Rabu, 18 Mei 2016

Sebuah Buku



Faisal bangun lebih awal dari hari-hari biasa. Saat melihat layar ponsel, jam masih menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Lalu bangkit menuju kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Terletak di sudut ruangan. Usai menggosok gigi ia mengambil air wudhu baru setelah itu mengambil air minum dalam galon yang terletak sekitar satu meter sebelah kiri pintu kamar.

Faisal menghabiskan segelas air dengan menyisakannya sedikit. Kemudian berjalan mendekati rak buku untuk mengambil mushaf Al-Qur'an di bagian paling atas. Dan mengambil duduk di sofa samping meja belajar lalu membacanya sebentar.


Tepat pukul tiga dini hari Faisal menyudahi lantunan ayat tersebut berniat mengambil rakaat shalat tahajudnya. Faisal berusaha setenang mungkin, mencoba menghadirkan hati menikmati saat-saat indah bermunajat kepada-Nya. Berupaya khusyuk, berharap setiap sujudnya Allah terima sebagai ibadah yang ikhlas karena mengharap ridha-Nya.

Faisal baru saja menyelesaikan sebelas rakaatnya dilanjut dengan dzikir dan doa. Kini ia beralih pada tumpukan buku bacaan yang baru dibelinya kemarin, di atas meja belajarnya. Ia ambil satu buku paling atas. Baru saja ia ingin membuka sampul buku berjudul nutrisi hati itu tiba-tiba ponselnya berdering.

Faisal raih ponselnya lalu ia buka sebuah pesan yang ia terima. Ia baca sekilas, hanya pesan dari salah seorang teman satu grup menanyakan sesuatu padanya. Faisal jawab pertanyaan itu sebatas yang ia mampu. Selesai. Faisal letakkan ponsel itu di dekat tumpukan buku bacaannya. Barulah duduk tenang menunggu waktu subuh bersama buku nutrisi hati.

Seseorang menyodorkan dua buku dengan judul yang sama kepadanya, saat jarinya menelusuri satu per satu judul buku yang tertata rapi di barisan rak buku toko. Nutrisi hati, sebuah buku yang ditulis oleh seorang ulama kontemporer, Dr. Anas Ahmad Karzun. Ia hanya tersenyum sambil menerima buku itu. Satu buku masih terbungkus plastik, satunya lagi buku yang sampulnya sudah dibuka.

Faisal baca sinopsis di belakang buku tersebut. Faisal mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia merasa diingatkan lewat sinopsis yang dibacanya bahwa hati perlu banyak asupan nutrisi agar stabilitas kehidupan tetap terjaga. Ia tertarik untuk memiliki buku itu. Ia ambil dua buku berjudul nutrisi hati tersebut, berpikir akan menghadiahkan satu bukunya kepada seseorang. 

Adzan subuh berkumandang, Faisal mengambil air wudhu, bergegas pergi ke masjid bersama ayah. Menikmati suasana subuh hari ini. Udaranya tidak terlalu dingin. Arus lalu lintas depan rumah nampak sedikit lengang. Masjid pinggir jalan yang berjarak lima bangunan dari rumahnya hampir penuh oleh para jama'ah.

Faisal mengikuti ayah mengambil shaf di barisan ketiga. Karena shaf terdepan sudah terisi penuh. Shaf baris kedua demikian, masih tersisa dua, tiga orang itupun jauh dari jangkauan. Faisal shalat tahiyatul masjid. Baru setelah itu duduk tenang sambil menunggu iqamah.

Beberapa saat kemudian iqamah dan shalat subuh berjama'ah didirikan. Suasana nampak khusyuk dan khidmat mendengar setiap bacaan sang imam, hingga selesai. Kini satu per satu jama'ah meninggalkan masjid tak terkecuali Faisal dan ayahnya.

Faisal dan ayah berjalan pelan sambil bercakap menikmati subuh hari yang masih menyisakan keindahannya. Mengamati keadaan jalanan. Memperhatikan orang berlalu lalang. Jalanan yang tidak pernah sepi.

"Ayah dan bunda ingin sekali bisa bertemu dengan si Naisya itu, kap—"

"Ayah, hari ini Ayah harus ke kantor pagi-pagi, 'kan?" potong Faisal cepat.

Faisal tidak menduga bahwa ayahnya akan kembali membahas Naisya. Ia dengan sengaja memotong ucapan ayah sebelum lebih jauh membahas soal gadis itu. Sementara ayah hanya memandanginya tidak mengerti.

"Begitulah... kemungkinan Ayah juga akan pulang terlambat hari ini," jawab ayah santai, "sepulang kuliah nanti, antarkan bundamu belanja, ya!"

Faisal hanya menganggukkan kepala. Terus berjalan mengimbangi langkah ayah yang lebih cepat dari biasanya. Mungkin ingin segera sampai di rumah untuk menyiapkan berkas-berkas penting atau segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan sang ayah. Faisal sendiri sudah berencana menghabiskan waktu lepas subuh bersama buku bacaannya tadi.

Kini Faisal standby depan buku. Tiba-tiba bayangan Naisya tampak apung. Beberapa hari ini ia rasa lebih akrab dengannya. Bukan hanya itu, gadis itu bahkan semakin akrab saja dengan senior. Ucapan ayah tadi justru membuatnya galau. Bagaimana tidak, melihat keakraban antara mereka Faisal tidak yakin perasaannya terbalas. Ditambah lagi saat mendengar jawaban Naisya atas pertanyaan teman yang lain kemarin kala mereka terlibat obrolan ringan di kantin.

"Naisya akan menikah setelah dirinya datang melamar ke rumah," jawab Naisya antusias dengan senyuman indah terpahat di wajah manisnya.

Dirinya. Faisal tidak tahu siapa yang Naisya maksud. Jawaban teman barunya itu begitu ambigu. Banyak pertanyaan berkelebat memenuhi ruang otaknya. Sekali lagi, Faisal tidak yakin bahwa 'dirinya' yang gadis itu maksud adalah dirinya.

Sudut hati terus meyakinkan dirinyalah yang Naisya maksud. Tidak, itu terlalu memaksakan. Ia hanya berharap, jikalah bukan Naisya yang tercatat, setidaknya ia dan Naisya bisa bersahabat. Itu saja. Rasa memang tidak bisa ditebak. Kapan ia datang dan harus meninggalkan. Tetapi kepastian jawaban akan selalu didapatkan.

~~~
Lanjut ke episode 20.

Ainayya Ayska 

7 komentar:

  1. Faisal cari jawaban aja. Bias jelas

    BalasHapus
  2. Jika tak bersatu..tetap hrs bisa jd sahabat. Setuju!! 😀😀

    BalasHapus
  3. Kata2 org yg tak bisa memperjuangkan.. He..

    BalasHapus
  4. Iya Faisal tanyain langsung sama si Naisya..😆

    BalasHapus
  5. Iya, jangan dikira2 doang dong sal..

    BalasHapus
  6. Jangan terlambat Faisal. Ayo tanya!

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...