Selasa, 24 Mei 2016

Bingkisan Rasa (Bag. 4)

Penasaran (2)



Naisya memasuki pelataran kampus tempat laki-laki tadi kuliah dengan begitu percaya diri. Ah, tepatnya berpura PeDe meski sedikit gemetar takut. Tetapi bila tidak diselesaikan sekarang ia khawatir masalahnya akan semakin panjang dan tidak berkesudahan.

"Macam di sinetron aja, sih, jika urusannya bakal seribet itu. Menyebalkan," gerutunya.


Berkali-kali Naisya coba bertanya pada mahasiswa di sana. Tidak temukan jawab. Tak habis pikir, kemana menghilangnya laki-laki itu? Adakah sebenarnya tidak sedang di kampus ini? Atau... jangan-jangan pergi ke kempusnya mencari dirinya? Bukannya meninggalkan kampus, justru masih saja sibuk bertanya tentang keberadaan mahasiswa bikin onar tersebut. 

Ia terperanjat saat seseorang menepuk bahunya dengan keras. Naisya cepat memutar badan, mahasiswa yang sedari tadi ia cari kini berada tepat di hadapannya bersama empat teman lainnya. Tiga diantaranya perempuan, satunya lagi laki-laki. Naisya bergidik ngeri memandangi wajah mereka satu per satu. 

Diam ketakutan, berjalan mundur dengan arah memutar seiring laki-laki itu melangkah maju mendekatinya. Banyak mahasiswa di sana. Hanya diam menyaksikan. Mulai berkasak-kusuk, penasaran dengan apa yang akan terjadi. Seperti tak ada tanda kalau Naisya akan mendapat pertolongan. 

"Stop!" pekik Naisya berusaha mengusir ketakutan sambil memberi isyarat dengan dua tangannya, membuat mereka terkejut.

Seseorang di hadapannya menatap tajam. Diam tak bersuara pun tak berkedip. Melihat ekspresinya membuat Naisya harus menahan tawa atau masalah akan menjadi. Melirik sekitar tak habis pikir, mahasiswa sebanyak itu hanya menonton sambil berkasak-kusuk. Mereka pikir ini tontonan? Naisya memutar bola matanya bosan. 

"Naisya ke..., ah, maksudnya aku ke sini mau minta maaf atas kejadian tadi. Jadi singkirkan tatapan tajammu itu dari hadapanku," ucap Naisya sempat meralat sebutan untuk dirinya. Menghindari tatapan itu. Suaranya sedikit bergetar karena takut, berharap tidak ada yang menyadarinya. Membuat semua yang melihat langsung ternganga. 

Laki-laki itu bergeming. Coba mencari jawab atas kalimat Naisya, mengapa berubah dalam waktu sesingkat ini? Bukankah beberapa menit yang lalu dia begitu berani melawannya? Sekarang gadis itu tanpa ragu mencari dirinya seorang diri? Dan niatnya, untuk meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia lakukan? Langka sekali anak ini. Ntah datang dari planet mana gadis di hadapannya itu.

Tunggu, bahkan untuk pertama kalinya mengakui bahwa dirinya yang salah akan apa yang sudah ia lakukan. Apa yang terjadi padanya? Selama ini, ia memaksa orang lain untuk meminta maaf padanya sekalipun mereka tidak bersalah. Kembali berulah saat mereka menolak. Hari ini, seseorang datang meminta maaf tanpa paksaan. Justru membuatnya diam seribu bahasa. Bahkan untuk tertawa saja ia tak bisa.

Yang membuat para penonton lebih terkejut, saat salah seorang perempuan —bagian dari anggota bikin onar— di antara mereka melangkah maju, cepat mendorong dua bahu Naisya dengan kasar, "berani sekali kamu ke sini, hah?"

Tatapannya penuh amarah. Tidak suka dengan keberadaan Naisya. Merasa ditantang oleh gadis di depannya kini. Jika tidak ada yang mencengkeram kuat lengannya, nyaris ia akan menghajar Naisya saat itu juga.

Naisya terkejut mendapati perlakuan itu tak terkecuali laki-laki di hadapannya. Naisya terhuyung akibat dorongan tersebut. Nyaris jatuh bila saja tidak ada orang yang dengan sigap menahan keseimbangan tubuh lemahnya. Spontan menatap seseorang itu bersamaan laki-laki tadi memaki temannya.

"Kaka...?" Pekik Naisya dengan senyum keindahan.

Hatinya kegirangan begitu tahu siapa yang datang menolong tepat waktu. Sedikit bingung juga dengan keberadaannya. Tetapi sudahlah. Itu tidak penting karena bisa ditanyakan nanti.

"Dia ke sini untuk minta maaf mengapa kau kasar sekali sama dia? Kau perempuan, jadi berperilakulah layaknya perempuan. Apa masalahmu dengannya?" Sambar laki-laki itu pada temannya. 

Untuk kesekian kalinya penonton setia dibuat terkejut. Naisya sedikit mengerutkan dahi. Ada tanya di sana. Mengapa lelaki itu justru memaki temannya? Dari kalimatnya, sedikit tercium aroma kebijakan. Bukankah mereka dicap mahasiswa yang suka bikin rusuh? Seperti yang Naisya dengar dari Vivi dan Tika, dosen pun kewalahan menghadapi sampai mengancam akan mengeluarkan mereka dari kampus. 

Berlawanan. Ntahlah, Naisya tidak ingin dipusingkan oleh hal itu. Bukan kebutuhan juga bila ia pecahkan teka-teki ringan tersebut. Toh sifat hati manusia tidak tetap. Ia hanya ingin minta maaf, cukup itu tujuannya. 

"Kau Naisya," kata lelaki itu, "maafkan atas sikap kasar temanku."

Penonton kembali ternganga, kecuali seseorang yang telah menolong Naisya dengan ekspresi datarnya. Benar-benar hari yang aneh. Drama di kampus berjalan natural tanpa latihan. Menakjubkan.

Mungkin teman-teman dalam hati bertanya, 'apa yang membuatnya mendadak berubah begini? Mengapa bisa?'

Naisya tidak bisa menyembunyikan keterperangahannya. Ekspresi lucu wajahnya membuat seseorang di sebelahnya tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.  Ia tak percaya ini. Lelaki yang beberapa menit lalu memberikan tatapan tajam kini meminta maaf? Apa tidak salah?

"Ada yang salah?" suara datar orang di sebelahnya menyadarkan.

"Ah, iya," Naisya segera kuasai diri, menoleh ke kiri lalu menatap mahasiswa di depannya, "tak apa lupakan..."

Kini Naisya sudah benar-benar santai menghadapi mereka. Ketakutannya berangsur hilang ketika seseorang disebelahnya itu datang.

"Baiklah... kalau begitu aku pamit, persoalan kita sudahi ni hari. Semoga tak ada dendam, yah..." Naisya tersenyum lalu melenggang pergi sambil menggandeng seseorang di sebelahnya.

Mahasiswa itu tersenyum tulus, sangat tipis nyaris tak terlihat. Berdiri menatap punggung dua orang yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu gerbang kampusnya.

"Kaka rindu ya... sama Ade? Ko tidak mengabari dulu? Kaka kapan tiba sini? Sama siapa? Mengapa bisa di sini? Jelaskan, Kaka!" Naisya melepas gandengan tangan itu lalu memutar badan sambil melipat dua tangan di depan dada.

Seseorang yang dipanggil 'kaka' hanya memutar bola matanya bosan. Betapa sikap kekanakan itu masih setia bersandang. Sikap yang ia rindukan selama beberapa waktu ini. Ia raih tangan adiknya lalu mengajaknya pergi.

"Ambil motor Ade dan kita pulang sekarang! Kaka akan menjawab pertanyaan si bawel ini nanti di rumah," ujarnya santai. Tidak, lebih tepatnya perintah. 

"Tidak, Kaka! Ni hari Ade mau pulang bareng ka Faisal jam lima. Apa Kaka tidak tahu itu?" Naisya menarik tangannya sambil berhenti. Lagi-lagi Naisya memasang wajah cemberut seperti anak kecil.

Fuad ikut berhenti. Memandang adiknya sesaat lalu berkata, "baiklah, Ade. Sekarang kembalilah ke kampus. Jangan bikin ka Faisalmu itu khawatir karena kehilangan dirimu. Jangan biarkan ia merasa tidak bisa menjaga amanah ayah dengan baik."

Terpaksa meloloskan keinginan si bawel. Kalau tidak, bisa-bisa ia stres karena Naisya mendiamkan dirinya beberapa hari.

Naisya tersenyum riang sambil melangkah memasuki halaman kampus. Fuad tertawa kecil. Naisya, masih adik kecilnya yang dulu. Lucu, bawel, tukang ngambek, dan manis tingkahnya.

~~~
Lanjut ke episode 24.

Ainayya Ayska 

5 komentar:

  1. wah kayaknya masih lama ceritanya tamat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya, bun... biar ada novel di blog Ayska... hihihi

      Hapus
  2. Fuad ini yang mana yaa...yg nabrak kaki naisya bukan? lupa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan, bun...
      Fuad kaka laki-laki Naisya.
      Kalau yang pernah nabrak kaki Naisya adalah senior... hehehe

      Hapus
  3. Ih sii kakak 😂😂 keren mbaak 😊

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...