Jumat, 09 September 2016

Saat Bukan Dia yang Tercipta


Oleh : Ainayya Ayska & Anan


Mula-mula kisah itu ada dari sebuah pertemuan, pada satu niat yang tidak pernah terencana. Kedatangannya bukan untuk Ayska. Tetapi tujuan yang berbeda. Siapa sangka, yang tak terlintas membawa cerita. Tak terduga. 

Luar biasa. 


Anan bertamu. Untuk beberapa waktu. Bertemu dalam diam. Saling sapa dengan senyuman. Selebihnya, sebatas dalam pandang. Percakapan hanyalah bayangan. 

Satu dua hari berlalu. Mulanya saling diam. Senyum sekedarnya sebagai isyarat dalam bercakap. Kini tak lagi. Mereka, bertegur sapa lewat kata. Senyuman menjadi canda dan tawa. 

Luar biasa. 

Waktu terus melaju. Hari kian berlalu. Seiring habisnya masa keakraban pun tercipta. Diantara mereka.

Indahnya kata, satu rasa menyapa jiwa. Begitu halus, sangat rapi tak disadari, dan perlahan. Dalam diam saling suka. Tak terbaca. Tak ada niat untuk sampaikan. Biarkan tetap tersimpan. 

Menghitung jam. Hingga akhirnya Anan harus pulang. Masa penuh keharuan. Saat satu harus meninggalkan, yang lain ditinggalkan. Ada tangisan tertahan. Tak ada yang bisa dilakukan. Yang bersisa hanyalah saling melepaskan. 

Ada kesedihan. Namun coba sembunyikan dengan satu candaan. Ayska tak terbiasa pun Anan tak suka, tampakkan. 

Ada satu harapan. Bilakah pertemuan itu kembali datang. Harapan tersimpan dalam sujud-sujud panjang. Saling melepas, biarlah berjalan sesuai dengan yang dituliskan. 

Masih ada cerita selepas kepergian. Saling menyapa, tetap ada percakapan terlewat pesan. Ada kerinduan. Hanya mampu tersampaikan dengan saling mendoakan. 

Hingga suatu hari, terhadir satu niat di hati. Untuk Anan memberanikan diri sampaikan maksud hati. Namun apa mau dikata jika Ayska bukanlah yang tercipta, untuknya. 

Anan urung sampaikan. Untuk apa? Jika hanya akan tersia. Pula menyakitkan jiwa yang ia sayang. Tidak. Itu tak boleh terjadi. Ayska terlalu baik untuk disakiti. Meski ia paham, Ayska kuat terima kenyataan. Namun tetap saja, Anan tidak bisa lakukan. 

Biarlah sapaan itu tetap terhadir. Cerita tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi tidak untuk satu harapan yang tak akan menemukan jawaban. 

Ayska pula rasakan. Seakan ada pesan tersampaikan. Harapan itu dicukupkan sekian. Coba lepas dalam keikhlasan. Jodoh tak mungkin akan tertukar. Satu kenyataan yang jelas punyai jawaban. 

Biarlah orangtua tidak berikan persetujuan. Satu sama ikhlas. Tak perlu ada paksaan.

Saat bukan dia yang tercipta. Tak perlu ada yang disesalkan. Jua tak usah ada tangisan. Tak pula ajukan perpisahan.

Saat bukan dia yang tercipta. Belajar ikhlas melepas. Melepaskan, tak selalunya putuskan satu hubungan.  Biarkan tetap dalam satu ukhuwah, sahabat persaudaraan. 

Saat bukan dia yang tercipta. Biarlah saling menjaga dalam doa. Tak perlu ada yang terluka. Tak perlu ada air mata. Mutiara terlalu mahal untuk tangisi yang tersia. 

Satu rasa terima kasih ingin Anan sampaikan. Padanya yang telah berikan keindahan. Dalam satu perjalanan. Meski singkat, namun Ayska mampu memberi warna pada satu bagian lukisan. Hidup Anan.

6 komentar:

  1. Melepaskan adalah Jalan terbaik, karena kita Susah untuk melupakan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, bun. Mengikhlaskan adalah satu cara tinggalkan beban

      Hapus
  2. Bahasanya sastra banget... hihihi. Indah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahihi. Makasii, bun... Dah berkunjung, :)

      Hapus
  3. Mungkin cerita ini, yang di maksud baper semalam :D

    Saat bukan dia yang tercipta, biarlah saling menjaga dalam doa... uchhh bikin nyes hati :D

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...