Minggu, 01 Mei 2016

Siapa Dia (Bagian kedua)

Kisah lanjutan dari Siapa Dia. Yang belum baca sebelumnya, baca dulu yah... biar penasarannya terobati. Ehm,

"Kaka, bolehkah Ade bertanya sesuatu padamu?"

Aku menahan kepergianmu kala itu. Langkahmu terhenti namun kau tetap saja berdiri memunggungiku. Bahkan menoleh ke arahku tidak kau lakukan. Atau sekedar menganggukkan kepala dan sedikit bersuara memberi jawaban. Kau hanya diam, menunggu pertanyaan yang mungkin aku ajukan.


"Beberapa kali tanpa sengaja Ade melihat Kaka bersama seorang perempuan. Dan kelihatannya kalian sedang bertengkar. Siapa dia? Apa dia kekasihmu? Ah, maksudku... apa dia istrimu?"

Kau memutar badanmu menghadapku saat mendengar pertanyaanku. Seolah kau ingin menjelaskan tentang sesuatu. Lalu kau sedikit menghampiriku. Memberi jarak antara aku dan dirimu. Kau mulai tersenyum lembut.

"Dia bukan istriku ataupun kekasihku," jawabmu kala itu.

Aku sedikit bingung. Tetapi sepertinya kau menangkap sebuah tanya di wajahku. Sebelum kembali bersuara kau mengajakku duduk di sebuah bangku tak jauh dari tempat kita berdiri. Lalu kau menjelaskan semua. Bahwa dia adalah mantanmu beberapa tahun yang lalu. Aku sempat syok begitu mendengar bahwa dia adalah mantanmu. Itu artinya kau pernah pacaran. Padahal yang kutahu orang sepertimu adalah sosok yang menjaga diri dari pacaran sebelum pernikahan.

"Itu masa lalu. Masa dimana sebelum Kaka mengenal sunnah. Masa jahiliyah Kaka. Masa sebelum Kaka berhijrah."

"Lalu dengan alasan apa Kaka memutuskan dia?"

Aku terus bertanya. Semakin kau menjawab semakin bertambah pula rasa penasaranku tentangmu. Ceritamu mengalir begitu saja dan aku semakin larut seakan turut terlibat menjadi pemerhati kisah kalian berdua. Mendengar keberanianmu 'tuk berpisah darinya dari suatu hubungan yang tak semestinya adalah hal yang luar biasa menurutku. Satu alasanmu yang tidak bisa disanggah oleh apapun juga, alasanmu memutuskan dia hanya satu. Semua karena Allah.

Aku jadi teringat dengan satu buah senandung nasyid dari Tashiru yang berjudul maaf tuk berpisah. Nasyid itu cocok sekali dengan kisahmu dengannya hingga kau harus memutuskannya. Salah satu nasyid favoritku. Apa jadinya jika aku play nasyid itu saat dimana kau begitu antusias bercerita saat itu? Pasti indah, 'kan?

"Kaka masih mencintainya?"

Kau hanya menggelengkan kepala. Pertanda bahwa kau tidak lagi mencintainya. Kesimpulan yang aku dapat.

"Lalu kenapa dia selalu mengejar Kaka?"

Kau hanya menggelengkan kepala. Gelengan kepala yang hanya memberikan jawaban ambigu. Antara kau tak tahu atau kau tak ingin mengatakannya padaku. Tetapi aku tak bisa memaksamu untuk menjawab kepastian itu. Aku yakin, esok kau akan menceritakan semua.

Tapi sudahlah. Mendengar bahwa dia adalah mantanmu... mendengar betapa kau begitu mencintainya dahulu saja sudah membuat napasku terasa sesak. Tetapi aku bisa apa? Aku tidak berani berharap banyak darimu. Cukup dengan kau menjagaku dengan caramu aku sudah sangat bersyukur. Apalagi yang kuinginkan?

Aku jadi teringat saat kau mengatakan padaku, 'simpan air matamu. Air matamu terlalu berharga untuk orang seperti dia. Kepergiannya bukan untuk ditangisi atau disesali. Melainkan untuk disyukuri...'

Itu kalimat pertama yang kau ucapkan di pertemuan pertama kita. Saat itu aku sedang marah dan kecewa pada seseorang. Kau datang lantas mengatakan itu padaku. Seakan ada hikmah disana.

Engkau yang tidak kutahu siapa namanya. Jika yang telah terlewat bukan sebatas kebetulan, aku berharap bisa kembali Allah pertemukan. Bahkan aku berharap ada jalinan persahabatan antara kita. Dan jika kisah masih akan diteruskan, aku berharap kisah ini akan berpanjangan.

Nadilla Afrina 

1 komentar:

  1. Masih belum tahu siapa dia? Semoga dipertemukan kembali, aamiin

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...