Kamis, 28 Juli 2016

Takdir Sebuah Rasa (Bag. 6)


Dua, Satu Sama (Episode Spesial)

Oleh : Ainayya Ayska

Ketenangan itu terusik. Tang ting tung ponsel menandakan ada beberapa pesan masuk. Kepala menoleh, tangan coba meraih ponsel pintar yang tergeletak di sembarang. 

Jari-jari tangan lihai lompat sana-sini tanpa instruksi. Mata fokus menatap layar. Membaca deretan huruf yang berjajar. Sudut bibir tertarik, memahat senyum manis dapati pertanyaan-pertanyaan mengisi ruang pesan whatsappnya.

Cukup membaca, belum ada minat membalas. Masih ingin menikmati ketenangan dalam kesendirian. Sepi. Bersama nyanyian alam yang menemani. Saat ini. 

Tetapi tunggu. Ada lampu menyala disudut memori. Terang. Seolah mendapat pencerahan dari sebuah pertanyaan. Kata demi kalimat berkelebat. Ingin rasa bergerak cepat. Sebelum terlambat. 

Beranjak. Mengambil perangkat. Jemari dengan kuku terhias warna bergerak cepat. Deret kalimat, tersusun menjadi paragraf. 

Teman, dalam bersosialisasi kita tidak bisa memaksakan kehendak —orang lain harus melakukan sesuai keinginan kita. 

Jika kita inginnya A ya harus A. Dia harus ikuti permainan kita. 

Oh, tidak bisa. Itu diluar hak kuasa kita. Karena mereka ada hak untuk memilih. Setuju atau tidak dengan caramu itu sudah lain tema. 

Memangnya kalau kamu dipaksa harus mengikuti permainan mereka kau akan nurut-nurut saja gitu? Ehm, rasanya sulit dipercaya. 

"Hei, tapi dalam forum kita harus ikuti peraturan yang ada. Kau tahu itu?"

Kalau itu jelas. Mau engga mau manakala kita putuskan terjun pada suatu forum, harus ikuti aturan tata tertib yang ada. 

Tetapi dalam kasus mengikuti aturan dengan memaksakan kehendak diri itu sudah lain bahasannya. 

Cukup di sini. InsyaAllah kita sama bisa pahami. 

***

Teman, kita bersama dalam karakter beragam. Salah satu hal yang kita dapat lakukan jangan sampai kita merendahkan. 

Disini nih, terkadang kita lupa atau belum tahu. Sehingga ego memaksakan keinginan acap gagal terkendali. 

Jika si A masa bodoh dengan keinginan hati. Langsung dah diri sibuk melabeli. Terlebih kala diri merasa diabai, oh, tebar berita sana-sini bahwa si A begini, begini. 

Teman, kalau si A engkau benci. Jangan tarik yang lain untuk turut melukai. Terkadang, dibalik hal yang tidak kau ketahui, si A justru mendoakanmu dalam sujud yang ternanti. 

Terlebih saat kata yang disebut 'nasehat' merasa tak terhargai. Sombong sebagai labelisasi cukup mewakili.

Yuk, koreksi lagi niat hati. Adakah benar niat sampaikan nasehat, ataukah niat jatuhkan dengan berlindung dibalik kata nasehat itu sendiri. 

Apa loh Ayska ini. Engga, jelas banget. 

Baik, jika ada istilah yang kurang pas, maaf. 

Sebelum lanjut, yuk ikuti lukisan Ayska sebelumnya di pandanglah dirimucari tercuri dan catatan satu warna.

"Loh, Ayska. Ada kaitannya, ya?"

Sedikit banyak InsyaAllah ada. Makanya, jangan lupa kunjungi. Lukisan ini berkesinambungan.

***

Teman, mari luangkan. Untuk kita coba cari, adakah 'niat' kita hanya ingin, diakui? 

Adakah 'ke-tidak-terimaan' akan sikap mereka terlepas dari rasa kita ingin, diperhatikan? 

Adakah 'protes' kita selamat dari rasa ingin, dinomor satukan?

Jangan sembunyi dibalik kata 'peduli' jika benar lain di mulut lain di hati. Mari koreksi kembali. 

Sampai di sini. Jemari itu berhenti. Perhatiannya tercuri. Oleh sebuah pesan yang tak sabar menanti. Jawaban dari pertanyaan itu kini. 

"Hei, harusnya kau bisa melihat, dong, mana yang harus serius dan kapan boleh bercanda. Lagipula kita masih ingat, kan, tujuan forum ini dibikin untuk apa?"

Atau kalimat protes lain semisal.  Tak jarang kita jumpa. 

Nah, di sinilah cara menempatkan setiap kita tidak sama. 

'Bosan, ah, Ayska selalu saja mengulang kata 'sama' dan 'berbeda' . Selalu bahas itu-itu saja. Diksinya mana?'

'Iya, nih. Bahasnya itu melulu. Ganti tema gitu. Apa tak jenuh jika itu selalu. Carilah tema yang baru. Kita dah menunggu.'

Lantas kenapa? Yah, anggap saja memang kemampuan Ayska belum seberapa. Ilmunya masih di itu-itu saja. 

Ibarat kata mengulang kembali pelajaran yang sama. Dengan sedikit tambahan yang berbeda. Atau anggaplah jika tulisan sebelumnya, belum tuntas Ayska bahas. 

Baik. Kita kembali melangkah. 

Teman,
Setuju. Serius itu harus. Memang di saat tertentu ada dibutuhkan keseriusan. 

Tetapi hidup itu imbangi dengan santai. Itu kalau Ayska loh. Kita tahu, dong, beda santai dan main-main. 

'Ayska, jangan berkutat sama teori terus. Aksi nyatanya, dong.'

Iya, paham ini teori .... Sebagai awal, setidaknya kita mengerti. Bagaimana kita akan tahu saat memulai aksi. 

Dari teori, ada hal yg dinamakan 'belajar' . Mempelajari teori. Mendorong otak untuk berpikir.

Terlalu berkutat pada teori tanpa tindakan, bertindak tanpa tahu ilmu, atau tahu ilmu dibarengi tindakan. Tiga hal yang tidak terpisah dari bahasan. 

"Pernah dapat bahasan ini. Tetapi Ayska lupa," gumamnya sambil coba mengingat. Jemari itu kembali terhenti. 

Tangannya terangkat. Menopang kepala yang nampak berat. 

"Lain waktu mungkin bisa."

Optimis. Berpikir positif. Kali ini ia tak sedang ingin bahas itu. Ia lebih tertarik menulis apa yang kini tengah terlintas. 

Ayska hanya diri pembelajar. Belajar butuh proses. Seseorang bilang, belajar itu ... tidak instan. 

Belajar, kendatipun gagal. 

Gagal. Itu wajar. Namanya juga belajar.

***

Bicara forum via online tak lepas dari kita yang terlibat di dalamnya. Dan karakter setiap kita terbagi dua.

Sebagian suka larut serius, pun kita yang suka selingi sedikit canda. Tujuannya, sih, untuk cairkan suasana. Meski terkadang disalah terima. Koar-koar kesana kemari tanpa makna. Dinilai tidak dewasa. Tak mengapa. Itu biasa. 

Marah jiwa mendapatinya. Unjuk rasa. Sini balas situ tak terima. Saling merasa. Ujung kata saling menghargai. Bagaimanalah kau mencela jika dirimu tak pandai pula?

Lagipula, mau yang larut tenang pun selipkan canda terkadang. Keduanya ada tujuan sama. Inginkan kebaikan forum, menghidupkan kelas atau apalah istilah. 

Tak apa. Koreksi kembali niat diri. 

"Perasaan ini tulisan lompat-lompat. Seolah apapun dibahas. Begitulah terlintas." Ayska tertawa kecil mendapati tulisannya tidak jelas. 

Ntah adakah kesimpulan dari tulisannya yang mungkin akan panjang lagi membosankan. Dia hanya ingin menulis. Itu saja dan mungkin tidak lebih. 

Harapnya ada hikmah yang bisa dipetik. Kalaulah masih gagal selipkan hikmah, ya sudah.

Ayska mengedikkan bahu, "namanya juga masih belajar. Baru sebatas ini yang Ayska bisa. Memangnya harus apa? Nulis itu engga bisa dipaksa."

Era teknologi membantu kita memperluas hubungan sosialisasi di dunia lain masa kini. Interaksi sosial di dunia maya. Mudah gabung grup atau forum sana-sini. Alhamdulillah memudahkan kita untuk belajar. 

Disisi lain terkadang juga disalah guna untuk mudah saling mengata. Merasa lebih leluasa. Toh tidak bertemu langsung dengan orangnya. Hal yang tidak langka kita jumpa.

Jika tak pandai membawa diri, persoalan kecil pula bisa mudahkan kita untuk menyudahi. Leave grup menjadi solusi.

Hei, Teman. Jika dalam kehidupan nyata saja pertengkaran kecil sering terjadi. Apalah beda di forum kecil kita yang terjalin via dunia lain? Tak ayal istilah fenomena leave grup, terkadang tidak mungkin bisa dihindari. 

Teman, janganlah mudah tersungging. Eh, maksudnya tersinggung. 

Duh tersebab bingung bahkan dua kata, dua huruf hidup berbeda tempat saja Ayska tersalah.

"Ehm, Ayska. Sebab tersalah atau sengaja?"

"Ntahlah."

Okey. Jangan baper. 

Seperti tulisan di depan. Kita tahu, iya, kita semua di sini InsyaAllah menginginkan yang terbaik untuk kebaikan grup. Kita paham. 

Hanya saja setiap kita punyai cara yang berbeda. Ada mungkin sebagian kita, "grupnya yang tenang-tenang saja dong. Jangan banyak chit chat engga jelas."

Ada juga yang mungkin suka ada chit chat santai ringan untuk menambah nuansa supaya grupnya engga terkesan mati. 

Ibarat bangku sekolah atau kuliah. Begitulah suasana riuh rendah. Ada saatnya tenang, pun adakalanya nampak gaduh. 

Adakah di kelas tidak kalian temui percakapan-percakapan ringan disela-sela pelajaran. 

Jika kita satu sama menempatkan grup  atau forum via online sebagaimana kelas di bangku sekolah atau kuliah. Rasanya tidak ada masalah. Ehm. 

Ia mengusap wajah. Lelah. Lalu bangkit. Mengambil air. Melepas kepenatan yang mulai hadir. 

Istirahat. Memejamkan mata yang mulai terasa berat. Gagal. Mata itu terbuka sesaat setelah menerima kembali sebuah pesan. 

Sempat heran. Memangnya dia siapa? Bahkan mungkin sebagian orang justru menganggap dirinya menyebalkan. 

Tetapi beberapa yang ia temui justru datang dengan beragam curhatan dan minta masukan. Hal apa yang bisa ia berikan? Bukankah Ayska terbilang masih kekanakan? 

Tak apa. Ayska akan coba berbagi. Sebatas yang ia mampu. 

"Ukhti, kenapa, sih, orang suka dengan mudah menilai kita sombong saat kata yang mereka sebut 'nasehat' tidak atau minimal belom bisa kita terima?"

Ehm, satu pertanyaan menarik buat Ayska. 

Sependek yang Ayska tahu. Ah, bukan. Bermula dari pengalaman. Mmm, maksudnya pengamatan. 

Seseorang mudah melabeli sombong saat kata yang mereka sebut nasehat tidak di terima. Alasannya? Ntah.

Untuk yang merasa nasehatnya tidak diterima, jangan cepat mencela. Melabeli sombong pula. Duh, niatmu sebetulnya apa? 

Koreksi lagi niat dan caramu.

Gagal menyampaikan dengan cinta. Eh, malah meninggalkan luka. Sebenarnya maumu apa? Tak pula sadar jika ikhlasmu ditanya? 

Sebatas yang Ayska rasa, seseorang yang mampu menyampaikan dengan cinta, nasehat itu akan ngena. Diterima lapang oleh si penerima. Karena apa?

Si penyampai niat hati bukan kerana ingin diakui. Tak pula sebab merasa paling benar. Tetapi ... sebab memang inginkan kebaikan untuk si penerima. 

Dan bilapun belum atau tidak diterima pun tak lekas ambil simpul, "sombong."

Memilih positif thinking. Muhasabah. 

Kalau masih bermudah mengata sombong, mungkin belum lurus niatnya. Hanya mungkin loh ini. 

Jadi, Ukhti. Engkau yang dibilang sombong setelah mereka bernasehat, tak perlu patah hati. Ayuk muhasabah diri. Apa yang melatarbelakangi kita acuhkan mereka. 

Adakah cara dan adab mereka atau faktor lainnya. 

"Ade, sedang apa? Serius banget di depan layar."

Suara itu memaksa Ayska menoleh. Menghela napas melihat pemilik suara mengambil duduk di depannya. Meletakkan laptop di atas meja. Duduk tenang tak lagi bersuara. 

Hening. Keduanya tak minat cakap. Bahkan sapaan tadi tidak Ayska jawab. Mp3 murattal dari laptop seseorang di depannya, menemani sela-sela kegiatan mereka kini.

__________

Lanjut ke Bag. 7.

2 komentar:

  1. ahhh ceritanya keren... menginspirasi sekali, bisa buat intropeksi pribadi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasii, kaka.
      Dah berkunjung di mari. Hehe

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...