Senin, 25 April 2016

Permintaan Maaf Ayah

"Ayah, sekarang Bunda engga terlalu risaukan Faisal. InsyaAllah Faisal sudah tahu akhawat yang ingin dia khitbah nantinya..." ujar bunda tersenyum pada ayah.

Kalimat bunda menghentikan suapan kedua ayah. Faisal mengurungkan niat mengambil nasi pada tempat nasi diantara sayur dan lauk pauk sederhana pagi itu. Ayah dan Faisal saling menatap sesaat. Lalu Faisal kembali pada niat sebelumnya tanpa berkata-kata. Setelah itu menuangkan segelas air putih ke dalam gelas bening yang tadi diambilnya. Bundanya sendiri tersenyum sambil menatap ayah dan Faisal bergiliran. Ayah sudah memulai suapan keduanya sambil menatap bunda tanpa menjawab.

Ya, saat ini Faisal bersama orangtuanya tengah berada di meja makan. Menikmati menu makan pagi yang telah bunda siapkan. Ntah kenapa mendengar kalimat bunda pada ayah, mendadak nafsu makannya menghilang. Seolah Faisal ingin segera pergi tanpa berminat menghabiskan makanannya. Tetapi itu tak mungkin dilakukannya, selain ia tidak ingin menyinggung perasaan bunda, ia juga tidak mau kena marah dari ayah. Sehingga Faisal hanya diam sambil menghabiskan makanannya.

Faisal paham, ketegasan yang ayah berikan bukan kerana ayah galak dan keras. Karena disisi yang lain, ayahnya begitu lembut dan penyayang. Terlebih kepada perempuan. Ayah hanya tidak ingin anaknya ini salah langkah saja.

Faisal sudah menghabiskan makanannya, lalu Faisal meneguk air putih satu gelas sehingga habis. Ayah juga sudah terlihat selesai menyantap makanannya. Faisal pamit lebih dulu untuk meninggalkan meja makan sebab ia harus menyiapkan jadwal kuliahnya hari ini yang tadi malam belum sempat ia siapkan. Ah, tidak, Faisal hanya beralasan. Faisal hanya menghindar dari perdebatannya bersama ayah.

Bunda hanya tersenyum mendapati sikap Faisal, seolah bunda memahami sesuatu disana. Sementara ayahnya hanya manatap tanpa kata. Lalu ayah dan bunda turut meninggalkan meja makan. Mereka keluar menunggu Faisal di teras depan rumah.

"Mau naik bus lagi, Nak?" tanya bunda ketika Faisal keluar melalui pintu utama, bukan pintu garasi.

"Hari ini Faisal naik mobil sendiri dan akan mengantar Ayah ke kantor!" perintah ayah sebelum Faisal menjawab pertanyaan bunda.

Bunda dan Faisal sontak menatap ayah. Nada bicaranya terkesan dingin. Seakan tidak ingin mendengar ada penolakan disana. Tanpa memberikan pilihan pada Faisal untuk mengiyakan atau menolak. Faisal tidak percaya ini. Sejak kapan ayah mengekang pilihannya? Faisal tak berani menolak. Ia kembali masuk ke dalam rumah sekedar untuk mengambil kunci mobilnya dan mengeluarkan mobil pribadinya dari garasi.

Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Ayah diam, Faisal demikian. Tidak ada yang berminat memulai perbincangan. Faisal hanya fokus mengemudi sambil menikmati kesunyian hati. Sementara ayah masih menunggu. Berharap anaknya itu mau berbicara dengannya. Tetapi hingga kini Faisal masih saja bertahan pada kediamannya. Ayah paham, mungkin Faisal masih marah, tersinggung, sakit hati saat ayah menegurnya waktu lalu. Ayah memahami hal itu. Bahkan ayah mengakui kalau caranya menegur terlalu keras dan salah. Tidak sepantasnya ayah begitu pada Faisal. Bukankah cinta itu adalah hal yang wajar? Bukankah cinta itu datang tanpa diminta? Bukankah Faisal tahu bahwa cinta itu ada aturannya? Mungkin ayah yang terlalu berlebihan. Sudah seyogyanya ayah meminta maaf.

"Faisal, Ayah minta maaf atas... sikap Ayah waktu lalu padamu," ucap ayah tanpa ragu.

Permintaan maaf ayah sontak membuat Faisal menoleh ke arah ayahnya. Lalu Faisal sedikit mengurangi kecepatan mobilnya. Faisal masih diam, menunggu barangkali ayahnya masih ingin melanjutkan ucapannya.

"Ayah minta maaf atas teguran Ayah yang terlalu keras padamu waktu lalu, da—"

"Ayah tidak perlu minta maaf," potong Faisal cepat, "tindakan Ayah menegur Faisal sudah tepat. Faisal tahu, sikap yang Ayah ambil lebih untuk kebaikan Faisal sendiri."

"Iya tapi..."

"Sudah, Ayah... ada baiknya jika kita tidak bahas itu," pinta Faisal.

Faisal sudah coba lupakan kejadian waktu lalu. Tersinggung dengan sikap ayah, pastinya. Tetapi ayah tidak sepenuhnya salah. Jadi menurut Faisal lupakan saja dan ambil pelajarannya.

"Beri tahu Ayah jika kau sudah siap untuk melamar dia nantinya..."

Faisal sedikit mengernyitkan dahinya. Menatap ayah penuh tanya. Siapa dia yang ayah maksud? Apa maksud ayah? Sementara ayah hanya melihatnya dengan tersenyum. Ayah menarik napas seakan ingin kembali bersuara, hendak menjawab semua pertanyaan di benak Faisal.

"Muslimah berjilbab merah hati, atau seseorang yang menjadi salah satu dari dua kejutan di dalam bus, atau mahasiswi baru itu. Siapa namanya?"

"Mahasiswi baru?" Faisal memastikan apa yang ayah katakan. Ayahnya tersenyum membalas.

Faisal menarik napas lalu menjawab, "Mahasiswi itu bernama Naisya, Ayah..."

"Ah, ya... Naisya. Apa ketiganya adalah orang yang sama?"

Mendengar pertanyaan ayah, Faisal hanya tersenyum tanpa berkata. Faisal menjawabnya dengan anggukan ringan. Faisal menepikan mobilnya, mengurangi kecepatan laju mobilnya, kantor ayah sudah semakin dekat terlihat. Sepertinya percakapan mereka pagi ini harus terpotong. Tetapi Faisal cukup senang. Setidaknya ayah sudah tidak lagi bersikap dingin seperti akhir-akhir ini. Sudah cukup membuatnya bernapas lega.

Ayah baru saja turun dari mobil. Faisal kembali melajukan mobilnya. Faisal berniat untuk langsung menuju ke kampus. Percakapan dengan ayah masih menyisakan senyum disana. Ntah darimana ayah mengetahui itu semua. Bukankah ayah hanya mendengar cerita tentang muslimah berjilbab merah hati? Lalu tentang kejutan dan mahasiswi baru itu? Sudah bisa Faisal tebak, mungkin ayah tidak sengaja mendengar percakapannya dengan bunda tadi malam atau kalau tidak, mungkin bunda menceritakan semua yang bunda tahu pada ayah. 

~~~~~~~~~~
Lanjut ke episode 7.

Ainayya Ayska

11 komentar:

  1. Wah, bakal happy ending sepertinya

    BalasHapus
  2. Senangnya yang masih memiliki ayah untuk berbagi.

    BalasHapus
  3. Ayahnya baik hati ramah dan tidak sombong..😅

    BalasHapus
  4. Lanjut!
    Penasaran kemana endingnya. Segera di Novelkan mbk Nadila

    BalasHapus
  5. Ayah, selalu bisa jadi sahabat bagi anak anaknya 😊

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...