Kamis, 26 Mei 2016

Bingkisan Rasa (Bag. 6)

Butik



"Jazakallahu khairan, Nak! Sudah mengantar Naisya pulang," ucap ayah diiringi senyum.

"Wa anta Jazakallahu khairan, Om!" balas Faisal dengan senyum keramahan.


Ayah memintanya untuk mampir barang sebentar. Dengan penuh sesal Faisal menolak karena harus mengantar bundanya. Ayah persilahkan Faisal pergi setelah sebelumnya ayah mengatakan bahwa ayah menunggu kedatangannya ke rumah.

Fuad sempat menyalaminya tadi. Juga sedikit ngobrol sebatas bertegur sapa. Faisal senang dengan pertemuan ini. Setidaknya ia sudah mengenal ayah juga kakak laki-lakinya, 'kan? Tinggal langkah berikutnya. Ah, tidak, Faisal cepat menggeleng kepala. Merasa geli dengan apa yang melintas di pikiran.

Jalanan sedikit macet. Beruntung ia mengendarai motor sehingga bisa nyelip ke sana-sini tanpa harus berhenti lama di barisan mobil atau kalau tidak ia terpaksa mengubah kembali jadwalnya.

Sekelebat ia ingat sesuatu. Pertanyaan ringan dari Naisya sebelum meninggalkan kampus tadi cukup berat untuk mencari jawab. Sebisa ia sembunyikan rasa, membantah halus atau mengalihkan tema. Sebatas itu. Rasa penasaran bertamu. Ada tanya yang tidak mungkin ia dapatkan jawab. Hanya dapat menerka. Darimana Naisya tahu bahwa dirinya berada di gerbang kampus sebelah? Lebih-lebih lagi Naisya bicara soal perhatian dan cemburu. Adakah sikapnya begitu mudah ditebak oleh seorang Naisya? Rasanya tidak mungkin. Yang Faisal tahu gadis itu tidak terlalu peka dengan bahasa rasa.

Sudahlah. Ia tak ingin melambungkan asa terlalu tinggi untuk sebuah rasa yang tidak semestinya ada atau kecewa sebagai balasnya. Tetapi siapalah Faisal? Bukankah setiap kita pernah merasai cinta meski hanya selintas saja? Apakah itu salah? Semua hanya bergantung bagaimana cara kita mengelolanya, 'kan?

Faisal hampir frustasi. Berulang kali ia coba mencari pembelaan diri. Semakin coba ia ingkari, semakin rasa itu nyata ada. Ia percaya Allah tidak melarang hamba-Nya jatuh cinta asal tidak melebihi batasan-Nya. Itu saja. Tetapi Faisal kembali bertanya, bila ia merasa belum mampu untuk bangun cinta adakah pantas untuknya terlalu memikirkan rasa itu?

Ada yang lebih ingin ia prioritaskan. Kembali Faisal renungkan, berulang hatinya memutuskan untuk serahkan cinta kepada pemiliknya. Biarkan rasa berjalan sesuai aturan. Tidak perlu berlebihan.

Ia memutar ingatan tentang mimpinya bisa lanjut S2, permintaan bunda untuk segera menikah, juga ayah yang menginginkan Faisal melanjutkan bisnisnya, mengingat usianya kini sudah dua puluh lima. Bila ia mau, mungkin bisa ia ambil langkah, tetapi adakah gadis itu siap untuk ia jemput? Lagi-lagi merasa geli dengan apa yang melintas dalam pikirannya. Hanya bisa menggeleng kecil.

Waktunya memang banyak tersita untuk bekerja di luar negeri masa itu. Sebagian teman yang tahu akan hal itu merasa heran padanya. Banyak yang menilainya aneh atau salah mengambil langkah. Tetapi Faisal abaikan semua.

Faisal hanya ingin sejenak merasakan perjuangan hidup dari sisi yang berbeda. Lebih memahami bagaimana perjuangan mereka yang dipandang sebelah mata hanya karena tidak berpunya. Banyak hikmah yang mampu ia temukan di dunia kerja. Ia tanggalkan sesaat sebagai anak orang kaya, meski pada akhirnya ia jujur ketika mendekati habis masa kontrak kerjanya. Itu tersebab teman-teman mengetahui ntah darimana. Hingga memaksa dirinya untuk menjelaskan semua.

Sebisa mungkin ia tidak mengeluh dengan kesulitan yang didapat semasa menjalani hidup sebagai karyawan perusahaan sebab itu pilihannya sendiri. Berkali-kali menolak bantuan yang ayah berikan. Ingin melatih diri seberapa mampu ia lalui. Menikmati saat-saat berjuang bersama teman melawan kerasnya kehidupan. Dari situ Faisal mengerti arti persahabatan yang sebenarnya. Barulah menyadari bahwa teman-teman yang dulu bukanlah teman yang patut untuk diperjuangkan.

Dibilang drama pun begitulah faktanya. Biarlah orang menilai sesuka hati mereka. 

*****

Memangku kepala dengan sebelah tangan di atas meja belajar. Matanya lurus menatap deretan buku yang berjajar rapi di rak. Ingatan membawanya pada sebuah percakapan singkat bersama Faisal sebelum meninggalkan kampus. Ia tak percaya kalau ia akan meloloskan kata khawatir, perhatian dan cemburu dari lisannya.

Merasa konyol. Tertawa kecil mendapati Faisal coba berkilah dan mengabaikan kalimatnya.

"Lagian ngapain ka Faisal mematung di gerbang kampus sebelah tadi? Sebentar datang kemudian pergi. Menyebalkan," gumamnya.

"Tapi tunggu," Naisya teringat sesuatu, "tadi sempat juga liat senior membosankan itu? Kenapa serasa heboh gitu sih tahu aku nyari mahasiswa itu di kampus sebelah?"

"Mahasiswa itu kenapa mendadak berubah 180° dalam waktu sesingkat itu?" tanya Naisya lebih kepada dirinya.

"Ntahlah," abainya seraya mengedikkan bahu.

Naisya tersentak, kala ingat kisah perjuangan teman yang baru dikenalnya di masjid tadi siang. Sesaat ia berpikir, adakah yang bisa ia perbuat meski itu hal kecil saja? Ia lihat uang tunai yang saat ini ada, dua juta. Lalu ia lihat saldo rekeningnya, masih ada lima juta.

"Yah... segini dapat berapa?" gumamnya.

Ia ambil kalkulator, jari tangannya menari lincah disana, "kalau harganya tiga lima puluh dapat enam total dua juta seratus. Kalau harga lima ratus dapat empat, kalau..."

Naisya terus menerka harga set jilbab per satuannya. Lama-lama kepalanya terasa pening sebab harga set jilbab berbeda-beda. Ia putuskan menemui kakak. Berlari kecil keluar kamar lalu menuruni tangga meneriakkan nama kakaknya satu per satu. Tidak ada yang menyahut. Ayah dan bundanya bahkan tidak ia lihat di dalam rumah.

"Ka Naifah lagi ngerjain tugas kantor di taman depan, Ade..." seru Fuad saat mendengar adiknya itu terus memanggil nama penghuni rumah.

*****

"Kaka, ayuuk antar Ade ke butik punya temen Kaka itu..." ajak Naisya.

"Tak," singkat Naifah tanpa beralih pada file di tangannya, "Ade waktu lalu dah beli dua. Beristirahatlah untuk belanja, Ade..."

"Bukan untuk Ade, Kaka!" Naisya mulai manyun.

"Ingin Ade hibahkan untuk temen-temen di kampus... beberapa mereka ada yang mulai berjilbab syar'i, sekarang... apa tetap tak boleh belanja..." lanjutnya sambil menghela napas lesu.

"Ajak ka Fuad sana! Kaka sibuk,"

Naifah langsung menyetujui setelah mendengar penjelasan Naisya. Ia percaya kalau adiknya sedang tidak berbohong. Ia mengenal bagaimana adik kesayangannya itu. Naifah tersenyum mendapati sang adik segera meninggalkan taman dengan senyum sumringah.

Bunda selalu mengajarkan selama kita mampu berbuat untuk sesama, sekecil apapun itu, maka jangan tunda niat baik tersebut. Sebab sifat hati itu tidak tetap. Kapan saja bisa berubah. Kita hanya berupaya bisa istiqamah, berdoa... meminta pada Allah untuk keteguhan hati. Biar dikata sederhana, tapi efek keikhlasan luar biasa jika dilakukan karena-Nya.

Ayah mengajarkan selama kita bisa memberikan sesuatu yang baru atau apa yang kita suka, maka itu lebih baik.

Ia jadi teringat dengan kisah ayah yang bunda ceritakan. Sekalipun dulu ayah tidak berpunya, ayah tidak memberikan sesuatu yang sudah tidak ayah suka kecuali ada yang memintanya. Selama mampu, ayah memberikan yang baru atau apa yang masih ayah suka.

Meski bagi orang lain mungkin tidak bernilai apa-apa, tapi baginya itu luar biasa. Memberikan apa yang masih kita suka itu tidak mudah. Apalagi sesuatu yang masih baru, serasa butuh perjuangan. Belum lagi menghadirkan keikhlasan.

Ikhlas berbuat, mengikhlaskan suatu hal yang menyakitkan pun dengan memaafkan. Bicara soal memaafkan ia jadi teringat dengan...

"Aduh," Naifah menepuk dahinya sendiri.

Sebenarnya ada rencana ke rumah Arif bersama Naisya untuk meminta maaf pada orangtua Arif sebab kejadian makan malam itu, ia baru ingat sekarang. Tetapi mungkin harus ditunda sebab adiknya sudah pergi bersama Fuad dan bisa dipastikan mereka akan pulang lepas isya' nanti. Naifah hanya menggeleng kepala pelan, adik kesayangan kalau sudah asyik jalan susah dipinta pulang. Terlebih Fuad baru tiba pagi tadi, lama tak jumpa adik bakalan betah jalan menemaninya.

"Si ade kalau dah jalan ma Fuad ngabisin uang mulu. Minta dibeliin ini itu. Kalau ka Naila tahu jadi heboh. Si kaka marah-marah, yang dimarahin saling bela. Giliran ayah bunda bingung gimana harus melerai mereka," keluh Naifah.

Memasuki dunia perkuliahan dulu Naifah senang mendapati saudara kembarnya itu lebih menjadi pribadi yang tanggung jawab. Ayah sampai harus mengirim dia ke pondok pesantren masa Sma sebab paling susah diatur. Lebih-lebih masa Sd sampai Smp selalu berantem dengan adiknya. Meskipun begitu ada satu hal yang tidak hilang darinya, Fuad begitu menyayangi adik. Mungkin itulah salah satu cara ia menyayangi si kecil Naisya.

~~~
Lanjut ke episode 26.

Ainayya Ayska 

1 komentar:

  1. Kak Fuad kaka yang baik,
    Menghibahkan jilbab syar'i kepada temannya, hmmm semoga bisa meniru 😊

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...