Jumat, 06 Mei 2016

Rencana Perjalanan

"Hei, Adik tingkat!" panggil seseorang di belakangnya.

Naisya yang merasa dipanggil namanya spontan menoleh mencari sumber suara. Nampak seorang laki-laki tengah berjalan mengikutinya. Tentu saja, yang memanggil adalah seniornya. Siapa lagi yang memanggilnya begitu selain seniornya itu? Ada yang berbeda disana. Melihat penampilan seniornya hari ini ia jadi teringat seseorang. Betul, Naisya jadi teringat dengan Faisal. Kemana orang itu? Kenapa jam segini tidak terlihat? Adakah orang itu sudah sampai di kelas? Mungkin sudah di kelas. Faisal yang Naisya tahu adalah salah seorang mahasiswa yang rajin di sana. Setidaknya sesuai informasi yang Naisya dapat dari teman-teman saja.


"Ehm, Kakak tingkat, yah?" tawa riang Naisya.

"Gimana kabar kakimu? Maafkan seniormu ini, yah?"

"Ehm, harus berapa kali kau ucap maaf baru berhenti, Senior?" bosan Naisya mendengarnya.

"Hei, setidaknya aku benar-benar menyesal karena waktu itu... aku tak bis—"

"Lupakanlah! Toh kakiku sudah membaik," tukas Naisya.

Lagi-lagi ucapan senior dipotong oleh adik tingkatnya itu. Baru kali ini ia dapati ada seseorang yang hobby potong kalimatnya. Kendatipun adik tingkatnya itu terkadang menyebalkan, tetapi adik tingkatnya itu lain daripada yang lain di matanya. Ada sesuatu yang menarik disana. Ah, sudahlah. Senior tak ingin bermimpi banyak. Ntah mengapa senior merasa bukan seperti dirinya yang adik tingkatnya itu cari. Melalui sorotan mata adik tingkatnya, seolah tergambar sosok laki-laki idaman yang bakal menjadi suaminya kelak. Oh, jika sedari dulu dirinya tidak suka iseng melainkan sibuk memperbaiki diri, mungkin akan lain ceritanya.

Senior tersadar dari lamunan ketika petikan jari Naisya di depan matanya dimainkan. Membuat senior menoleh ke arah Naisya. Pandangan mereka bertemu sesaat. Naisya terlihat tersenyum sambil sedikit menelengkan kepala, mengendikkan dagu seakan mencipta tanya, 'ada apa denganmu, Senior?'

Senior hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Senior terus berjalan mengimbangi langkah Naisya yang lambat. Naisya terus berceloteh tanpa ia mengerti apa yang Naisya katakan. Senior kembali pada lamunannya. Pikiran membawanya pada ingatan dimana saat ia bertemu pertama kali dengan Naisya. Sungguh, kisah pertemuan yang tidak ia harapkan. Setidaknya untuk sekarang ini. Saat yang ia sesali. Saat itu betapa dirinya tak peduli, bahkan bisa dibilang ia tak mengerti cara meminta maaf pada Naisya. Ya, seperti yang Naisya bilang. Ia berlalu begitu saja tanpa kata maaf saat dirinya mengendarai sepeda motor ugal-ugalan di jalanan.

Tidak hanya itu, lagi-lagi dirinya membuat masalah dipertemuan kedua dengan Naisya. Ia berlalu begitu saja saat dirinya tanpa sengaja hampir membuat Naisya terjatuh dari tangga. Meskipun sempat membuat Naisya kesal dengannya, tetapi senior juga berterima kasih pada Naisya, setidaknya kesadarannya sedikit terbuka sebab teguran yang Naisya berikan padanya.

Lagi-lagi petikan jari Naisya mengusik ketenangannya. Senior menoleh ke arah Naisya. Naisya tersenyum sambil memberi isyarat dengan endikan dagu yang mengarah ke sebuah ruang kelas. Senior mengikuti arah pandang Naisya. Ruang kelas yang senior tangkap oleh inderanya adalah ruang kelas adik tingkatnya tersebut. Pertanda kini Naisya sudah sampai di depan ruang kelasnya, saatnya Naisya masuk ke dalam kelas sementara dirinya melanjutkan perjalanan menuju kelasnya seorang diri. Mereka berpisah di sini.

"Sampai jumpa, Kakak tingkat. Adik tingkatmu ini sudah sampai," ujar Naisya sambil menunjuk ruang kelas dengan jarinya, "apa Kakak tingkatku ini akan terus berdiri di sini?"

"Untuk memperhatikanmu?" gurau senior terkikik.

Naisya terkejut dengan kata seniornya, Naisya tak menyangka kalau seniornya bisa bercanda sepagi ini. Senior itu tertawa kecil melihat ekspresi wajah Naisya sekarang. Senior mengakui bahwa wajah adik tingkatnya itu begitu lucu pagi ini.

"Cepatlah pergi atau kau tidak akan dapat kelas pagi ini!" omel Naisya.

"Oh, bahkan anak pindahan ini bisa marah-marah sepagi ini..." dengus senior sambil berlalu.

Naisya hanya mengendikkan bahu tidak peduli. Naisya melangkah masuk ke ruang kelas. Naisya edarkan pandangannya, berharap masih ada kursi kosong di baris terdepan. Hampir semua teman-teman sudah memenuhi ruang kelasnya. Dia termasuk salah satu mahasiswa yang datang belakangan di sana.

Sesaat kemudian Naisya menyunggingkan senyuman, ia melihat satu kursi kosong di sana. Kursi terdepan nomor tiga dari kanan. Tetapi tunggu, kenapa ada tas di sana? Tas siapa itu? Itu artinya kursi tersebut sudah berpenghuni, 'kan? Tapi... sepertinya Naisya mengenali tas itu dan tahu siapa pemilik tas tersebut. Ia lirik kursi sebelahnya, nampak Faisal sedang menekuni bacaannya. Lalu Naisya berjalan menghampirinya.

"Kaka, Ade mau duduk di sini..." pinta Naisya sopan sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Saat Faisal merasa diajak bicara oleh seseorang yang berdiri di depan kursi sebelahnya, Faisal sedikit mendongakkan kepala. Begitu melihat seseorang yang mengajaknya bicara, Faisal tersenyum simpul.

"Boleh, berikan tas Kaka..." balas Faisal sambil menunggu Naisya memberikan tasnya.

Naisya tersenyum lebar, ia segera mengambil tas Faisal lalu memberikannya pada Faisal. Kini Naisya duduk dengan nyaman. Mungkin sebentar lagi dosen akan segera tiba. Naisya letakkan tasnya di atas meja tulis yang terhubung dengan kursinya itu, lalu menjatuhkan kepala ke kanan di atas tas tersebut.

"Lelahnya..." gumam Naisya hampir memejamkan matanya jika Faisal tidak mengajaknya bicara.

"Hei, Ade! Jangan pejamkan mata atau kalau tidak dosen akan memberikanmu hadiah," tegur Faisal saat tidak sengaja melihat Naisya hampir memejamkan mata.

Mendengar itu Naisya kembali mengangkat kepalanya dan menegakkan badannya. Ia tidak ingin mendapatkan hadiah dari dosen. Sebab Naisya paham dengan hadiah yang Faisal maksud.

"Ade kemana aja?" tanya Faisal sambil terus membaca deretan kata dalam bukunya, Naisya menatapnya, "beberapa hari ini Ade menghilang dari peredaran..."

"Ada sedikit masalah di kaki Ade... sama dokter tak boleh banyak jalan kalau ingin segera sembuh," jawab Naisya santai sambil memangku kepala dengan sebelah tangannya.

"Sebab insiden kecil waktu itu?" Faisal menghentikan bacaannya lalu melirik ke arah Naisya. Naisya kembali menatap ke arahnya.

"I...ya, Kaka..." jawab Naisya santai, "tapi... Kaka tahu darimana?"

Beberapa saat tidak ada respon dari pertanyaannya.

"Kaka," panggil Naisya. Tidak ada respon juga.

"Kaka..." Masih tidak ada respon.

"Kaka...!" Suara panggilannya sedikit melengking. Faisal menatapnya santai.

"Setidaknya hentikan bacaan Kaka kala ada yang mengajak Kaka bicara!" protes Naisya.

"Atau kalau perlu tutup buku Kaka sesaat saja..." lanjut Naisya sambil mengambil buku dari tangan Faisal. Ada sedikit rasa sebal disana.

Faisal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ringan. Dosen masuk ruangan bersamaan Naisya ingin kembali bersuara. Naisya mengurungkan niat. Naisya segera mengembalikan buku Faisal lalu membetulkan letak duduknya. Hampir-hampir ia melempar buku itu ke atas meja tulis Faisal.

Kuliah dimulai. Teman-teman terlihat antusias mengikuti mata kuliah pagi ini. Mereka seperti memperhatikan betul apa yang dosen jelaskan. Tetapi ntah dengan pikiran mereka. Adakah pikirannya masih tinggal di dalam ruangan yang berukuran 9m x 8m ini atau berjalan-jalan ntah kemana. Dosen menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh para mahasiswa mahasiswinya. Sesekali menyelipkan humor disela-sela jam perkuliahan berlangsung. Menjaga suasana belajar supaya tidak kering.

~~~~~~~~~~
Lanjut ke episode 12.

Ainayya Ayska

9 komentar:

  1. Hemmm... Naisya genit deh, hhaaa

    BalasHapus
  2. Faisal lebih tertarik sama buku daripada naisya. Hehehe

    BalasHapus
  3. Naisya kok dicuekin sama Faisal yaa..

    BalasHapus
  4. Mungkin yg ada di benak Faisal adlh membaca lebih penting dr segala-galanya.
    Heheee

    BalasHapus
  5. Naisya suka motong omongan ya... hehe

    BalasHapus
  6. Dicuekin tuh nyebelin loh...hehe

    BalasHapus
  7. Naisyaah sma Faisal kelihatan sudah akrab banget ya.. Hmnn

    BalasHapus
  8. Curiga faisal tidak normal hehe

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...