 

"Tidak, Nek! Hanya sedikit pusing saja. Mungkin karena bau asap rokok..."

Faisal mendengar jawaban gadis itu. Ia berani pastikan kalau gadis itu tersenyum manis menjawabnya. Santun suaranya. Terjadilah percakapan diantara mereka. Terdengar asyik di telinga. Seperti seorang cucu yang bercerita kepada neneknya.

"Maaf, Nek! Apa benar bus ini yang akan mengantar ke kampus Al Hikmah?"

Mendengar kampusnya disebut, Faisal menajamkan pendengarannya.

"Iya, bus ini akan mengantar ke sana. Adiknya baru pertama kali naik bus ke kampus?" Nenek itu kembali bertanya.

Setelah itu tidak Faisal dengar Jawaban dari gadis tersebut. Mungkin jawabannya hanya dengan anggukan dan senyumannya itu. Tidak berapa lama bus itu berhenti di depan kampusnya. Akhirnya sampai juga. Faisal berdiri bersamaan dengan gadis itu pun saat ingin turun. Lalu Faisal memberi isyarat, mempersilahkan gadis itu turun lebih dulu.

"Terimakasih..." ucap gadis itu tersenyum ramah.

Faisal balas tersenyum sambil menganggukkan kepala. Luar biasa, gadis itu tersenyum padanya. Betul-betul pagi yang indah. Dua kejutan di dalam bus tersaji pagi ini. Faisal kembali tersenyum. Setelah beberapa waktu, Allah pertemukan dia dengan gadis yang membuatnya penasaran itu.


~~~~~~~~~~
Lanjut ke episode 3.

Ainayya Ayska 

6 komentar:

  1. Jadi teringat saat saya kena tegur, merokok tidak pada tempat yang tepat ...
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah wah wah... hehehe kebetulan sekali, ya...

      Hapus
  2. Takdir ada aja jalannya untuk bertemu.. Hmn...

    BalasHapus
  3. wah.. wah.. wah... kira2 ceritanaya bakalan dlanjutin nggak mbak? ^^
    semoga faisal tetap istiqamah menjaga perasaan ^^ hehe

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...