Kamis, 09 Juni 2016

Renungan Hati Ainayya



Oleh : Ainayya Ayska
One Day One Post


Rumah tahfidz. Begitulah aku menyebutnya. Masih segar diingatanku saat-saat awal aku menjadi bagian dari keluarga besar disana.

Umm Nafisah —bukan nama sebenarnya. Yang jauh kukenal sebelum diriku bergabung bersama keluarga rumah tahfidz mengatakan, bahwa beliau telah lebih dulu di sana. Dan itu membuatku takjub.


Scara, beliau yang seorang ummahat dengan segudang kewajiban dan tanggung jawabnya saja begitu semangat dengan tekad yang kuat bisa menjadi hafidzah.

Lantas bagaimana dengan kita yang masih muda? Terutama Ainayya ini nih, yang masih belum punya banyak aktivitas.

"Helloow... Ainayya, bangunlah dari kelenaanmu! Jangan jadikan alasan untuk menutupi segala kemalasan yang ada padamu." Sisi hatiku berteriak. Merasa malu pada diri.

"Okey, seperti yang sudah kau tahu. Malas, adalah rasa yang tidak bisa hilang dari diri manusia. Tapi bukankah rasa itu bisa dikelola?" Sisi hatiku yang lain coba menasehati.

Aku coba muhasabah.

Futur iman. Mungkin setiap kita pernah mengalaminya. Sebagai orang yang beriman tentunya kita tidak ingin terus menerus berada di zona tidak aman itu. Karena itu berbahaya. Bisa-bisa kita terhenti dari melakukan ketaatan. Naudzubillah.

"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari sifat malas..." lirihku.

Selain itu... maksiat, dosa, dan penyakit hati bisa menjadikan kita berat melakukan ketaatan. Jelas kita tidak inginkan hal itu. Bagaimana jadinya kalau kita tidak diinginkan Allah untuk berbuat kebaikan?

"Astaghfirullah..., aku berlindung pada-Mu, ya Allah..." aku masih terus berdoa, "lindungilah hati ini dari segala macam maksiat. Sebab Engkaulah sebaik-baik penjaga hati."

Aku jadi merasa khawatir.

Saat hati merasa berat dan malas melakukan ketaatan, ketika aku tidak Allah pilih menjadi hamba yang bersemangat dalam melakukan kebaikan, harus bagaimana lagi aku mampu berdiri? Astaghfirullah...

"Ya 'Afuw, yang Maha Pemaaf, maafkan atas setiap kelalaian dan kesalahanku..."

Bukankah malas dalam ketaatan juga merupakan hukuman dari Allah atas kelalaian dan dosa dalam diri kita? Astaghfirullah...

"Ya Ghafur, yang Maha Pengampun, ampuni atas dosa-dosaku..."

Aku terus berdoa, memohon pada Allah Ta'ala untuk dimaafkan setiap kesalahan dan diampuni dari segala bentuk dosa dan kemaksiatan. Dan aku... tidak boleh berhenti berdoa dan berusaha perbaiki semua. Jangan sampai aku putus asa dari rahmat-Nya.

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az Zumar : 54)

"Ya Allah, ijinkanlah aku kembali..."

Telah berlalu waktu
Hari-hari tiada arti
Tiada tujuan pasti
Kan kemana diri ini

Tersapa senandung nasyid dari seismic.

"Pas banget dengan apa yang tengah kugalaukan saat ini," pikirku.

Izinkanlah aku kembali
Bersujud dan berdoa lagi
Lalu teguhkanlah aku disini
Didekat cinta dan maaf-Mu...
ya Rabbi...

Betul, itu potongan nasyid bertajuk izinkanlah aku kembali. Ntah mengapa teringat itu membuatku benar-benar merenungi hari-hariku yang tersia kerana seringnya diri menunda, tidak menyegerakan kebaikan yang mampu dilakukan. Astaghfirullah...

Baik, sampai di sini, dan sekarang kembali ke awal lagi. Tentang rumah tahfidz.

Dari umm Nafisah-lah, aku termotivasi untuk ikut bergabung di sana. Jauh sebelum mendapat info itu sebenarnya aku sudah pernah dengar tentang rumah tahfidz tersebut.

Tetapi saat itu aku belum ada rasa tertarik untuk ikut terjun. Sebab... ah, sepertinya aku mulai kembali beralasan.

Beliau yang mengajakku untuk bersama menjadi bagian dari mereka. Awalnya sempat ragu, "adakah aku mampu konsisten nantinya, tiap hari harus setor hafalan?"

Dan, yah... seperti kita tahu.. meskipun hanya satu ayat per hari, jika tidak dibarengi dengan tekad yang kuat, maka satu ayat pun terasa berat. Astaghfirullah...

Disinilah aku menyadari, bahwa keikhlasan niat diuji dan masih belum bisa terlewati.

Umm Nafisah, umm Dafina —bukan nama sebenarnya. Adalah mereka salah satu sosok yang selalu menyemangati anak didiknya yang satu ini. Tiada lelah memompa semangat para anggota untuk tetap pada misinya di awal, menghafal Al-Qur'an.

Ternyata bisa istiqamah menghafal itu butuh perjuangan ekstra untuk bisa melaluinya. Setidaknya untukku, santri yang paling rajin timbul tenggelam.

Ibarat pelangi, sebentar datang kemudian pergi. Begitulah aku di rumah tahfidz. Sebentar menghilang, lalu kembali ke permukaan. Miris memang. Astaghfirullah...

Hingga aku dikenalkan dengan ODOP oleh seseorang yang akrab kusapa, kakak. Sama halnya sebelum aku memutuskan bergabung di rumah ODOP. Ada ragu saat itu, "adakah aku mampu membangun konsisten itu?"

Tetapi semangat kakak yang mengajakku gabung kembali membangun motivasi di kedalaman batinku, "InsyaAllah aku mampu."

Well, aku berusaha menyusun kepercayaan diriku lebih dulu. Terlepas dari mampu tidaknya tetap menjaga konsistensi itu, yang penting ada usaha. Dan aku... harus optimis.

Baik, bicara soal usaha. Aku jadi ingin bertanya pada diriku, "sudah seberapa jauh ikhtiarmu dalam menghafal Al Qur'an? Sudah berapa juz yang mampu kau hafal? Lupakah kau dengan keutamaan penghafal Al-Qur'an atau justru kau belum mengetahuinya?"

Astaghfirullah.... Aku terdiam cukup lama. Seakan tak mampu menjawab pertanyaanku sendiri. Atau justru merasa malu untuk menjawabnya.

Suatu ketika, ntah kapan dan itu sudah lama hingga aku tak mengingat waktunya, aku pernah iseng mengirim tulisanku ke rumah tahfidz. Tara... dibaca dah sama umm Dafina.

Masih kuingat jelas beliau langsung menyambut dengan hangat, "jadi ini... yang membuatmu lama menghilang? Engga papa, tapi menghafal dan muraja'ahnya jangan dilupa, ya, harus tetap jalan."

Aku nyengir seraya menjawab singkat, "InsyaAllah, Ummi..."

Well, aku juga bingung dengan diriku sendiri mengapa hobby amat hilang muncul begitu.

"Ainayya... jangan cuma inspirasi nulis, dong, Ainayya sayang. Tapi juga terinspirasi dalam setoran hafalan Qur'annya, ya..." nasehat umm Nafisah.

Kembali hanya bisa tersenyum sambil menjawab singkat dengan ekspresi imut menutup mata, "InsyaAllah, Ummi..."

Menjelang ramadhan kemarin, umm Dafina sempat kembali memberi pasokan semangat untuk para anggotanya. Kalimat beliau yang masih kuingat, "di bulan ramadhan setan-setan dibelenggu. Jadi kalau kita masih malas-malasan menghafal, berarti itu datangnya dari diri kita sendiri, yah..."

Aku tertegun. Mendadak berada di antara tangis dan menertawakan diri sendiri. Mantap ummi pengingatnya. MasyaAllah... dua ummahat dari rumah tahfidz dengan semangat luar biasa.

Setuju. Saat ramadhan setan-setan memang dibelenggu. Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam hadits.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Dan seharusnya di bulan yang suci dan penuh berkah ini, kita jadi lebih bersemangat dan mudah dalam melakukan kebaikan dan ketaatan. Terutama kau, Ainayya. Jangan malas-malasan. Ingat!

Dan bila memang masih saja tidak berubah, bisa jadi disebabkan oleh dorongan hawa nafsu yang mengajak pada hal-hal kurang bahkan tak baik. Wallahu a'lam. Begitulah kira-kira yang pernah Ainayya dapat pahami saat belajar.

"Kasih semangat Ainayya dong... gimana menghafal?" Dengan polosnya aku meminta kembali suplai semangat.

"Seribu penyemangat engga ada artinya kalau semangat tidak ada dalam diri sendiri. Coba tanya dalam diri Ainayya kenapa ada di grup ini? Allah sudah kasih jalan yang lurus, tinggal kitanya mau belok atau mau balik. Semangat, ya, Ainayya sayang..." jawab umm Dafina ketika itu.

Telak, hanya bisa nyengir dan tersenyum tidak jelas. Berani mengakui bahwa yang umm Dafina katakan adalah benar. Luar biasa.

Selain itu, bersamaan dengan aku memasuki rumah ODOP, aku mengenal sosok luar biasa yang lain, InsyaAllah beliau juga seorang penghafal Al Qur'an.

Semangatnya memotivasiku untuk kembali bangkit. Duh, Ainayya gaya. Tetapi yang umm Dafina katakan masih terekam jelas, 'seribu penyemangat engga ada artinya kalau semangat tidak ada dalam diri sendiri.'

Jadi Ainayya. Bangun semangat dalam dirimu! Jangan cakap saja, tapi cobalah realisasikan dalam kehidupan nyata.

"Ya Allah, berilah hidayah dan taufik-Mu padaku, hamba-Mu yang lemah tak berdaya tanpa pertolongan dari-Mu..."

"Laa hawla wala quwwata illa billah..."

Lagi, di rumah yang lain. Ada seorang kakak —karena Ainayya memang lebih muda dari mereka, duh, senangnya— yang bertanya, "pada punya target ibadah apa di bulan ramadhan tahun ini...?"

Seorang kakak yang lain menjawab dengan mantap, "Targetnya ampunan Allah."

"Kaka nii, kalau itu pasti, Kaka..." sahutku seiya dengannya.

Dan, Ainayya, sekarang pilihan ada di tanganmu. Kau bebas untuk memilih. Namun yang harus kau ingat, bahwa setiap pilihan mempunyai konsekuensi dan pertanggung jawabannya masing-masing.

Adakah ingin menjadi pribadi yang beruntung, merugi atau celaka.

Tentu saja aku dan InsyaAllah setiap kita ingin sekali termasuk golongan orang yang beruntung. Dengan keimanan, akhlak, dan pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Mudah dan semangat dalam melakukan kebaikan dan ketaatan. Peroleh ampunan dari Allah pun pahala dan ridha dari sisi-Nya.

Sebelum kusudahi tulisanku di kesempatan ini,

Jazakillahu khairan untuk umm Dafina, umm Nafisah, juga teman-teman dari rumah tahfidz yang maaf tidak bisa Ainayya sebutkan satu per satu, atas suntikan semangat dan nasehatnya, juga terima kasih masih berkenan menerima Ainayya disaat seharusnya sudah meninggalkan rumah tahfidz kita.

Jazakumullahu khairan untuk bang Syaiha dan teman-teman ODOP, terkadang Ainayya berasa ditampar halus oleh tema religi yang kalian angkat dalam tulisan kalian. Merasa kembali diingatkan.

Jazakillahu khairan untuk kakak-kakak dan teman-teman yang selama ini memberikan nasehat-nasehat berharga kalian terlewat tausyiah yang dibagikan.

Begitulah... semoga tulisan Ainayya kali ini benar-benar bisa menjadi bahan renungan terutama untuk Ainayya. Semoga Allah menyelamatkanku dari sifat malas yang berkepanjangan. Mampu bangkit kembali dengan semangat luar biasa yang pernah ada.

Semoga di ramadhan kali ini, benar-benar bisa memaksimalkan waktu untuk ketaatan, bersegera menuju ampunan-Nya. Mempersibuk diri untuk memperindah akhlak.

Yang tak kalah penting, semoga benar-benar bisa merealisasikan dalam kehidupan nyata. Tidak hanya dalam tulisan dan lisan semata.

Ingin rasa diri yang lena selalu mendapat curahan kasih-Nya. Dalam setiap harap dan doa, tak henti aku meminta petunjuk-Nya.

"Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinika."

Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu.

Wallahu a'lam 

6 komentar:

  1. Betul, seribu penyemangat tak akan ada artinya jka tdk didorong oleh kemauan dan tekad yang kuat dr dalam diri, krn sungguh... motivator paling berpengaruh itu adalah diri kita sendiri..

    semangat, menghafalnya, Nad.. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jazakillahu khairan, kaka...
      Semoga istiqamah...
      #nangis

      Hapus
  2. Balasan
    1. InsyaAllah, makasih... bang gilang, :)

      Hapus
  3. Jazakillah atas motivasinya, mba Nadila.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa anti jazakillah, mba dewi...

      :)

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...