Senin, 16 Mei 2016

Pertemuan (Bagian Kelima)

"Makasih, ya, Sayang..." ucap bunda memeluk Naifah. Tangisan yang tadinya mereda kini kembali menderas. Rengkuhan tangan bunda membuatnya merasa kasih kembali setelah sempat menghilang.

Naifah merenggangkan pelukan itu. Tersenyum kecut. Bunda seka air mata yang menghilangkan keceriaan dari wajah putrinya. Bunda menggeleng pelan seakan meyakinkan Naifah bahwa semua akan baik-baik saja. Naifah tertunduk, matanya terpejam seakan membuat dinding pertahanan baru yang tadi sempat ambruk sebab ketegasan sang ayah.

Dan kisah pun berlanjut...




Naifah bangkit hendak meninggalkan kamar. Mungkin ingin menyendiri untuk sesaat saja. Berdamai kembali dengan keadaan. Ketika Naifah hampir mencapai pintu, Naila datang untuk memeluk adik sambil mengucapkan rasa terima kasihnya. Buliran air mata jatuh ke dua pipinya. Naifah coba menyeka air mata itu sambil menggelengkan kepala pelan seperti mengabarkan tidak sepantasnya Naila menangis seperti ini. Karena itu hanya akan menambah sakit hatinya. Merasa bersalah sudah menghalangi kebahagiaan sang kakak.

Tanpa disadari airmata keharuan lolos begitu saja di sudut mata ayah dan bunda menyaksikan penggalan kisah dua putrinya. Bunda genggam tangan ayah coba beri kekuatan, mungkin ayah merasa bersalah karena terlalu keras pada Naifah tadi. Hampir-hampir ayah menampar Naifah jika bunda tidak menahannya. Baru kali ini ayah bertindak keras pada putrinya. Sekeras kepala apa anak-anaknya ayah belum pernah semarah ini. Mungkin ayah berpikir, Naila sudah banyak berbuat demi kebahagiaan adiknya sementara adik tidak mau memberi apa yang menjadi kebahagiaan kakaknya hanya karena keegoisan mereka.

"Ade akan coba yakinkan de Naisya. Si ade pasti mau ngerti. Maafin Ade ya, Kaka... sudah merusak makan malamnya..."

"Ade engga perlu minta maaf... engga ada yang salah disini." Naila menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi adiknya. Setelah itu Naila menyentuh bahu kanan Naifah dengan tangan kirinya lalu membiarkan Naifah pergi.

Kini Naifah berdiri di balkon rumah lantai dua. Tangannya memegang teralis balkon, matanya menerawang jauh ke langit malam. Kembali memutar ulang pertengkaran hebat bersama ayah beberapa saat yang lalu. Sungguh menyedihkan. Naifah tidak menyangka bahwa ini akan terjadi dalam hidupnya.

Keegoisan atau mengesampingkan. Satu sisi keegoisan kekeh tak mengubah pendirian dengan berbagai macam alasan diajukan. Sisi lain coba mengesampingkan dengan dalih demi kebahagiaan orang tersayang. Dua sisi kehidupan. Coba memberikan kebahagiaan yang menjadi hak dengan mengorbankan apa yang bisa digantikan.

Naifah menyeka air matanya saat teringat ponsel yang sejak pertengkaran tadi ia abaikan. Dari layar ia lihat banyak panggilan tidak terjawab, juga beberapa pesan dari orang yang sama. Pesan itu cukup panjang berisi banyak nasehat untuknya. Tak lupa bersama sebuah ayat, QS. An-Nur : 22. Mengingatkan ketika ia lupa sebab emosi menguasai jiwa.

"... dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sudut bibirnya menyunggingkan senyum. Pengirim pesan itu sangat memahami dirinya. Coba saja tadi ia sempat terima telepon darinya, pasti akan lain cerita. Naifah pejamkan mata, ia hirup napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Coba mengurangi beban hati supaya sedikit terasa lebih lapang. Setelah itu ia menjatuhkan diri di sofa. Ia lipat kedua lututnya di atas sofa dan menenggelamkan wajahnya di balik lengan yang melingkari lututnya. Memejamkan mata untuk sesaat saja.

Puas dengan kesendirian, Naifah menyeret langkah kembali ke kamar. Puncak pertengkaran yang membuatnya paling sakit adalah saat ayah melayangkan tangan dengan teriakan keras hendak menamparnya. Sebab tante Lina ayah sampai hati melakukan itu. Ia marah dan benar-benar marah saat itu. Hatinya mendadak dipenuhi kebencian pada tante Lina yang menurutnya seakan mengadu domba antara dirinya dengan ayah.

Hampir mencapai pintu, langkahnya terhenti. Ia ingat kalau harus menemui Naisya. Ia merasa mungkin hati adiknya sudah tenang kini. Berharap bisa berhasil meyakinkan Naisya. Membuatnya mengerti kalau yang mereka lakukan tidak benar meski dirasa tidak sepenuhnya salah.

Naifah berdiri di depan pintu kamar Naisya dalam keadaan tertutup. Naifah pegang handle pintu dan memutarnya pelan, tidak terkunci. Sebuah kamar bernuansa purple hasil desainnya bersama kakak. Sebuah ukuran tidak terlalu besar untuk ruangan bernama kamar ini. Terbilang lebih kecil dibanding kamarnya atau kamar sang kakak.

Ia jadi teringat saat dimana Naisya merengek minta pindah kamar yang lebih kecil dari kamar yang sebelumnya ditempati dengan alasan terlalu luas, membuatnya lelah tiap kali harus membersihkannya. Akhirnya ia bertukar kamar dengan Naisya. Sudah begitu adiknya masih protes sebab desainnya tidak disuka. Warna dan lukisan dindingnya pun ikut diprotes. Sehingga ayah dibuat repot dengan mencari tukang untuk mengecat kembali kamar itu dan mencari tukang lukis untuk melukis dinding kamar tersebut. Sementara dirinya bersama kakak dibuat sibuk dengan desain dinding dan penataan kamar, sampai adiknya itu puas dan menyukainya.

Begitu pintu Naifah buka, Naifah melihat adiknya sedang tiduran tanpa melakukan apa-apa. Ia coba hampiri adiknya dan mengambil duduk di tepi tempat tidur. Naisya masih tidak mengubah posisinya meski tahu kakak keduanya datang. Ia tidak tahu apa yang akan kakaknya katakan. Tetapi ia paham kakaknya akan mengatakan sesuatu.

"Ade... Kaka ingin ngomong sesuatu," Naifah membuka obrolan.

~~~
Lanjut ke episode 18.

Ainayya Ayska 

7 komentar:

  1. Silahkan kakak. 😀😀

    BalasHapus
  2. masih panjang sepertinya ceritanya

    BalasHapus
  3. Agak bingung juga bacanya, karna tidak mengikuti dari awal.

    BalasHapus
  4. Ngomong apa kak Naifah?? 😂😊☺

    BalasHapus
  5. Ayo ade naisya, ga boleh marah lagi

    BalasHapus
  6. Masih marah ya...
    Kasihan si Naisyah, mgkn terasa berat u/ memaafkan..

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...