Senin, 18 April 2016

Muslimah Berjilbab Merah Hati

Hening. Suasana sunyi menerpa hatinya sesaat. Keramaian jalanan juga guyonan teman-teman tidak diindahkan. Makanannya bahkan tidak ia habiskan. Dihabiskan? Malahan belum ia sentuh sama sekali.

Ia baru saja duduk setelah terjebak oleh antrian panjang ambil makan di kantin luar kampus. Hampir setengah jam dan itu cukup, melelahkan. Entah mengapa hari ini ia lebih memilih makan di sana saat jam makan siang seperti ini.

Bukankah kalau jam makan siang seperti ini lebih enak makan di kantin dalam kampus? Kantin yang meski selalu penuh sesak oleh pelanggan itu setidaknya tidak membuatnya mengantri lama. Sebab bertipe prasmanan. Bayar makanan bisa dimuka, bisa belakangan saat mereka selesai menghabiskan makanan mereka.

Kesunyian hatinya bermula  saat ruang penglihatannya menangkap sosok seseorang disana.

Seorang gadis yang terlihat anggun dengan balutan jilbab lebar berwarna marun. Senada dengan kerudung besar yang ia kenakan. Sosok muslimah yang langsung mengunci pandangannya sesaat. Begitu mempesona di matanya.

Senyuman ramah nan tulus terpancar jelas meski jauh jarak tak bisa mendekat. Tersenyum manis pada setiap teman yang ia kenali pun pada mereka yang tak ia kenali sama sekali. Semakin menambah ayu wajahnya. Bak bidadari yang datang tiba-tiba menawan hatinya.

Seorang muslimah yang kali pertama mengunci pandangannya, meski tak jarang ia temui sosok berjilbab sepertinya —muslimah itu. Pribadi luar biasa baginya, seakan belum pernah ia temukan sebelumnya. Sepertinya bukan berasal dari kampusnya. Bukan salah satu mahasiswi di sana sebab baru kali pertama ia mendapatinya. Ntahlah, yang ia tahu begitu.

"Ibu, saya ambil brownies sama kue lumpur. Masing-masing dua potong. Berapa semuanya?"

Seorang putri yang belum ia tahu siapa namanya sedang berada di kasir untuk membayar brownies dan kue lumpur yang ia ambil.

Mungkin ia sedang tak ingin mengantri. Karena di kantin ini untuk jenis makanan ringan memang prasmanan. Pembeli atau pelanggan bebas mengambil sendiri makanan ringan yang diinginkan lalu tinggal ke kasir melakukan pembayaran. Cukup menyenangkan, bukan? Setidaknya muslimah tadi tidak terjebak dalam antrian panjang makan siang.

Faisal. Begitulah teman-teman memanggilnya. Masih terus memperhatikan gadis itu. Muslimah yang benar-benar mampu mengunci pandangan Faisal dalam waktu yang cukup lama. Seolah kunci untuk membuka kesadarannya kembali ke alam nyata hilang ntah kemana. Adakah harus muslimah itu yang akan mengembalikan kesadarannya? Oh, itu terlalu berlebihan. Tidak begitu, kawan. Bahkan temannya masih mampu menyadarkannya.

"Faisal," panggil salah seorang teman sambil menyikut lengannya, "kau sedang apa? Cepat habiskan makananmu atau keburu dingin."

Merasa ada yang menyikut lengan dan mengajaknya bicara, Faisal segera menguasai diri. Jangan sampai teman-teman mencurigai. Ia tidak ingin sikapnya hanya mendatangkan tanya diantara mereka. Faisal alihkan pandangan, lalu tersenyum kecil pada temannya.

"Apa yang kau pikiran teman? Bolehkah kutebak?"

Merasa gawat. Tingkat kepekaan temannya yang satu ini benar-benar tajam. Faisal berpikir akan lebih baik jika si teman itu tidak berkata macam-macam.

Faisal mulai menikmati makanannya. Suapan demi suapan. Tatapan benar ke makanan, akan tetapi pikirannya jauh terbang. Membayangkan andai muslimah tadi adalah jodoh yang telah dituliskan. Ibarat mimpi kejatuhan bintang. Indah nian.

"Astaghfirullah...," Faisal beristighfar dalam hati berulang. Apa yang telah ia pikirkan? Sesegera ia usir bayang-bayang yang tidak semestinya bersemayam. Ia harus segera pulang. Pulang menuju kesadaran.

Makanannya kini telah habis. Sekarang ia menjadi pendengar setia obrolan teman-temannya.

Faisal bosan. Lagi-lagi berbicara tentang perempuan.

Tetapi tunggu, kali ini ada yang berbeda. Mereka sedang membicarakan sosok muslimah yang menjadi perhatiannya sejak tadi.

Mendengar cerita itu, membuat Faisal kembali mencari gadis mempesona yang mencuri perhatiannya tadi.

Nahas. Kali ini tidak ia temui. Mungkin muslimah tadi sudah pergi. Faisal masih belum beruntung.

Seorang muslimah yang mungkin akan membuatnya rindu untuk kembali bertemu. Faisal tersenyum kecil. Rindu bertemu? Bahkan pertemuan pertama belum ia dapati. Baru sepintas menjadi pemerhati, muslimah berjilbab merah hati.

Lanjut ke Episode 2.

Ainayya Ayska

16 komentar:

  1. Mantap..tulisannya bagus mba.

    BalasHapus
  2. Mantap mba. 4 unsurnya lengkap

    BalasHapus
  3. Duhh keren mbak... lolos tnatangan minggu ini. Hehehee

    BalasHapus
  4. Sudah menuntaskan tantangan kerreen

    BalasHapus
  5. Yeaaah...berhasil memenuhi tantangan Minggu ini. Semangaaat...!!!

    BalasHapus
  6. wah keren nih tulisannya
    sudah lolos tantangan minggu ini

    BalasHapus
  7. @all, terimakasih... :) iya nih, Alhamdulillah dah lalui tantangan...

    BalasHapus
  8. Muslimah berjilbab merah hati ... Hmn.. Pengin ketemu Oiii... He...

    Good Job, mission complete

    BalasHapus
  9. Faisalnya tdk ghoddul bashor.. haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihii, tidak begitu juga, ah. Kaka nii hihi

      Hapus
  10. Udah pd ngejawab tantangan ..
    Sy blm apa2

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...