Jumat, 19 Agustus 2016

Untukmu Nan Jauh di Sana (2)

Asa, Ikhlas, dan Maaf

Oleh : Ainayya Ayska


Untukmu nan jauh di sana 
Bilakah kesempatan itu datang 
Untuk sebuah rasa yang diijinkan berlabuh
Dalam keteduhan hati yang tak kan mungkin tersentuh
Oleh sebuah rasa dari yang lain

Untukmu nan jauh di sana
Bilakah kesempatan diijinkan
Untuk sebuah asa membangun cinta
Berdua dalam lingkaran ikatan kerana-Nya

Untukmu nan jauh di sana
Bilakah yang menyapa tak sekadar kata
Bilakah yang terhadir benar ada
Bilakah datangnya tak sebatas canda
Ada sebuah masa yang terharap dalam doa
Untuk kita diijinkan bersama
Beriring meraih cinta-Nya, cita impian kita

Namun, 

Untukmu nan jauh di sana
Bila pun ternyata bukan namaku yang kau sebut dalam setiap doa
Berhenti aku mengharap suatu hal yang tak mungkin kudapat
Sehat jiwa pun tak ingin terikat

Untukmu nan jauh di sana
Bila pun ternyata bukan aku yang kau temukan dalam istikharahmu
Berusaha untukku ikhlas melepasmu
Membiarkan segores mimpi terlupa
Meski ada kenangan yang mungkin masih bersisa

Tapi biarlah, tak setiap mimpi akan tersampai
Namun setiap doa pasti kan berjawab, bukan? 

Untukmu nan jauh di sana
Bila pun memang bukan aku yang ingin kau jemput
Tak lantas membuatku melupakanmu dalam setiap sujud
Upayaku tetap mengingatmu dalam doa
Mungkin berat
Mana tahu itu satu ujian keikhlasan
Yang akan membuatku naik satu tingkat
Ketika aku bertahan untuk tidak merubah menjadi kebencian 

Untukmu nan jauh di sana
Bila pun apa yang terlewat hanyalah sebuah canda
Aku bisa apa? 
Sementara aku tak ada hak untuk memaksa sebuah rasa
Untuk apa? 
Jika hal itu justru akan menyakiti jiwa
Entah aku, kau, atau sesiapa yang terlibat didalamnya

Untukmu nan jauh di sana
Bila pun kita tak ada kesempatan bersatu
Mungkin karena memang aku bukanlah takdirmu
Dan kau bukanlah seseorang yang Allah hadiahkan untukku 

Perjumpaan kita
Candaan yang pernah ada
Garis perjalanan yang ditorehkan 
Tak selalunya kerana kita tercipta untuk bersama
Ada masa sebatas untuk saling mengisi
Atau kerana hal yang belum bisa kita mengerti
Akan tetapi yang terbaik dari Allah pastilah akan membawa arti
Mencipta indah
Lebih dari apa yang pernah diangan 

Untukmu nan jauh di sana
Dalam ketidaktahuanmu
Diamku menyimpan sebuah cita
Terangkai sejak aku merasa ada getaran halus yang menyapa jiwa
Yang aku sendiri bahkan tak mengerti apa istilahnya 
Cinta, mengagumi atau apalah namanya 
Hanya satu yang aku tahu
Bilakah memang bukan dirimu untukku
Aku harus belajar ridha untuk menerima

Untukku nan jauh di sana
Satu masa aku merasa
Dirimu terlalu istimewa
Untukku yang biasa

Seakan mustahil bagiku untuk memilikimu
Terlebih hatimu yang bahkan untuk menerimamu aku ragu

Bukan tersebab tak ada rasa padamu
Bukan, bukan itu
Hanya saja ketakutan itu yang membuatku
Memilih untuk menjauhimu
Perlahan
Dan dalam diam

Hal tak nyata itu pun nyata
Dalam sebuah lingkaran cerita
Tentang kita, bertiga
Tapi tak mengapa, memang beginilah adanya
Ada rahsia dari hal yang tak nyata
Yang tak nyata menjadi cerita
Yang fakta berbicara
Sehingga bungkam, diam tanpa kata

Untukmu nan jauh di sana
Terbentang jarak, tak terjangkau oleh mata
Maafkan aku yang pernah menaruh rasa
Aku hanya bisa berdoa
Semoga pintu ampunan-Nya masih terbuka
Untukku kembali pada cinta-Nya 
Kutinggalkanmu kerana-Nya
Tak ingin hati ini ternoda
Oleh cinta yang tak seharusnya
Bilakah memang kita ditakdir bersama nantinya
Biarlah semua berjalan sesuai kehendak-Nya

Untukmu nan jauh di sana
Terbentang jarak dan masa
Dalam perjumpaan tak sengaja
Bulan, bahkan tahun yang telah habis masa
Jangan kau semai harap rasa
Padaku yang belum tentu bisa menerima
sebab ku tak ingin buatmu terluka
Oleh sebuah kata atau sikap yang tak pernah kau sangka

Untukmu nan jauh di sana
Maafkanku yang pernah tinggalkan luka
Atas penolakan yang mungkin terpaksa kau terima

Kau tahu benar alasanku
Tak pernah bermaksud menyakitimu
Inilah yang pernah kutakutkan
Saat pertemanan harus terlibat perasaan
Hingga semua cukup sekian
Saat setiap kita tak sejalan

__________

Baca Serial Pertama juga, ya ....
Dan lanjut, yuk, ke Serial ketiga.

6 komentar:

  1. hm... dia nun jauh di sana, semoga pesan ini t'sampai..😉

    nun apa nan yah.. *mikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha. Entahlah kadang ada yg nulisnya nun ada yg nan. Hmm

      Hapus
    2. Kalau setahu ade, sih, nan, kak... Hihi

      Hapus
  2. Sedih bacanya 😖, puisi berisi doa dan harapan

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...