Jumat, 23 September 2016

Semasa Satu Rasa

Oleh : Ainayya Ayska

"Perhatian, semua!"

Hampir seluruh perhatian peserta dan beberapa panitia dalam ruangan beralih pandang ke arah seseorang di depan. Tanpa di pinta dua kali. 

Ruangan yang semula riuh rendah sedikit mereda. Satu dua berhenti bicara. Satu dua yang lain masih pula. 

"Adakah tujuan kami mengajak kalian berkumpul di sini supaya kalian leluasa bercakap?"


Pertanyaan itu tegas. Meminta jawab. Hening sesaat. Peserta saling lempar tatap mencipta tanya, 'ada apa?'

"Adakah tujuan kami mengajak kalian nonton bareng acara ini untuk kalian bis—"

"Hanya saling berkenalan," potong seorang peserta ikhwan dengan berani. 

Semua mata tertuju padanya. Pula ikhwan yang berdiri di depan sana. Sesaat. 

"Kalian masih punya banyak waktu untuk saling ta'aruf," jawab seorang panitia akhawat dari tempat duduknya. 

Semua mata beralih padanya. Hening. Lalu kembali hadap ke depan. Teman sebelah saling menyikut untuk tetap fokus. 

"Masih ingin menyaksikan serial ini?" Faisal terus saja lempar tanya pada peserta. 

Kali ini hanya ada diam. Tak ada yang berani keluar kata. 

"Bagi yang tidak ingin lanjut menyaksikan, boleh keluar. Bagi yang masih ingin tetap tinggal, mohon perhatikan apa yang kalian saksikan, lalu ambil pelajaran," lanjut Faisal. 

Lalu layar televisi berukuran 20 inch itu kembali dinyalakan. Faisal kembali ke tempat duduk di belakang. 

Tenang. Ainayya menghela napas lega. Ngeri juga melihat ketegasan Faisal yang mungkin bagi orang lain biasa. Seorang ikhwan yang cukup berpengaruh di pesantren ini. 

Beberapa menit yang lalu gaduh ruangan membuat panitia bersaing suara. Suara televisi, panitia, pula peserta seakan bersiap untuk perang. Sebentar diingatkan, hening. Sesaat kembali ramai oleh perbincangan yang entah apa. 

Salah seorang panitia menggebrak meja malah. Hingga akhirnya panitia sendiri yang lelah. Mengalah. Tetapi Faisal tak ingin kalah. Ia memiliki banyak akal. 

Bangkit dari duduk, berjalan tenang ke depan. Tangannya meraih remote sehingga layar TV itu berubah gelap. Mati. Suara lantang mencuri perhatian dengan ketegasan. Semua peserta hanya berani diam memperhatikan. 

Ainayya tersenyum. Seseorang itu, bahkan tak perlu menguras tenaga seperti teman-teman hanya untuk membuat para peserta diam. 

Ainayya mengedarkan pandangan. Mata peserta benar fokus pada layar di depan. Entah kalau pikiran. Kemana ia akan terbang. 

Panitia juga santai perhatikan. Ada juga yang fokus pada gadget di genggam. Heran. Bahkan dia yang tadi dengan pedenya menggebrak meja. Sulit dipercaya. 

"Yang tidak memperhatikan harap keluar. Engga panitia, tak pula peserta. Sama saja," seru Faisal dari belakang. 

Gadget pun di simpan. Mungkin panitia itu merasa tersindir.

Ainayya spontan melihat ke belakang, sedikit terkejut saat matanya bertemu Faisal yang justru memperhatikan dirinya. Merasa salah tingkah. Takut-takut kedapatan berpolah. Kembali melihat depan. Menghela napas panjang. 

***

"Kau tadi sengaja nyindir Putra, ya, Fa?" Arya merangkul bahu Faisal bertanya.

"Tidak. Sebatas mengingatkan. Jika sedari awal kesepakatan telah dibuat, peraturan itu sama saja berlaku untuk semua. Entah panitia atau peserta. Terkecuali jika peraturan ditujukan hanya pada peserta atau panitia. Itu sudah beda cerita," tukas Faisal. Dengan pembawaan santai. 

"Tidak hanya ke Putra. Tapi juga ke salah seorang peserta," lanjut Faisal. 

Ainayya yang sedari tadi mendengar mereka bercakap sedikit tersindir. Teringat saat tadi kedapatan tak perhatikan. 

Film yang diputar sudah selesai beberapa saat yang lalu. Diskusi sebentar lalu jeda waktu istirahat. Ingin rasanya Ainayya pergi dari kelas. Terus mendengar cakap mereka membuat panas di telinga. 

Ainayya menghela napas. Memangnya mau kemana? Ke asrama? Rasanya tak mungkin. Hanya diberi waktu sesaat untuk istirahat. Lepas itu kembali pada kegiatan MOS yang membosankan ini. 

Bisa mati gaya kalau begini. Ainayya terus berdoa. Semoga gilirannya bercerita tak kunjung tiba. Mempresentasikan apa yang tadi dilihat? Sulit dipercaya.

Jangankan dirinya, bahkan peserta yang sedari tadi terlihat fokus saja hanya diam di depan. Bingung dengan apa yang harus dikatakan. Dan sekarang, bila gilirannya datang? 

Ainayya baru akan meninggalkan ruangan sesaat setelah dua panitia di luar meminta para peserta masuk. 

Panas dingin sudah. Bahkan sebelum namanya dipanggil. Ainayya menggerutu tertahan. Kenapa harus acak? Kenapa tidak urut saja dari depan seperti tadi? Kalau dari depan kan gadis berjilbab hitam itu aman. Huft, menyebalkan. 

Ainayya hanya diam. Memperhatikan para peserta yang dipanggil ke depan. Ekspresi macam-macam. Ada yang ketakutan, pula bermuka masam saat diberi pertanyaan. Duh, kasihan. Terlebih ia yang tak memiliki jawaban. 

Waktu beranjak siang. Adzan dhuhur sepuluh menit lagi dikumandangkan. Perjumpaan hari ini, diakhiri. Bersiap untuk tunaikan shalat dhuhur berjama'ah hari ini. 

Selamat. Ainayya merasa lega. Kuis hari ini disudahi. Yang diharap sejak tadi akhirnya terpenuhi. Syukur dalam hati. Alhamdulillah. 

***

Berlama di masjid. Bersandar di dinding. Shaf Putri ada di lantai atas. Dua hari di pesantren sudah membuatnya tidak tahan. Tidak betah jika harus tinggal di sini terlalu lama. Tiga tahun? Sungguh. Bahkan satu hari di sini rasanya lama kali. 

Pikirannya melayang. Bukankah ia masih memiliki cucian? Berhubung ada waktu sekarang, kenapa tak segera .... Ah, bahkan Ainayya tak ada niat untuk sekedar antri mencuci di sumur. 

"Entarlah. Bawa ke laundry," pikirnya. 

Ainayya terdiam. Mata pun lambat laun terpejam. Gadis itu kelelahan. 

Baru kemarin sore ditinggalkan. Oleh keluarga tersayang. Tetapi rasa bagai setahun tanpa perjumpaan. Tak pula kabar diberitakan. Aduhai, sulit rasa untuk Ainayya bertahan. Selalu terjebak pada antrian panjang. Melelahkan. 

Ingin mandi, makan, mencuci, semua antri. Lalu apalagi. Tidak. Sebetulnya ini semua tak boleh terjadi. Tetapi ia bisa apa? Semua terjadi sebab kemarahannya pada ... ah, sudahlah. 

Tadi malam. Bahkan Ainayya tidak bisa tidur di asramanya. Tak ada bantal, guling, selimut, bahkan tempat tidur yang nyaman. Ayah, Ainayya ingin pulang. Sekarang. 

Dalam kesendirian. Diam-diam Ainayya sesenggukan. Ada tangisan yang coba ia sembunyikan. Teringat kemarin saat ayah melepaskan. Untuknya tinggal di sini seorangan. Benarlah di sini banyak teman. Tetapi Ainayya, dirinya tetap merasa kesepian. 

"Ade." tepukan ringan seorang ustadzah membangunkan. 

Mata itu terbuka perlahan. Mendapati dihadapannya ada seuntai senyuman. Wajah itu, seorang ustadzah yang begitu keibuan. Mengingatkannya pada bunda yang telah meninggal bertahun silam. Ada kerinduan. 

Matanya menangkap angka pada jam dinding. 13.37. Kurang lebih satu setengah jam ia tertidur. Tak ingat bahwa dirinya harus makan siang. Tetapi ini jam sudah lewat. Sudahlah. 

"Ade tidak kembali ke asrama?" Sambil menyentuh bahu, ustadzah bertanya penuh sayang. 

Ainayya menggeleng sebagai jawaban. Tak ada minat untuk berjalan kembali ke asrama. Tak ada yang ingin ia lakukan di sana. Ia hanya ingin pulang. 

"Ainayya ingin pulang ke rumah," jawabnya pelan. Kepala itu tertunduk lesu. 

Ustadzah tersenyum. Memahami apa yang tengah mengganggu pikiran Ainayya. Membantu gadis itu berdiri. Mengajaknya pulang ke asrama. 

Ustadzah tidak tahu pasti apa yang membuatnya ingin pulang. Tidak mungkin jika alasan seperti santri kebanyakan. Terbukti hanya dua hari gadis di hadapannya kini cukup mudah beradaptasi. Akrab dengan santri dan beberapa senior lain. 

Meski untuk mengenal siapa nama teman-teman, Ainayya masih butuhkan waktu. 

"Sebentar lagi waktu 'asar, segera ambil air wudhu. Kita pergi ke masjid. Ba'da 'asar Ade ada kegiatan lagi, bukan?" 

Tanpa dua kali, Ainayya bergegas ambil wudhu di kran samping kamar mandi sebelah asrama ustadzah. 

"Ustadzah, boleh tak, nanti Ade mandi di sini dari pada harus mengantri ...."

"Boleh," jawab ustadzah tersenyum lembut. 

Entah ditinggali berapa orang asrama kecil ini. Tidak macam asrama miliknya tentu. Asrama tempat ia tinggal bahkan dihuni dua puluh tujuh orang. Mendapati hal itu kemarin malam membuatnya sukses bergumam, "kurang banyak ini mah penghuninya."

Kamarnya yang nyaman di rumah mungkin dua kali lebih besar dari asrama tempat ia tinggal. Tidur dilantai hanya beralas tikar, sempit, membuat Ainayya tak tahan. Entah. Malam ini akan bermalam dimana. 

"Ustadzah di sini berapa lama?" Usai wudhu Ainayya duduk di lantai berkarpet, bersandar di dinding. Menunggu ustadzah bersiap. 

"Belum lama, baru lima tahun."

Ainayya terkejut. Sempat heran. Belum lama. Bahkan lima tahun di sini bagi ustadzah adalah waktu yang sebentar. Sulit dipercaya. Padahal Ainayya rasa, di sini sehari adalah waktu yang cukup lama. 

"Ustadzah, apa Ainayya boleh telepon ayah nanti? Bolehkah Ainayya pinjam ponselnya?" pinta Ainayya. Berharap ustadzah meloloskan keinginannya. 

Kemarin ba'da isya', saat pembagian asrama, pengurus meminta pada semua santri untuk menitipkan semua alat elektronik, ponsel, juga uang. Hanya boleh simpan uang tak seberapa untuk pegangan. Mengenaskan.

Jika ketahuan tidak menitipkan pada pengurus pesantren, maka mereka terpaksa menyita semua barang itu. Semua hanya demi keamanan. Ainayya sudah pastikan akan sulit berkomunikasi dengan orang rumah. 

"Ustadzah, nanti kalau ayah nak telepon Ainayya macam mana?" Ainayya bertanya malam itu. 

"Bisa telepon ke pengurus. Nanti ada panggilan untuk santri jika keluarga telepon."

Jawaban itu cukup menyebalkan. Menyulitkan. Huft. Andai Ainayya bisa merubah kebijakan menyebalkan itu.

***

__________

Lanjut ke episode 2.

8 komentar:

  1. Tenang Ai.. Tenang.. Semua bisa dilewati..

    BalasHapus
  2. Hihihi kadang jawaban ketus bikin kita nething yaa kak, well okein aja kak nad hehhe

    BalasHapus
  3. Di pinta-> tidak dipisah karena kata pinta bukan merupakan kata tempat seperti: di meja, di pintu.

    Semoga Ai bisa melewati semuanya.

    BalasHapus
  4. Hahahaha saya juga sekarang santri dan tahu betul rasanya menjadi pemula di ponpes


    Tapi yang saya pertanyakan adalah

    Jika ini memang cerita nyata sang penulis

    Apakah ada ponpes yang mosnya bersama santri putra dan putri??

    Cuma nanya doank

    Salam dari seorang santri yang juga pernah mau kabur dari pondok ketika awal walaupun nyari



    Hidup santri!!!

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum, Mbak Ainanyya.

    Boleh memberi krisan? Sepertinya opening bertele-tele. Ada beberapa typo terutama untuk penggunaan kata di- yang menunjukkan tempat atau bukan. Sama seperti yang disampaikan Mbak Elva.

    Apapun, saya apresiasi sekali dengan keberanian menulis dan berbagi bersama kami.

    Tetap semangat ya :)

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...