Selasa, 28 Juni 2016

Hitungan Hari

Oleh : Ainayya Ayska

"Buruan bobo! Anak kecil engga boleh tidur terlalu malem."

Kalimat itu mengingatkan Afrina pada dua kakak. Tetiba kangen ngobrol bareng sama mereka. Biarpun sebatas via whatsapp. Setidaknya mampu menghibur ..., hati.

"Huft. Mereka apa kabarnya, sih? Tidakkah mereka kangen sama adiknya yang satu ini?" gerutunya sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Langkahnya gontai, wajahnya nampak kusut, menghempaskan diri di sofa sambil memeluk bantal sofa berwarna peach. Menghela napas singkat lalu menerawang ke langit-langit ruang tengah rumahnya.

Malas. Yang ia rasa. Tak sedang bersemangat untuk berkarya. Hari semakin siang, sama sekali tak ada tanda untuknya berbuat. Ntah apa yang terjadi dengannya hari ini.

Ingin cerita pada dua kakak. Tetapi rasanya tidak. Yang satu pastinya sibuk, lainnya ntah bagaimana kabarnya. Ia sudah menghilang sejak lama. 

Kalau Afrina mau, ia bisa saja cerita sama kakak yang sibuk, tapi tidak. Bahkan Afrina sendiri bingung harus memulai darimana. Tunggu, bukan itu. Dia hanya tidak tahu apa yang akan dia cerita.

Lagian ..., kalau hanya ngobrol berdua ia rasa kurang asyik. Harus ada dua kakak. Itu inginnya. Meski sekarang nampaknya mustahil ada.

Mereka memang tak ada hubungan darah. Tetapi dua kakak begitu memanjakan dan menyayanginya.

Ah ..., setidaknya itu dulu. Beberapa bulan yang lalu. Bulan? Lebih tepatnya satu tahun yang telah habis masa untuk mereka bisa bersama.

Ingin kembali merajut kisah, antara dua kakak dan Afrina. Tetapi .... 

Afrina, tersenyum hambar. Menggelengkan kepala pelan. Pertanda bahwa itu tak akan mungkin terulang. Semua sudah berakhir dan tak akan mungkin hadir untuk kedua kali.

Pertemuan mereka, telah menjadi perpisahan. Persahabatan yang pernah ada, tinggallah kenangan. Kebersamaan mereka kini tersisa bayang-bayang.

Hanya itu.

Bagi Afrina, kesudahan pertemanan mereka ...,

"Ya, sudah. Semua pilihan. Pertemuan dan perpisahan satu keniscayaan. Biarlah mereka terbang bebas bersama angin kerinduan yang tak berarah. Lepas."

Dalam pertemuan yang singkat, tak ada gores pertengkaran terbuat. Tiada kata yang terucap.

Diam ..., pelan ..., tak bersuara. Pergi dalam kebisuan dengan ragam pertanyaan tak berjawab.

"Pertemuan yang unik," gumamnya tersenyum kecut menyaksikan babak demi babak perjalanan mereka.

"Keakraban yang cukup cepat dalam perjalanan yang singkat. Miris." Afrina bersandar di punggung sofa, menjatuhkan kepala di sana.

Saat yang lain sibuk menghias lukisan mereka, tidak dengan kami. Persahabatan kami seakan terbentuk begitu saja. Pena itu berjalan apa adanya hingga membentuk lukisan yang sulit untuk diartikan.

Menerka tak mungkin, kepastian ..., ntahlah. Aku tak memahaminya.

Tak ada pertengkaran berarti karena dua kakak begitu dewasa menyikapi.

Tentu saja, mereka yang selalu mengalah pada adiknya ini. Masa iya, adik yang mengalah. Rasanya aneh kalau harus aku yang mengalah. Itu bukan pilihan yang imbang.

Egois. Bisa jadi. Tapi ...,

Hei ..., tunggu! Kalau mereka saja tidak berkeberatan mengapa kau yang protes? Menyebalkan.

InsyaAllah, antara kami tidak pernah saling dendam. Apalagi simpan kebencian. Kami ..., saling sayang.

Kakak yang menghilang, darinya aku bisa belajar. Tentang bagaimana semangat jalani hidup ..., tentang ..., banyak hal yang tak mungkin kusebut satu-satu. Itu ..., melelahkan.

Juga karena aku engga mau dia berujar, "itu berlebihan."

Jadi kucukupkan sekian.

Kakak yang kini sibuk, dan bertambah kesibukannya, "terima kasih karena masih ada untuk Adik .... Maaf, yah ..., sampai detik ini pun Adik tak jua bisa balas hadiah yang pernah Kakak hibahkan."

Perlahan namun pasti, mata itu terpejam. Afrina, nampak lelah. Wajahnya yang teduh, damai dalam pengembaraan.

#one_day_one_post 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...