Selasa, 31 Mei 2016

Senandung Kearifan (Bag. 2)



"Hei, Senior... kau bijak juga orangnya," puji Naisya sambil berjalan di sebelah seniornya.

Tak menyangka dengan apa yang ditangkap oleh inderanya. Seorang perempuan yang sama sekali tidak dikenal sedang semangat memberi nilai kekurangannya. Satunya lagi senior menyebalkan yang pernah ia kenal tengah membelanya. Meski menyebalkan, tetapi Naisya salut kepadanya. Dan ia patut untuk berterima kasih.


Seperti yang pernah Faisal bilang, 'saat kita bisa menghargai hal kecil, InsyaAllah kita mudah mensyukuri hal yang besar.'

Senior menoleh ke arah Naisya, "kau memujiku atau meledekku?"

"Hei, adakah nada meledek dari kalimatku?" bantah Naisya sambil menghentikan langkahnya, "tidak bisakah kau membedakan antara memuji dan meledek?"

Senior menoleh ke belakang, ah, tepatnya ke arah Naisya yang sedikit tertinggal di belakang, ada senyuman tipis dari bibirnya yang tidak mungkin terlihat oleh orang lain. Menunggu Naisya kembali melangkah menghampirinya.

"Oya, ngomong-ngomong... syukran, sudah membelaku dari tiga perempuan tadi," ucap Naisya sambil tersenyum.

"Jangan ge-er! Aku tidak membelamu, hanya tidak suka saja mendengar ucapannya," tanggap senior berpura. Diam-diam ia tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Naisya saat ini. Terlihat Naisya susah payah mengimbangi langkahnya yang sengaja dipercepat.

"Hei, tidak bisakah kau pelankan sedikit langkahmu?" pinta Naisya. Kesulitan mengimbangi langkah senior yang besar.

"Aku tidak menyuruhmu untuk mengimbangi langkahku, Nona!" balas senior masih juga tidak memelankan langkahnya.

"Hei, setidak—"

"Setidaknya panggillah dengan namaku!" potong senior.

"Aku kan tidak tahu siapa namamu. Bagaimana bisa aku memanggil namamu? Menyebalkan," protes Naisya sambil menarik ransel milik senior dari belakang. Senior terpaksa berhenti sambil menoleh ke arah Naisya yang tampak kesal.

"Beritahukan siapa namamu!" perintah Naisya.

"Rafka," singkat senior.

Mendengar nama itu Naisya terpaku sesaat, Rafka. Lalu Naisya kembali melangkah meninggalkan senior itu.

"Hei, tadi kau memintaku untuk menunggumu mengapa sekarang kau meninggalkanku?" Rafka mengejar Naisya, "ada apa denganmu?"

"Namamu bagus juga..." Naisya kembali memuji dengan senyum tulusnya.

Senior hanya menaikkan alisnya. Adik tingkatnya yang satu ini memang luar biasa. Sudah kenal hampir... ah, senior tidak ingin menghitungnya, tetapi tidak tahu namanya juga? Dan sekarang begitu tahu namanya, Naisya mendadak diam. Ada apa dengannya? Rafka benar-benar tidak paham. Ia tak habis pikir dengan anak pindahan ini. Senior hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil mengimbangi langkah Naisya.

*****

"Hei, ini gimana rencana perjalanan kita? Sudah beberapa minggu ditunda, loh... kasian si Taufik harus batalin jadwal bus terus..." keluh salah seorang teman kelas.

Faisal menoleh sesaat mendengar itu. Rencana perjalanan mereka memang sempat tertunda beberapa kali sebab teman-teman mendadak ada acara yang tidak bisa mereka tinggalkan. Membuat Taufik harus bolak-balik ke agen bus merubah jadwal keberangkatan. Sebetulnya dari agen tidak masalah mengubah jadwal keberangkatan itu. Toh pembayaran sudah lunas dimuka. Tapi ini sudah kesekian kali perjalanan terpaksa ditunda hingga membuat beberapa dari mereka merasa jengah.

Faisal sendiri lebih ngikutin teman-teman saja kapan harus berangkat biarpun harus merubah jadwal. Bagi Faisal merubah jadwal yang ada bukan masalah. Yang penting semua bisa berjalan tanpa memberatkan.

"Request, dong. Naisya pesan kursi paling depan, yah..." seru Naisya dengan tawa renyahnya.

Faisal menimpuk ringan kepala Naisya dengan gulungan kertas yang ada di tangan. Positifnya berangkat kapan saja masih dibicarakan sudah pesan kursi terdepan.

"Kita ketambahan teman lagi dari kelas sebelah dan kakak tingkat. Sebetulnya hampir lima belasan orang yang ingin ikut. Cuma kursi hanya tersisa tiga," kata Taufik disela-sela percakapan mereka.

Rafka, salah satu teman yang Taufik maksud akan ikut perjalanan mereka. Kemarin ia sempat melihat Taufik dan Rafka membicarakan rencana perjalanan ini. Tidak heran jika Rafka tahu soal rencana mereka. Toh berita tentang rencana perjalanan mereka sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus ini.

Akhirnya diputuskan bahwa Ahad besok mereka akan berangkat. Dua hari lagi perjalanan wisata akan mereka tempuhi dalam waktu yang cukup panjang nan menyenangkan. Mereka akan menghabiskan liburan dengan bersenang-senang.

Naisya tiba-tiba termenung. Lepas kuliah nanti bersama Fuad, dia dan kakaknya akan pergi ke rumah Arif untuk meminta maaf atas kejadian makan malam itu. Begitulah, karena kesibukan kakaknya yang padat juga dirinya yang selalu banyak alasan, mereka baru bisa ke sana nanti. Itupun karena Fuad yang memaksa. Bukan sebab Naisya tidak ingin memaafkan, tetapi hanya belum mampu. Ntah mengapa sebentar lupa dan maafkan, di lain waktu kembali marah begitu seterusnya hingga saat ini. Naisya mendesah pelan. Menyembunyikan wajah di balik lengan di atas meja tulis.

Faisal terus memperhatikan. Ntah apa yang sedang dipikirkan gadis yang duduk di depannya itu. Ingin rasa bertanya, apa yang terjadi padanya. Lagi-lagi hanya diam memperhatikan yang ia bisa.

"Naisya, kau sakit?"

Seseorang yang duduk di sebelah kiri Naisya menyentuh bahunya pelan. Naisya mengangkat kepala, menoleh ke arah perempuan tadi dengan tersenyum hambar sambil menggeleng pelan. Lalu menegakkan badan dan mengubah posisi duduknya menyamping ke kiri. Menoleh ke arah Faisal dan mulailah bercerita. 

"Jadi itu yang mengganggu pikirannya?" Faisal menghela napas sebelum merespon setiap kata yang Naisya ucapkan.

"Padamkan api kemarahan dengan air kemaafan," singkat Faisal.

Mendengar itu justru membuat Naisya menampakkan wajah kesal. Lalu kembali duduk pada posisi semula. Mendapati itu Faisal menarik kursinya, menempatkannya di depan Naisya. Masih diam memperhatikan sikap kekanakan gadis di depannya.

Faisal memberi saran dan nasehat sebatas yang ia bisa. Yang Faisal pahami, Naisya hanya marah pada satu orang. Tetapi menurutnya, kemarahan Naisya tidak boleh berimbas pada orang lain. Terlebih pada kakaknya sendiri. Dan ini tidak benar.

"Bunda dan ka Naifah hanya mengesampingkan, Kaka! Bukan memaafkan. Mereka mengesampingkan ego demi kebahagiaan ka Naila. Apa Kaka tidak memahami itu?" Naisya melipat dua tangannya di depan dada. Wajahnya sedikit cemberut seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Faisal sedikit terkejut dengan kesimpulan yang Naisya ambil, "Ade tak boleh prasangka buruk gitu. Bagaimana bisa Ade mengambil kesimpulan bahwa mereka hanya sebatas mengesampingkan ego dan bukannya memaafkan?"

Naisya diam cukup lama. Dalam hati ia setuju dengan Faisal. Tetapi sebagian egonya masih juga tak mau kalah.

Faisal kembali bersuara. Setiap kali memberikan nasehat, ada-ada saja bantahan yang Naisya lontarkan.

"Ya sudah, terserah Ade maunya gimana. Ka Fuad, ka Naila, ayah dan bunda tak kurang-kurang ngasih nasehat ke Ade. Kaka hanya sedikit menambah apa yang Kaka bisa. Sebatas bantu apa yang Kaka mampu. Jika Ade tak indahkan, tak masalah. Tapi ingat, jangan biarkan hati Ade mengeras." Faisal berpura pasang wajah dingin. Bangkit dari duduk berniat meninggalkan kelas. Ah, tepatnya meninggalkan Naisya.

"Kaka, tunggu!" Pinta Naisya dengan wajah memelas, "Kaka marah?"

"Untuk apa? Adakah keuntungan jika Kaka marah? Seperti yang sudah Kaka katakan, Kaka hanya sebatas bantu apa yang Kaka mampu. Ade bercerita, Kaka dengarkan. Ade meminta pendapat, saran, dan nasehat, Kaka berikan. Diterima atau tidak, tidak ada paksaan," terang Faisal masih dengan wajah dinginnya.

"Baiklah... perlahan akan Ade coba. Ntar Ade ke rumah ka Arif untuk meminta maaf..." Naisya menundukkan kepala, "sekarang jangan acuhkan Ade lagi..."

Faisal tersenyum mendengarnya. Setidaknya ada harapan Naisya benar-benar akan memaafkan tante Lina meski itu membutuhkan waktu. Faisal berharap temannya yang satu ini tetap menjadi pribadi yang pemaaf dan menyikapi persoalan dengan lebih dewasa. Seperti tidak bisa diam mendapati Naisya berbuat demikian. Faisal menggelengkan kepala, "ntah kapan anak ini bisa bersikap dewasa..."

~~~
Lanjut ke episode 29.

Ainayya Ayska 

4 komentar:

  1. terbayar sudah penasaran tentang senior

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ingin penasaran lagi g, bun? Hehe

      Hapus
  2. Keren ceritanya mba, saya sudah baca semua dari awal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... makasih.. mba nindyah... sudah berkenan ikuti dari awal... :)

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...