Jumat, 15 April 2016

Obrolan Singkat

"Ukhti, pernah tidak di Php'in?"

Seseorang  yang tiba-tiba duduk disebelahnya memaksa Nadilla mengalihkan perhatiannya. Nadilla menoleh ke samping kanannya.  Irma, teman sebayanya ntah kenapa nampak murung. Bukankah selama beberapa hari ini dia terlihat bersuka ria? Dan mengapa pagi-pagi dia mendatangi Nadilla seraya bertanya tentang Php? Nadilla tidak mengerti.

Ehm, sepertinya akan menjadi perbincangan yang menarik. Beberapa teman Nadilla yang duduk bersamanya sedari tadi meninggalkan kegiatannya masing-masing. Mereka mulai menajamkan pendengarannya. Bersiap menjadi pendengar setia mereka.

Php atau pemberi harapan palsu. Seperti kita tahu adalah suatu fenomena yang tidak lagi langka di kalangan kita, terutama yang dilanda oleh sebuah rasa bernama, cinta. Meski bagi Nadilla di Php'in tak melulunya soal cinta. Akan tetapi Nadilla berani menebak bahwa yang tengah mengganggu temannya itu perihal cinta.

Php, mendengarnya membuat Nadilla menautkan kedua alisnya. Sebelum menjawab pertanyaan Irma, Nadilla ingin memberikan kesempatan untuk teman-temannya membuka suara. Barangkali dari mereka ada yang pernah mengalami serupa Irma. Satu per satu dari mereka yang berjumlah tiga orang mulai angkat bicara. Kalimat demi kalimat mengalir. Nadilla masih setia mendengarkan cerita mereka sambil kembali fokus pada gadgetnya. Ada sesuatu yang Nadilla kerjakan disana.

Tiba-tiba suasana tenang. Tak seheboh beberapa saat yang lalu. Nadilla alihkan perhatian kembali pada teman-teman. Teman-teman memandang ke arahnya. Memandangnya dengan tatapan heran. Seolah-olah mereka melempar tanya, 'tidakkah kau tertarik dengan obrolan kami, nona Nadilla?

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Nadilla polos.

Teman-teman menatapnya bosan. Sesaat Nadilla buka suara, mendengar Nadilla berkata, teman-teman mendengarnya dengan seksama.

"Merasa di Php'in seorang ikhwan. Karena umumnya yang sering merasa menjadi korban Php adalah kaum hawa. Nadilla belum pernah mendengar ikhwan curhat kalau dia di Php'in akhawat. Ehm, mengapa kita sampai merasa di Php'in seorang ikhwan? Sebetulnya, sebabnya ada di kita sendiri, umumnya sih begitu. Ah, setidaknya ini hanya pendapat pribadi. Pendapat tidak selalu sama dengan yang lain, dong...

"Nah loh, ko bisa? Iya, kita sebagai akhawat merasa jadi korban php ikhwan, itu karena kita ada harap sama mereka. Harapan lebih gitu, hingga kita jadi baper lantas salah mengartikan kebaikan-kebaikan mereka.

"Coba saja kalau kita tidak berharap, tidak terlalu ke-ge-er-ran, kita engga baper, kita mungkin tidak akan menyalahartikan setiap kebaikan mereka dan kemungkinan besar kita tidak merasa menjadi korban php si dia. Tidak merasa di Php'in olehnya. Mengharapkan si dia menjadi jodoh kita tidak ada yang salah. Sebagaimana mereka yang mungkin diam-diam juga mengharapkan kita menjadi permaisurinya. Ehm. Tetapi kita juga harus tahu batasannya. Jangan berharap terlalu berlebihan. Sudah tahu kalau berharap pada manusia umumnya berujung kecewa, masih saja... tak sadar juga. Ehm, maaf..."

Nadilla sampaikan apa yang dibenak dengan santai. Mendengar sedikit penjelasan Nadilla tersebut, teman-teman sempat terdiam sesaat. Mungkin coba mencerna kalimat Nadilla.

"Sebelum lanjut pada pembahasan, coba deh, baca dulu tentang... Bangun Cinta," kata Nadila kemudian. Nadilla mengirim pesan yang berisi link tulisannya ke teman-teman.

"Setelah itu baru kita kembali pada pembahasan," lanjut Nadilla.

Nadilla memberikan waktu untuk teman-teman membuka link tersebut lalu membaca apa yang tertulis disana. Sementara Nadilla sendiri kembali pada kegiatannya. Beberapa menit kemudian, teman-teman menghembuskan napas perlahan. Mungkin mereka sudah selesai membacanya.

"Sudah pada baca yang tadi belum? Kalau sudah mari lanjutkan. Kalau belum terserah kalian, disini tidak ada paksaan. Ehm." Nadilla kembali mengambil peran.

"Okey, setelah membaca bangun cinta yang tadi, sekarang apa yang terpikir olehmu, teman? Nadilla tidak tahu pasti, mungkin diantara beberapa ikhwan ada yang sengaja Php'in seseorang. Ntah apa alasan mereka dan ntah apa ciri-cirinya. Akan tetapi balik lagi di awal, semua kembali pada kita. Adakah kita berharap, adakah kita yang baper sendiri pun ke-ge-er-ran itu tadi. Kalau kita mengharapkan si dia, lantas kita serahin rasa pada-Nya, InsyaAllah kita terhindar dari php itu loh. Betul, tak?"

Teman-teman mulai saling lempar pandang seraya tersenyum. Senyuman yang sulit Nadilla artikan. Mereka juga masih setia menunggu kalimat demi kalimat yang akan Nadilla ucapkan.

"Lain halnya jika kita engga berharap sama mereka. Mau dia jungkir balik menebar harapan juga, engga akan ngaruh di kita. Mau dia mendadak pergi bersama akhawat lain juga, apa urusannya dengan kita? Ah, tidak masalah. Betul, tak?"

Teman-teman mengiyakan pendapat Nadilla. Bukan apa, mereka hanya sependapat saja. Pendapat pribadi boleh sama boleh beda. Asal jangan mencela.

"Kalau toh seseorang ikhwan itu benar-benar ingin jadikan kita permaisurinya, ehm, InsyaAllah mereka akan datangi orangtua kita kok. Memintanya dengan baik sesuai yang telah rasulullah contohkan, InsyaAllah."

"Nadilla sendiri pernah merasa di Php'in, engga?" Salah satu dari mereka bertanya.

"Pernah," jawab Nadilla singkat. Nadilla menahan tawa memandangi mereka yang nampak heran. Lalu serentak melempar pandang seakan penuh tanya ke arahnya, 'kapan? Di Php'in ma siapa?'

"Di Php'in soal waktu dan janji suatu urusan..., bukan soal cinta," ujar Nadilla santai.

Untuk teman-teman. Sebelum menyimpulkan bahwa si A, si B, si C, memberikan harapan palsu pada kita, yah, seperti kita rasa... ada baiknya jika kita tilik kembali hati kita. Adakah kita berlebihan dalam berharap sama mereka? Mungkin kita sendiri yang salah mengartikan kebaikan atau perhatian mereka. Bukan apa, supaya kita tidak terjatuh dalam prasangka saja. Kita tahu betul, jodoh sudah diatur. Manakala orang yang kita harap ternyata harus berjodoh dengan yang lain, lantas apa masalahnya? Kita harus terima bahwa si dia bukan jodoh kita, bukan? Lain halnya jika si dia memang benar-benar ada aroma memberikan harapan palsu ke kita, itu sudah lain cerita.

Misal, "sebetulnya ade cinta engga, sih, sama kaka?"

Ehm, bukan apa, itu hanya sebagian contoh kecil saja. Nah,  sebagai seorang muslimah yang tidak ingin diphp'in atau tidak ingin terjebak rasa terlalu dalam, ehm, kita harus berani ambil sikap tegas.

Misal, "kalau kau yakin dengan perasaanmu (ehm) , datanglah ke rumahku dan temui orangtuaku."

Bila memang dia berani, Alhamdulillah. Bila setelah pernyataan kita berikan si dia bersikap plin plan. Mungkin memang dia hanya berniat php saja. Diri kalian sendiri yang tahu, kalian yang merasa apakah si dia php atau tidak yang tadi itu hanya permisalan saja.

"Permisalan atau pengalaman, nona Nadilla?" Goda teman-teman serentak.

Tanpa menjawab, Nadilla kabur setelah menyimpan gadgetnya di dalam tas. Obrolan singkat. Nadilla memejamkan mata, yang tadi ia utarakan bukanlah apa-apa. Hanya menyampaikan opini saja pada teman-teman yang meminta pendapatnya.

Nadilla Afrina

6 komentar:

  1. Mba Nadilla pernah di php-in ?
    Klu aku sih pernh... Ha.. Ha.

    "bangun cinta" sy suka kata2 itu.. Klu "jatuh" pasti sakit deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihii iya, pernah di Php'in. Soal waktu dan janji. Janjian jam sekian si teman ngaret.

      Hapus
  2. php oh php,,jangan mau di php in

    BalasHapus
  3. Hehehe...iya juga sih. Bener itu. Kita aja yang ke GR-an.

    BalasHapus
  4. di php-in gk masalah kalau bisa bijak menyikapi..

    Mari jadi lebih bijak.. hehe 😊

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...