Selasa, 26 Juli 2016

Muhasabah (Belajar dari Perjalanan)


Oleh : Ainayya Ayska

Pada satu masa, sekali dua, mungkin pernah kita jumpa apa yang kita sampaikan justru disalah arti oleh sedikit dari mereka. 

Tidak apa. Itu sudah lazimnya manusia terkadang keliru memahami makna. Bahkan mungkin kita pun juga. Pernah mengalaminya.

Belajar dari yang sudah, betapa lebih berhati itu indah. Sehingga kedepan tak lagi tersalah. Ah, maksudnya minimal bisa kita hindar salah. Begitulah. 

Kawan, jika lawan kita jatuh prasangka, hal baik pertama yang kita dapat lakukan mungkin mengoreksi cara kita. Kita coba melihat tidak dengan sebelah mata.

Adakah cara kita yang kurang tepat atau justru memang sengaja.

Jika sengaja mungkin tak jadi soal. Atau bisa kita perbaiki manakala ada cara tersalah. Namun, jika tidak dua-duanya, itulah masalah. 

Masalah?

Mungkin. Kerana maksud hati telah disalah pahami. 

Ntah tersebab apa, terkadang belum dipahami betul, lawan (atau pernah kita) sekilat ambil simpul. Jatuhlah pada prasangka. Bagaimana jika ada 'tuduhan' setelahnya?

Aduh, bisa melebar urusannya. Jika ego memperpanjang masih bersarang. Tetapi tidak. Kita, coba belajar terima dengan lapang. 

Yang terpenting ..., setelah kita coba koreksi cara penyampaian hingga tak kita temukan kesalahan, atau minimal kekeliruan. Sampai pun kembali ulang kita jelaskan, dan kita meminta kemaafan.

Tetapi masih juga 'dia' tetap anggap 'demikian' ya silahkan. Itu urusan lawan. Bukan hak kita memaksa mereka untuk prasangka baik tentang kita. 

Kita engga bisa mengendalikan pikiran orang lain, tapi kita yang harus bisa mengendalikan pikiran kita sendiri. (Quote by kak Anna Fatimah) 

Oke. Kita lanjutkan. 

Jika salah mengartikan berada dipihak kita. Maksudnya, kita terlalu 'dirasa' cepat ambil simpulan. Ada baiknya coba lurus, bersihkan hati dan pikiran.

Jangan sampai karena kitanya yang baper bin sensi. Prasangka buruk menggerogoti hati. Bahaya kian menanti. 

Tepat. Umumnya kita, begitu merasa si A nyakitin kita dengan sikap dan kalimatnya, misal. Terkadang ada rasa emosi itu naik hingga batas kesekian. Hati pun tak karuan. Inginnya membalas lawan.

Balas membalas menjadi panjang. Tak ada penyelesaian. Sebagai kesudahan, akhirnya saling diam. Tak ada sapaan, tak ada kemaafan. Aduh, bahaya dendam. 

Putusnya silaturrahim mengancam. Persaudaraan, pertemanan, persahabatan diambang kehancuran. Seribu kali sayang. 

Perpisahan yang sebetulnya tak pernah dinantikan, kini menjadi harapan. Malang nian. 

Astaghfirullah. 

Baik. Saat merasa emosi melanda. Belajar kita tenangkan diri. Diam. Dengan mata terpejam, ambil napas panjang hembuskan perlahan. Utamanya, sih, banyak-banyak istighfar. 

Berikan jiwamu sedikit waktu. Baru setelah merasa kondisi membaik. Kembali kita pelajari persoalan yang ada. Pelan perlahan. Jangan tergesa, santai saja. 

Dalam pikiran yang jernih, terkadang akan kita temui sesuatu yang berbeda. Bisa aja, kan, setelah kembali kita memahami ternyata kitalah yang salah mengerti. Nah loh, siapa yang rugi? 

Sudah kita yang salah mengerti, kitanya justru menyalahkan, berprasangka, menuduh pula. Salah apa mereka sehingga kita menghakiminya? 

Bagaimanalah kita berada di posisinya? Tidakkah kita turut merasa apa yang mereka rasa? 

Kawan, lain hal jika tabayyun yang selalu kita dahulukan saat persoalan kembali menguji persaudaraan. 

Betul. Bila tabayyun kita kedepankan. Mungkin akan berbeda gores coretan lukisan kita. 

Tetapi tak apa. Lazimnya kita, satu dua tersalah dalam bertindak. 

Dalam hubungan, apapun itu. Lafadz terima kasih jangan dilupa, dan pintu kemaafan bukalah lapang-lapang. 

Sehingga saat pertengkaran kecil itu terjadi, saat kesalahpahaman itu kian menghampiri, kita tahu bagaimana harus menyikapi. 

Tak perlu ada diam berhari-hari, tak harus saling menyakiti, dan hubungan jangan berakhir detik ini.

Masalah itu selalu ada. Pun penyelesaiannya. Tetapi putusnya silaturrahim adakah bijak sebagai akhir dari sebuah lukisan? 

Ayolah, Kawan. Ini perjalanan. Dalamnya memang selalu menghadirkan banyak pilihan. Tetapi bukankah penyesalan itu datangnya belakangan? Jangan sampai tersebab mempertahankan ego kita justru kehilangan. 

Goresan tinta ini bukan apa. Ayska hanya menuangkan sebatas yang Ayska bisa. Apa yang penulis rasa pun dapat terima untuk belajar. 

Bukan untuk apa. Hanya sebagai bahan muhasabah bagi Ayska. 

Media pengingat buat Ayska. Mencoba belajar untuk lebih mengerti makna. Bagaimanalah diri lebih bisa mengambil sikap. Bagaimanalah diri lebih bisa memaklumi cara mereka.

Sehingga lebih bijak dan mampu menerima, setiap perlakuan yang tidak Ayska suka. 

Indahnya belajar dari perjalanan. Pengalaman seru pun menyebalkan itu indah. Salah dan benar itu, niscaya.

Hal baik buruk selalu hadir. Apa perlunya saling 'merasa' jikalah cara pandang kita berbeda. Indah kita saling menerima, juga berterima kasih pada mereka. 

Berterima kasih pada dia yang berprasangka, dengannya kita tahu lebih bagaimana harus menerima. 

Jika tertuduh sementara kita tak lakukan. Berterima kasihlah, darinya kita lebih bisa belajar bagaimana harus tenang. 

Kawan, banyak hal dihadirkan sebagai ujian. Tetapi nikmat Allah pun tak kurang-kurang. Apalah yang musti kita khawatirkan? 

Hei ... Kawan. Terkadang kitalah yg melebih-lebihkan.

Kawan, ingat. Itu hanya omongan orang. Jangan baper. 

Kawan, ingat. Itu sebatas penilaian orang. Apapun penilaian mereka tak mengubah apapun tentang siapa kita di hadapan Allah. Jangan sensi. 

Kawan, ingat. Itu hanya kesimpulan orang. Jangan emosi. 

Omongan, penilaian, dan kesimpulan mereka terkadang sebatas dari apa yang mereka lihat dan dengar. Ambil yang baik, abaikan yang tak sesuai. Sebelum mereka duduk bersama kita, tahu kita sebetulnya bagaimana, tak perlu ada yang dipersoalkan. 

Baik. Sekian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...