Rabu, 04 Mei 2016

Insiden Kecil (Edisi Lanjutan)

"Ya sudah, panggilkan taksi untukku!" pinta Naisya seketika. Lebih tepatnya Naisya menyuruh senior itu untuk memanggil taksi.

Setelah lama berada dalam pergulatan batin antara iya dan menolak, akhirnya Naisya mengiyakan saran senior untuk segera ke rumah sakit. Lagipula tidak ada yang bisa diperbuat dengan ia berlama-lama di sana. Kakinya juga tidak akan sembuh dengan sendirinya saat itu juga. Bila pun dibawa ke unit kesehatan kampus, pasti tenaga medis juga akan menyarankan begitu.


"Nah, gitu dong. Dari tadi kan enak," kata senior itu mulai melangkah, "kukira kau akan berboncengan denganku naik motor..."

Oh, bahkan dengan kondisi seperti ini senior itu masih bisa bercanda. Meski suaranya terbilang pelan tetapi cukup bisa Naisya dengar dan sukses membuat Naisya terkejut akan hal itu.

"Apa kau bilang?" sungut Naisya tiba-tiba.


Dan kisah pun berlanjut...


Senior itu terlihat berhenti sesaat, menunggu barangkali ada kalimat lain terucap.

"Memangnya kau pikir aku istrimu?" lanjut Naisya yang justru mencipta senyum di sudut bibir senior tanpa bisa Naisya lihat karena senior itu berdiri memunggunginya.

"Kalau begitu kita menikah saja, Nona. Kalau kau berkenan aku bisa mendatangi rumahmu dan bilang pada orangtuamu bahwa aku ingin meminangmu..."

Naisya terpaku sesaat mendengar kalimat seniornya itu yang terkadang memang asal bicara. Ntah mengapa Naisya justru marah dengan kalimat itu.

"Jika kau berpikir aku mau menikah denganmu, beri alasan padaku mengapa aku harus menikah denganmu?" omel Naisya. Ntah mengapa setiap kali berurusan dengan senior itu selalu ada rasa marah dan kesal padanya.

Naisya tak mendapat jawab, senior itu terus saja berdiri memunggunginya. Meski tanpa Naisya tahu, senior itu sedikit melirik sambil tersenyum tipis disana. Baru kemudian kembali melangkah mencarikan taksi untuk Naisya.

Para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat sudah tak seheboh tadi. Sekumpulan mahasiswa yang menyaksikan pertunjukan gratis versi mereka sudah bubar dan kembali pada kegiatan mereka masing-masing. Kini hanya tinggal mereka yang melihat sekilas kemudian berlalu. Cukup itu.

Bosan menunggu akhirnya Naisya berusaha keras untuk bisa berjalan hingga ke depan dan menunggu taksi di sana. Tidak peduli dengan tatapan yang mahasiswa-mahasiswi berikan padanya. Melangkah pelan seperti anak kecil yang sedang belajar untuk berjalan.

"Hei... tidak bisakah kau tetap berada di tempatmu sebelumnya? Kenapa kau ke sini? Taksi bisa masuk ke halaman kampus untuk menjemputmu di sana, Nona..." seru senior kala melihat Naisya sudah mencapai pintu gerbang.

Senior ingin mendekat dan sedikit membantu, tetapi senior tahu pastilah Naisya akan menolak. Sehingga dirinya hanya bisa berdiam diri di tempat memandangi Naisya yang kesulitan berjalan ke arah bangku dekat pos satpam.

"Tak apa, Alhamdulillah masih kuat berjalan meski pelan..." jawab Naisya tersenyum ramah.

Mendapati pribadi Naisya yang terkadang berubah-ubah hanya mencipta senyum di sudut bibir senior itu. Yang mulanya santun, ramah hampir pada setiap orang, mendadak suka mengomel dan marah-marah, apalagi pada dirinya.

"Pribadi yang  labil, temperamental fluktuatif..." pikir senior sambil memandangi Naisya yang mengambil duduk di bangku dekat pos satpam.

"Ghadul bashar itu indah..." sindir Naisya santai ketika memergoki senior itu memandangi dirinya.

Sadar kedapatan memandangi Naisya, senior itu mendadak salah tingkah lalu secepat kilat mengalihkan pandangannya. Lalu menghampiri Naisya dan mengambil duduk di sebelahnya. Sedikit memberi jarak antara dia dan Naisya atau kalau tidak Naisya akan kembali melempar protes untuknya.

"Kau kenapa selalu ngomel dan marah-marah, sih, kalau denganku? Cobalah untuk santun dan ramah seperti halnya sikapmu pad—"

"Kenapa kau selalu protes, sih?" tukas Naisya santai sambil memainkan gadgetnya.

"Hei anak pindahan, setidaknya berikan aku sedikit waktu untuk menyelesaikan ucapanku," sebal senior setiap kali mendapati kalimatnya dipotong oleh anak pindahan seperti yang senior bilang.

Sementara Naisya hanya memutar bola matanya bosan. Kenapa seniornya itu selalu protes? Sedikit-sedikit protes ini, nanti itu, besok apalagi? Saat Naisya melihat seniornya hendak kembali bersuara, Naisya memberikan isyarat supaya senior itu diam. Ayah menghubunginya.

Disela-sela Naisya bercakap dengan ayahnya, senior tadi kembali menuju halaman kampus tempat insiden tadi terjadi. Ia harus kembali memarkirkan motornya untuk sementara. Ketika hendak kembali ia melihat tumpukan buku di atas pembatas taman. Sudah dipastikan itu buku milik Naisya yang tidak sengaja Naisya tinggalkan di sana. Senior sedikit membungkuk mengambil tumpukan beberapa buku itu lalu kembali berjalan menuju tempat di mana Naisya berada.

"Dasar pelupa, nanti kalau bukunya hilang aku juga yang disalahin..." lirih senior sambil terus berjalan.

Senior mengembalikan buku-buku itu kepada pemiliknya seraya berkata, "setidaknya jangan kau tinggalkan bukumu di sembarang tempat, Adik tingkat! Nanti kalau hilang kau pasti akan menyalahkan diriku."

"Syukran," ucap Naisya singkat sambil menerima semua bukunya.

"Oya, Kakak tingkat! Kalau ingin pulang sekarang tak mengapa, ayah sedang dalam perjalanan ke sini untuk menjemputku..." ramah Naisya pada seniornya itu.

"Lalu bagaimana dengan kakimu? Bukankah kita harus ke rumah sakit sekarang?" Ntah mengapa senior itu begitu perhatian pada Naisya dan tidak ingin meninggalkan Naisya begitu saja. Khawatir Naisya kenapa-napa jika ia tinggalkan.

"Tak mengapa, begitu ayah datang kami langsung ke rumah sakit. Yah, semoga tidak ada cedera yang serius pada kakiku. Doakan saja, ya..." Naisya coba meyakinkan senior untuk tidak khawatirkan dirinya.

"Setidaknya izinkan aku menemani sampai ayah datang," pinta senior.

"Tidak perlu, lagian sebentar lagi ayah mungkin segera datang. Kau pergi saja," suruh Naisya masih dengan senyumnya yang ramah.

"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu!" 

Senior pergi setelah mengucapkan salam. Lalu ia kembali untuk mengambil sepeda motornya yang tadi dia parkir. Ia harus segera pulang. Bundanya sudah menunggu di rumah. Sebelum mencapai pintu gerbang, senior menghentikan motornya, senior tersenyum setelah mengetahui Naisya masuk ke dalam mobil dibantu oleh ayahnya. Sayang, ia belum sempat untuk meminta maaf pada ayahnya karena telah mencelakakan kaki putrinya. Tak mengapa, mungkin lain kesempatan ia bisa ucapkan kata maaf itu. Ia berdiam di tempatnya sampai Naisya dan ayahnya berlalu. Hanya bisa memandang dari kejauhan.

~~~~~~~~~~
Lanjut ke episode 10.


Ainayya Ayska

8 komentar:

  1. Wih..semakin penasaran dengan seniornya itu.

    BalasHapus
  2. Senior itu masih disembunyikan

    BalasHapus
  3. Apakah senior suka sama Naisya?? Hmmm

    BalasHapus
  4. Tuh.. Kan... setelah mengikutin dari Awal kisah. Dalam hati spertinya mngtakan...

    senior akan tertarik.. Faisal ada saingan.. Hmn.. He..

    BalasHapus
  5. Oke senior... Silahkan cari cara lg utk mendekati naisha ...

    BalasHapus
  6. iya..apa senior itu suka beneran sama Naisya?
    Naisya suka apa tidak?

    BalasHapus
  7. Jgn2 Naisya itu sampean ya mbk Nadila??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, apa loh bang heru nii...

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...