Rabu, 06 April 2016

Saat Itu

Nadilla sedang dilanda kebingungan. Ntah apa yang ingin ditulisnya sekarang. Tema tantangan kali ini hanya membuatnya galau.

Dia sedang tak ingin menuliskan 'bahkan ia tak tahu harus menulis apa' untuk saat ini.

Sebab ... ehm, maksudnya ia hanya tidak mau mendapat komentar seorang teman, 'Nadilla, tidakkah bisa kau katakan yang lain selain kata tidak tahu? Mengapa selalu itu yang kau hafal?'

Lantas Nadilla harus apa? Siapa sangka bahwa tantangan kali ini ternyata lebih ..., sudahlah.

Baginya, menceritakan tentang diri sendiri, buku terbaik, juga pengalaman paling berkesan itu terasa lebih mudah dibanding tantangan pekan ini.

Tapi apa mau dikata? Biar bagaimana tantangan ini harus bisa Nadilla lewatin, bukan?

Bermula dari obrolannya bersama seorang ummahat, dari yang ringan sampai tantangan, dilanjut dengan status yang ia temui ketika berselancar, Nadilla temui ide di sana.

"Menulis tentang ujian nasional kah?" pikir Nadilla.

Membaca tentang ujian nasional di sejumlah artikel yang Nadilla baca, ujian tak lagi menjadi penentu kelulusan.

Lalu sebagian besar sekolah mengikuti UNBK atau Ujian Nasional berbasis komputer.

Sementara lainnya masih menggunakan Ujian Nasional berbasis kertas.

Ehm, meskipun bukan lagi menjadi penentu kelulusan, tetapi mendapat nilai yang baik masih menjadi idaman, dong ....

Betul, tak?

Setidaknya mendapat nilai baik pernah menjadi idaman Nadilla semasa sekolah dulu.

Baiklah, Kawan. Setelah melakukan riset. Aih, apalah Nadilla ini. Tayyib. Perbedaan ujian masa kini dengan masa dulu sepertinya ini, ujian nasional masih menjadi penentu kelulusan dan ujiannya masih berbasis kertas.

Seperti yang dinasehatkan, jangan sampai belajar dengan sistem kebut semalam.

Nadilla pun begitu.

Yah, biar bagaimana kita butuh istirahat juga, bukan? Biar esok harinya badan kita tetap fit juga pikiran kita fresh.

Sehingga mampu memaksimalkan diri dalam melewati masa-masa ujian dengan baik.

Menjelang ujian nasional, Nadilla begitu optimalkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk belajar, berlatih mengerjakan soal-soal, juga berdoa.

Teringat saat doa bersama sebelum masuk kelas ujian hari pertama. Teman-teman menunjuknya untuk memimpin doa.

Nadilla tidak bisa menolak.

Nadilla memimpin doa saat itu. Nadilla dan teman-teman hanyut dalam suasana pagi itu.

MasyaAllah, tanpa aba-aba, butiran bening dari kedua matanya meleleh begitu saja. Lambat laun namun pasti teman-teman turut menangis.

Dalam doa, mereka berharap akan berhasil melewati masa-masa ujian nasional dengan baik. Menunggu kelulusan dan mendengar kabar bahwa mereka lulus.

Begitulah harapan hampir setiap siswa. Lulus dengan nilai yang baik, bukan?

Nadilla lama terdiam, ntah apa yang sedang dipikirkan. Mungkin mencari kata sebagai penutup dari tulisannya.

Hingga saat dimana Nadilla tak paham harus menulis apa. Nadilla cukupkan sekian. Terimakasih atas kunjungannya.

Nadilla Afrina

3 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...