Minggu, 12 Juni 2016

Takdir Sebuah Rasa (Bag. 4)


Ntah karena ketidakpekaan atau apa, dia terkadang tidak menyadari bahwa dirinya itu istimewa.

Farhan kembali menulis. Ayska sudah pada posisi semula bersama buku di genggaman tangannya. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hanya angin dari pucuk pepohonan yang berdesir sesekali menyapa mereka. Seakan mengajaknya bicara.

"Seperti saat ini. Dia tidak peka kalau tokoh dalam tulisan yang kuceritakan adalah dirinya," kata Farhan dalam hati sambil memandang Ayska yang tampak tenang.

"Astaghfirullah..." pekik Ayska, "Ade lupa kalau harus bertemu seseorang."

Farhan tak menyahut, sibuk memperhatikan tingkah Ayska yang nampak tergesa.

Seketika Ayska kembali duduk sambil menepuk dahinya, "ayah belom pulang."

Ayska tampak berpikir. Lalu meraih ponsel pintarnya. Ntah apa yang Ayska lakukan disana. Mungkin menulis pesan untuk seseorang.

"Naik taksi saja, deh." Kembali Ayska letakkan ponsel itu di atas meja.

"Naik bus aja, yuk! Kaka antar. Sekalian Kaka ingin jalan-jalan," sahut Farhan membuat Ayska urung berdiri.

Ayska menatap penuh selidik.

"Besok kalau kita dah nikah, baru deh Kaka akan jadi sopirnya Ade," seloroh Farhan, tertawa penuh kemenangan melihat ekspresi Ayska saat ini.

"Kaka lupa dengan tambatan hatimu nan jauh disana?" balas Ayska. Tidak bisa menyerah begitu saja.

Farhan bosan mendengar kalimat Ayska. Ntah kapan anak itu merevisi kalimatnya. Salahnya juga mengapa dulu pernah menaruh hati pada si dia yang kini ntah apa kabarnya.

"Imbang." Ayska tertawa penuh menang. Bisa membalas candaan Farhan adalah kesenangan tersendiri untuknya.

Farhan hanya menggeleng pelan. Membiarkan Ayska masuk ke rumah. Kemudian bersandar di punggung sofa sambil menghela napas.

Sedikit lega. Setidaknya ia bisa jalan-jalan setelah beberapa hari ini terpenjara di rumah, "si ade bisa dijadikan alasan juga 'tuk bisa jalan."

Setelah kepulangannya, bunda memang belum mengizinkannya keluar untuk jalan. Disamping untuk istirahat, ia juga memiliki beberapa tugas yang harus diselesaikan. 

Hari ini, dengan alasan mengantar Ayska, ia yakin, rencana jalan akan bunda izinkan.

"Sudah siap jalan?" tanya Farhan begitu melihat Ayska keluar bersama tas selempang kecil di sebelah bahunya.

"Menurut Kaka?" Bosan Ayska.

Farhan tertawa lepas. Ayska benar, tanpa bertanya sebetulnya Farhan sudah tahu jawabannya.

Farhan matikan laptopnya lalu beranjak menyusul Ayska yang sudah sampai di depan. Tanpa dipinta, Ayska paham bahwa mereka harus ke rumah sebelah —kediaman Farhan dan keluarga— lebih dulu.

Selain untuk memulangkan laptopnya, Farhan juga harus pamit pada bunda yang kebetulan sibuk di rumah.

"Bun, Farhan mau keluar antar si ade," seru Farhan saat menuruni tangga setelah menyimpan kembali laptop kesayangannya.

Ayska yang tampak sibuk memperhatikan kegiatan Dafina —bundanya Farhan— spontan menoleh ke arah Farhan.

"Obatnya sudah diminum, Sayang?" Dafina coba memastikan bahwa Ayska tidak terlambat minum obat.

Ayska tersenyum lembut sebagai jawab. Dafina tak mengerti kepastian jawaban Ayska. Yang Dafina tahu, Ayska tak mungkin tidak meminumnya.

"Hati-hati, segera pulang setelah urusannya selesai..." pesan Dafina pada mereka.

*****

Farhan dan Ayska berjalan untuk sampai di halte bus yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.

"Hei, Nona! Sepertinya ada yang berbeda darimu. Kau tidak sebawel Ayska yang dulu. Kenapa? Apa ada masalah?"

Ayska sedikit mendongak menatap ke arah Farhan. Dilihatnya Farhan tengah menatapnya menunggu jawaban. Ayska menunduk sesaat sebelum kembali memandang ke depan.

Hening. Tak ada tanda Ayska akan angkat bicara. Ntah apa yang terjadi pada anak itu. Sulit untuk memahami Ayska yang sekarang.

"Hei, bawel! Kau betah sekali diam tak bersuara." Farhan masih menunggu respon gadis disebelahnya.

"..."

"Hei, Ade! Kaka sedang bicara denganmu."

"..."

"Hei, Manis! Setidaknya katakan sesuatu..."

"Kaka kenapa dari tadi ribut?" Ayska mengambil duduk di bangku halte yang kosong sambil menunggu bus datang.

Farhan masih berdiri menatap Ayska santai. Akhirnya anak itu bicara juga. Ia ambil ponsel pintar dari tangan Ayska, membuatnya sedikit mendapat tatapan tajam dari pemilik ponsel.

Farhan tergelak. Tidak peduli setajam apa tatapan yang Ayska beri. Baginya, tatapan tajam itu justru terkesan lucu.

"Setidaknya berhentilah barang sebentar menyibukkan diri dengan gadgetmu, Nona!"

Ayska hanya memutar bola matanya. Lalu berdiri, bersiap menyambut bus yang terlihat menepi. Farhan demikian, seakan melindungi Ayska dari amukan para penumpang yang berdesakan.

Begitu bus berhenti, Ayska naik disusul Farhan setelah dipastikan tidak  ada lagi penumpang akan turun dari pintu belakang. Dilihatnya kursi penumpang tampak penuh. Terpaksa mereka harus berdiri.

"Kenapa tadi kita tidak naik taksi aja, sih, Kaka?" Ayska sempat protes ketika merasa tak lagi nyaman. Sedikit bergeser ke arah Farhan.

Farhan paham. Mungkin karena beberapa orang di sebelah tempat Ayska berdiri.

"Mas, bisa sedikit maju? Di depan agaknya masih kosong." Farhan menepuk bahu seorang lelaki di sebelah Ayska.

Ayska diam memperhatikan mereka. Lelaki itu lantas tersenyum keki sambil selangkah maju, menjauh darinya. Lalu menatap Farhan yang tersenyum menatap dirinya.

"Berapa lama lagi kita akan sampai, Kaka?"

"Tak lama lagi," Farhan melihat jarum jam di tangannya, "mungkin seperempat jam lagi."

Tak akan lama? Bagi Ayska lima belas menit terperangkap dalam situasi bus seperti ini bukanlah waktu yang sebentar. Belum lagi saat bus harus berhenti untuk menurunkan atau mengangkut penumpang, terjebak macet, tentu akan memakan waktu lebih lama lagi.

Ayska menoleh ke belakang saat seseorang menepuk pundaknya, "sini, Nak! Nenek sudah akan turun..."

Ayska memandangi Farhan yang dijawab dengan anggukan dan senyuman tipis. Ayska menurut, mengambil duduk di sebelah perempuan yang nampak terlelap dibuai mimpi.

Ayska memperhatikan perempuan di sampingnya. Ada gurat kelelahan disana. Pastilah seorang ibu paruh baya itu kelelahan setelah seharian bekerja. Ayska tersenyum, setidaknya itu sebatas yang ia pahami saja.

Dalam diam Farhan tersenyum memperhatikan Ayska yang sibuk memperhatikan situasi bus. Pastilah ini kali pertama Ayska merasakan naik kendaraan umum beroda empat seperti sekarang ini.

Selama ini Ayska selalu diantar atau menelepon taksi langganan keluarga mereka. Atau kalau tidak, Ayska akan menelepon kantor ayahnya, meminta sopir perempuan untuk mengantar atau menjemput dirinya.

"Ade...,"

—————

Lanjut ke Bag. 5.

Ainayya Ayska 

4 komentar:

  1. aku ada yang kelewat apa yaaaa...yang tentang naila, nafisha, itu udahan ceritanya?

    BalasHapus
  2. Belum, bun lisa,
    yg Naila, Naifah, Naisya Belum selesai... hehehe

    Kalau ini beda cerita, :)
    Di post sebelum kisah Naisya... ni lanjutannya, hehe

    BalasHapus
  3. Belum tamat juga mbk Ainayya kisah ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, belom... ada dua cerita loh.. pada engga bingung kan?

      Naisya <> Faisal
      Ayska <> Farhan

      Dan yg ini Ayska <> Farhan or Farhan <> Ayska

      Hehee

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...