Kamis, 21 Juli 2016

Cari Tercuri Mencari-cari

Oleh : Ainayya Ayska

"Mba, gimana, sih, supaya kita engga stress hadapin suara orang?"

Satu kesempatan, tepatnya beberapa waktu lalu, saat bertemu, ada yang bertanya, ah, maksudnya meminta pendapat pribadi. Nah, itu mungkin lebih tepat, versi Ayska.

Suara orang. Cling. Seper-sekian detik otak ini Alhamdulillah mampu menerjemah. Jelas itu komentar negatif dari segelintir orang. Memangnya apalagi?

"Abaikan," jawab Ayska singkat pun amat mantap.

Itu yang Ayska ambil selama ini.

Sebab, sebagian besar komentar manusia itu nyakitin jiwa. Ah, setidaknya itu yang pernah Ayska terima.

Menyuruh mereka diam adalah percuma. Satu yang bisa Ayska lakukan hanya menutup telinga.

Menutup telinga dari suara-suara mereka yang kita tak suka.

Mungkin kita tidak bisa mengendalikan orang lain. Tetapi ada sikap bijak untuk dapat kita ambil. InsyaAllah. 

Meski sulit pun acap kali gagal. Setidaknya itu lebih berguna daripada menutup mulut mereka yang suka seenaknya.

Menilai dan berkomentar adalah hak diri. Tetapi segelintir dari mereka atau kita, terkadang melebihi. Itulah yang kerap terjadi. Bukan apa, sebatas yang pernah Ayska temui.

Giliran mereka dicaci balas maki. Begitulah hati. Umumnya senang dipuji, murka bila dilukai. Me-maksimal terlihat baik di mata manusia. Tingkat tinggi sembunyikan cela diri. 

Padahal, sih, diri suka mencari. Tapi ... begitu tercuri, ehm, sembunyi mencari-cari.

"Maksudnya?"

Tak apa, lupakan.

Kawan, hidup itu sederhana. Stres karena penilaian orang? Intinya jangan baper.

Kalau dirasa komentar itu baik sebagai nutrisi, bolehlah kita timbang. Namun jika tidak bergizi, tinggalkan. Itu kalau Ayska, Kawan. 

Jadi tak selalunya harus abaikan. Jangan disalah paham, ya, Kawan. 

Kawan, 
Ada hal yang terkadang tak bisa kita lakukan. Sehingga diam bisa menjadi jawaban.

Terkadang ada hal yang tak mungkin kita hindari. Namun dengan kita tersenyum, mungkin akan lebih berarti. Minimal bisa kurangi beban hati. Menjadi pembuka jalan untuk ikhlasnya diri.

Mungkin pernah kita jumpai, seseorang berkomentar buruk hingga lupa batas diri. Sementara kita, coba rasa ingin abaikan. Sempurna gagal.

Ingin kita membantah, tapi coba kita tahan. Karena merasa tak sampai hati, terlebih kita masih 'cukup' mampu berpikir jernih.

Meski lisan terdiam dan benak berdendang, tapi rasanya baik menjadi pilihan. Setidaknya menjadi awal untuk kita belajar tentang kesabaran. Belajar cara mengelola emosi yang ujungnya membuat kita kaya hati.

Toh saling membalas buruk bukanlah hal yang bijak. Adapun membalas baik, tersenyum, atau minimal diam terkadang menjadi alternatif yang tepat. 

Bertahan untuk tidak balas melawan? Ini tantangan. Memang. Teori itu gampang. Sementara aksi, itu tidaklah ringan. 

Iya, Ayska pula paham. Setidaknya kita punya modalnya dulu, bukan? Sementara nyatanya tindakan, InsyaAllah bisa kita usahakan. 

Saat dimana kita dapatkan pembuka jalan kebaikan. Jangan sampai kita abaikan kesempatan. 

"Kenapa, sih, segelintir orang hobby mengata?"

Pertanyaan tanpa jawaban. Ah, setidaknya menurut Ayska.

Yang tahu alasannya mungkin hanya dia yang mencela. Kalau kita mah hanya bisa menerka. Ah, tidak. Cukup prasangka baik saja.

"Biarkan saja atau nasehati dia?"

Diawal mungkin baiknya kita coba nasehat. Adapun tidak diterima, itu urusan dia. Utama kewajiban kita telah gugur atasnya.

Nanti juga lama-lama dia lelah sendiri. Ringkasnya. Tapi fakta, terkadang tak nyata. Biarpun begitu, apa salahnya? 

Bukankah kita dianjurkan untuk saling bernasehat?

" ... saling menasehati di dalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran." (QS. Al-'Asr : 3)

Kita mungkin terlampau sering jumpai ayat itu, dong. Bersyukur kita tiap dipertemukan dengan nasehat indah dari-Nya.

Alhamdulillah. 

Tapi ingat, harus tahu adab dan tempat. Jangan asal dapat sempat, kita terburu beri amanat. 

Jika tidak diterima, jangan serta merta mengata sombong. Koreksi lagi caramu, adakah adabnya sudah baik atau justru keliru. Nah, loh? 

Tentunya kita masih ingat, dong, dengan salah satu syair Imam Syafi'i yang begitu indah itu. Terlewat syairnya, InsyaAllah ada pelajaran berharga yang bisa kita dapat. Tentang bernasehat. 

Satu kesempatan mungkin kita jumpa. Seseorang ringan-ringan saja bilang, "kalau aku, mau nasehat itu saat sendiri atau ramai, sama saja. Terima saja."

Yang lain, mungkin juga kita sepintas berkomentar, "boong banget."

Namun, sudut hati yang lain coba berbisik, "husnudzan saja .... Barangkali memang benar seperti itu. Tak hanya tersebab malu. Menghindari label sombong yang mungkin akan orang sematkan."

Mencari aman. Kalau mencari aman dari omongan orang mungkin gagal menghindar.

Sebab  sebaik atau seburuk apa, mungkin kita pernah menjadi bahan perbincangan. Ntah terang-terangan atau dibelakang. 

Begitulah hidup. 

Lucunya, dari kita terkadang (mungkin pernah) lebih peka dengan cela orang lain. Hingga kita lupa berkaca. Kita pun sama tiada sempurna, tak jauh beda atau mungkin justru lebih buruk dari mereka.

Lihai menilai sehingga lalai. Aduhai, hatimu terkulai.

Dalam suatu kesempatan ada yang bilang, "Afwan ikut menyimak, tolong sedikit dewasa ya ukhty yang punya wa (nomor tak perlu disebut. Ehm, intinya Ayska yang dimaksud) sesuai grup sebagaimana fungsi dan tujuannya. Demi kemaslahatan bersama."

Ehm, thayyib. Definisi dewasa menurut Anda itu apa? 

"Hei, Ayska. Siapa yang kau tanya?"

Ehm, mungkin yang beri kata kalimat tersebut.

Definisi dewasa menurut Anda gimanalah dulu. Baru setelahnya rangkaian kata kita susun. Ehm. 

Dalam banyak sedikit kasus ada yang bilang, "de Ayska kecil-kecil dewasa juga."

Relatif. Mungkin begitu Ayska mudah menyebut. Semoga memang tidak tersalah istilah.

Dikata kekanakan, kedewasaan yang kurang. Lantas apa masalahnya jika Ayska nyaman? Adakah yang salah jika Ayska justru senang? 

Dibilang dewasa, baik dalam melihat persoalan. Ehm, bahkan Ayska merasa mungkin itu semata kebetulan. Apa yang patut untuk dibanggakan? 

Kita sadari betul, ada lebih dan kurang.

"Hei, Ayska. Kenapa, kau jadi keluar tema?"

Aduh, baru sadar. Baiklah. Lupakan apa yang tak sesuai tema sebelumnya. 

Daripada saling meninggalkan, kenapa tidak jalan bersisian? Berusaha tidak tinggalkan cela ketika berfatwa. Sampaikan dengan cinta. Jangan menggulingkan. Kita sama berjalan bergandengan tangan.

Indahnya persaudaraan dalam keimanan. InsyaAllah, bersama jejak kaki, menggapai kebahagiaan hakiki. Hingga kembali kita bertemu di surga nanti. Aamiin ....

Sekian, maafkan bila ada yang terkhilaf dari lisan dan tulisan.  Bukan apa, ini diperuntukkan untuk Ayska. Semoga bisa menjadi salah satu pembuka jalan untuk selalu muhasabah. 

Bilakah ada manfaat untukmu, Kawan. Alhamdulillah. Semoga Allah kasih kebaikan untuk kita. Istiqamah selalu hingga tiba masa. Aamiin .... 

3 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...