Selasa, 26 April 2016

Kenangan Lalu

Terima kasih kuucap, untukmu seorang sahabat. Darimu aku bisa belajar tentang keikhlasan.

Bukan tentang pelajaran yang bisa kupetik dari kisah perjalanan hidupmu, melainkan tentang kisah perjalanan pertemanan. Pertemanan antara aku dan dirimu.

Kau bingung membaca tulisanku? Mengapa diawal aku memanggilmu dengan sahabat tetapi menyebut perjalanan kita dengan pertemanan? Bukankah seharusnya persahabatan?

Singkat kata, rasanya sama saja. Aku tak tahu harus memanggilmu dengan apa, adakah sahabat ..., atau teman. Ah, rasanya masih sama saja. Sahabat dan teman menurutku dua kata berbeda satu makna. Bukan, begitu?

Well, seperti yang kukatakan diawal bahwa aku belajar tentang keikhlasan. Keikhlasan dalam sebuah pertemanan.

Ikhlas untuk melepaskan kepergian seorang yang kuangkap teman. Kuharap kau tidak akan protes mengapa aku menganggapmu sebagai temanku.

Memangnya aku harus menganggapmu apa? Sebatas itu yang kumampu dan tidak lebih daripada itu.

Selama berteman, bertahun-tahun lamanya. Jika dibilangkan dalam tulisan angka ... mungkin hampir enam tahun kita berteman.

Baik-baik saja.

Meski sempat terjadi pertengkaran kecil antara aku dan dirimu. Kau akhirnya meminta maaf padaku, mungkin karena kau menyadari bahwa kesalahan ada di pihakmu. 

Aku masih ingat betul apa kesalahanmu waktu itu. Aku juga masih ingat betul bagaimana kau meminta maaf padaku.

Temanmu datang bersama pesannya, menyampaikan permintaan maafmu itu. Dari rangkaian ceritanya seolah tergambar bahwa kau benar-benar menyesali kesalahanmu.

Tetapi aku masih belum menerimanya. Kukirimkan pesan untuk disampaikan kepadamu, bahwa jika kau benar berniat meminta maaf padaku sampaikan langsung tanpa melalui pos perantara temanmu itu.

Kau menerima tantanganku, dengan segenap kesadaranmu ... kau sampaikan pesan tentang permintaan maaf itu. Aku senang, akhirnya pertengkaran kecil kita tak berlangsung lama.

Setelah pertengkaran kecil itu, Alhamdulillah tidak ada pertengkaran lagi di antara kita. Aku senang mendapatinya, hubungan pertemanan kita dalam keadaan baik-baik saja.

Menjelang enam tahun pertemanan kita, tidak kusangka pertengkaran itu kembali menyapa. Kali ini ada yang berbeda.

Jika dulu pertengkaran kecil kita hanya berlangsung beberapa waktu, tetapi tidak untuk saat itu, saat pertengkaran kedua menyapa. Bahwa ternyata pertengkaran kita berlangsung lama. Kita sama-sama mempertahankan ego. Kita tidak ada lagi saling tegur.

Diam, seolah ada jarak tak kasat mata diantara kita. Seakan ada dinding pembatas yang membuat kita tak bisa saling menyapa. 

Hingga aku mengalah, meski aku tak tahu siapa yang salah. Aku memilih untuk meminta maaf lebih dulu padamu. Kau sudah melupakan kejadian itu sebagai balasmu.

Saat itu, tepat dimana aku meminta maaf padamu kau juga kabarkan itu padaku, bahwa kau sudah melihat calonmu dan beberapa bulan lagi akan berlangsung pesta pernikahanmu. Perasaanku antara sedih dan haru. Tetapi apalah hakku dan siapalah aku, aku hanyalah temanmu. Hanya itu.

Setelah beberapa waktu kau mengatakan padaku bahwa kau sedikit menyesali keputusanmu, tetapi aku coba yakinkanmu mungkin memang dialah yang sudah ditakdirkan untukmu. Dalam hati aku sempat melanjutkan ucapanku, 'dan bukannya aku.'

Ah, tidak, aku hanya sedikit mendramatisir ceritaku.

Jika kau membaca tulisanku, jangan tanyakan padaku sebab aku sudah menjelaskannya padamu. Kau pasti memahamiku. Kau tahu betul bagaimana aku. Jadi tidak mungkin kau ragu.

Tetapi mungkin aku gagal meyakinkanmu hingga hampir saja kau merubah keputusanmu. Bagaimana bisa kau lakukan itu? Adakah kau sudah kehilangan akalmu? Tapi sudahlah. Bahkan aku percaya kau akan tetap berada dalam keputusan itu. Aku tahu betul bagaimana dirimu. Kau, tidak semudah itu merubah keputusanmu.

Hingga hari itu tiba, disaat aku harus melepaskanmu sebagai temanku. Perjalanan kita dicukupkan, tidak ada lagi pertemanan pun perjumpaan. Kalimat terakhir kala itu, kalimat yang kukatakan padamu, masih kuingat selalu.

"Bawalah istrimu saat kau berkunjung ke rumahku. Aku ingin mengenalnya, sebatas itu. Setidaknya aku bisa tahu seperti apa istri temanku, bukan?"

Meski sekarang tidak ada lagi kisah perjalanan itu, meski aku sudah melepaskan kepergian seorang teman, tetapi bukan berarti aku menutup pintu rumahku untuk teman sepertimu.

Kau tahu bahwa aku tidak sedrama itu. Sebab aku masih menganggap kau temanku. Tetapi sudahlah, ini hanya kenangan lalu. Saat indah berteman denganmu. Itu dulu. Sekarang kau sudah menikmati duniamu bersama keluarga kecilmu, sementara aku yang masih setia dalam penantianku. Menanti ia yang akan Allah takdirkan untukku.

Nadilla Afrina 

5 komentar:

  1. Menyentuh ...
    Alurnya rapi sekali mbk Nadila.
    True story kah?

    BalasHapus
  2. Baper..Nadilla

    Bagus jalan ceritanya..mudah dipahami

    BalasHapus
  3. Keren Mba Nadilla ... Buat baper yg baca.. Hee..

    BalasHapus
  4. @all
    Hehehe... makasi temen-temen, moga lebih baik ke depan...

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...