Senin, 11 April 2016

Teman

Seseorang atau mungkin diri kita sendiri pernah mengeluhkan sikap seorang teman, mengapa teman kita bersikap seperti ini, seperti itu, begini, dan begitu hingga mungkin mereka ninggalin kita. Seolah saat mereka bertemu dengan teman barunya, mereka lupa akan kita yang pernah menjadi temannya.

Adakah sikap semacam ini salah? Ntahlah. Setiap kita pasti punyai kesimpulan sendiri setelah melalui tabayyun, permasalahan yang ditimbulkan akan sikap seperti itu mungkin tidak dilatarbelakangi satu persoalan saja, bisa jadi lebih daripada itu. Ntah tersebab dari kita, atau teman kita sendiri.

Terlepas dari salah tidaknya sikap teman yang mendadak menjauh dari kita, mari sejenak kita coba muhasabah.

Adakah sikap kita yang menjadikannya menjauh?

Jika kita tak merasa punyai salah, dan sikap kita padanya tidak ada yang aneh, mungkin ada faktor lain.

Bisa jadi pengaruh lingkungan atau diri teman kita.

"Nadilla sendiri pernah tidak dijauhi temen?"

Ehm, memangnya siapa Nadilla? Nadilla sama seperti kalian. Nadilla hanya manusia biasa penuh cela yang tengah berada dalam perbaikan.

Dijauhi atau bisa deket sama teman bukanlah hal yang langka, bukan? Nadilla tidak terlalu pusingkan jika penolakan mereka berikan.

Simpelnya gini, adakah teman yang menjauh dari kita telah memberikan kemanfaatan untuk kita? Kemanfaatan di sini bukan bermaksud kita memanfaatkan teman kita, yah ....

Bukan berarti kita hanya dekati dia manakala kita butuh saja, setelah kita tak butuhkan mereka, kita pergi begitu saja serasa kehadiran teman tidak berguna bagi kita.

Tidak, bukan begitu.

Melainkan adakah perbaikan diri selama kita berteman dengannya, menjadikan pribadi yang lebih baik lagi?

Adakah selama berteman dengannya, diri kita bisa lebih dekat dengan Rabb kita?

Seberapa banyak ilmu dan nasehat yang kita dapat?

Atau justru kita bertambah maksiat setelah berteman dengannya?

Masih ingat dengan perumpamaan yang Rasulullah berikan, sebagaimana dijelaskan dalam haditsnya?

Bahwa teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Ayolah, kawan. Bukankah sudah sering kita dapati pembahasan soal teman yang baik tersebut? Hadits itu mungkin sering kita jumpai, bukan? Ntah saat kita membaca atau mendengar.

Jadi masih perlukah kita bersedih jika ternyata teman yang menjauhi kita bukanlah teman yang baik untuk diri kita.

Bukankah tak jarang kita temui pembahasan, tausyiah atau apalah itu istilahnya, bahwa kita diminta untuk melihat siapa teman kita.

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

"Tetapi, bagaimana jika teman menjauh kerana diri kita?"

Kenapa masih bertanya? Bukankah diri kita sendiri punyai jawabnya? Jika faktornya sebab sikap yang tidak mereka terima, dalam arti kita melakukan kesalahan, ya kita minta maaf sama mereka.

Dengan meminta maaf, tak lantas menjadikan diri kita terhina, bukan?

Namun jika mereka menjauh tersebab akhlak kurang atau tidak baik yang ada dalam diri kita, Nadilla rasa, jika mereka teman yang baik tidak serta-merta ninggalin kita.

Terlebih kalau dari awal niat kita lurus, InsyaAllah mereka akan berikan nasehat-nasehat membangun, tunjukkan kekeliruan atau kesalahan kita dalam bersikap atau hal lain yang berdampak baiknya akhlak kita.

Penerimaan-penolakan manusia seolah bukan lagi menjadi rahasia. Diri kita pernah mengalami.

Ada yang suka berteman dengan kita, begitu sebaliknya.

Apapun itu, selama niat kita lurus karena Allah dalam berteman dengan teman yang baik, InsyaAllah indah akhirnya.

Imam Hasan al-Bashri menasehatkan, ”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.”

MasyaAllah, indah nian berteman dengan orang-orang yang beriman. Betapa akan banyak manfaat kita dapat, jika kita bisa berteman dengan orang-orang yang beriman, bersama saling menasehatkan, beriring saling menopang.

Teman yang beriman ibarat lilin dalam kegelapan, berkenan mengingatkan atau nasehatkan kala diri tersesat digelapnya jalan, untuk kembali pada jalan yang terang.

Teman, terimakasih untuk kalian yang banyak berikan nasehat juga yang telah bagi ilmu-ilmunya. Semoga niat kita dalam berteman adalah murni kerana Allah.

Semoga pertemanan kita berada dalam ridha-Nya.

Seperti ungkapan imam ibnul jauzi, "Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah, 'Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.' ”

Semoga seperti itulah kita nantinya. Aamiin...

Diri yang dalam perbaikan,
Nadilla Afrina

11 komentar:

  1. bener, kudu muhasabah yaa, makasih diingatkan

    BalasHapus
  2. temankuuuu... kalau ntar nggak nemuin aku di di surga tanyakanlah tentangku kepada Allah, oke? deal? *peluk sayang temanku...

    BalasHapus
  3. Iyaa prlu muhasabah jika adateman menjauhi kita

    BalasHapus
  4. Sy juga cari aku juga ya...
    Jdi sedih deh ... (•_•)

    BalasHapus
  5. Duh .. kl baca yg beginian saya jd takut,
    Masih jauh dari kata pantas ke surga-NYA

    BalasHapus
  6. background talisman membuat talisman susah dibaca . jade maaf gak says baca semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaan mudah dibaca, mba... hehehe

      Hapus
    2. Umm alice... hihi afwan, dipanggil mba...

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...