Minggu, 25 September 2016

Semusim

Oleh : Ainayya Ayska


Faisal rasa muak. Berulang diingatkan, berkali kembali. Tidak panitia, tak pula peserta. Mau tidak mau, ia akhirnya ambil bagian. 

Berjalan ringan ke depan. Layar televisi itu dimatikan. Sedetik kemudian, kegaduhan dalam ruangan mendadak diam. Penuh ketenangan. 

"Perhatian, semua!"

Dua kata mampu membuat semua mata bergulir ke arahnya. Tidak panitia, tak pula peserta. Diam sesaat sebelum kembali bersuara. Mengedar pandang, menyapu seisi ruang. 

"Adakah tujuan kami mengajak kalian berkumpul di sini supaya kalian leluasa bercakap?"

Lempar tanya. Dari awal sudah Faisal duga. Giliran dikasih kesempatan bicara, mereka justru diam. Benar-benar kekanakan. 

"Adakah tujuan kami mengajak kalian nonton bareng acara ini untuk kalian bis—"

"Hanya saling berkenalan," potong seorang peserta ikhwan dengan berani.

Luar biasa. Tadi dipinta jawab, bungkam tanpa kata. Giliran Faisal cakap, main potong saja. Masih menunggu. Memberi kesempatan untuk peserta kembali bicara. Atau mungkin yang lain. 

"Kalian masih punya banyak waktu untuk saling ta'aruf," jawab seorang panitia akhawat dari tempat duduknya. 

Faisal menoleh ke Sumber suara. Sambil lalu sebentar. 

"Masih ingin menyaksikan serial ini?" Faisal menyisir pandang, peserta tak berkutik, "bagi yang tidak ingin lanjut menyaksikan, boleh keluar. Bagi yang masih ingin tetap tinggal, mohon perhatikan apa yang kalian saksikan, lalu ambil pelajaran."

Layar televisi kembali dinyalakan. Film inspiratif balik diperlihatkan. Faisal berjalan ringan kembali duduk di belakang dengan tenang. Sembari perhatikan seisi ruangan. 

Faisal tersenyum. Ini yang ia harapkan. Ketenangan. Bukan kegaduhan. Tersebab akan menyisakan kesiaan. 

Tak berlangsung lama. Faisal menangkap pemandangan dari salah seorang panitia. Gadget itu. Bahkan seseorang yang tadi menggebrak meja seperti tabuh bersiap perang, tidak konsisten dengan peraturan. Ini, tidak bisa dibiarkan. 

Dan lagi, di sisi lain ruangan, ia menangkap sosok gadis yang nampak tenang. Dalam arti tak bersuara. Tetapi apa? Justru perhatian gadis itu kemana-mana. Sulit dipercaya. 

"Yang tidak memperhatikan harap keluar. Engga panitia, tak pula peserta. Sama saja," seru Faisal dari belakang. 

Sengaja. Faisal sengaja mengeraskan suara. Sebagai peringatan. 

Si panitia gadget agaknya sedikit merasa, cepat menyimpan gadget, menatap Faisal sekilat. Tersenyum keki mendapati mata Faisal terus saja mengawasi. 

Pula gadis itu. Tengok ke Faisal tanpa ekspresi. Sedetik. Lalu berpaling. 

***

"Kau tadi sengaja nyindir Putra, ya, Fa?" Arya, teman satu angkatan, merangkul bahu Faisal bertanya.

Waktu istirahat sebelum kembali diskusi tentang film inspiratif tadi. Sebatas melepas penat. Lima belas menit mungkin cukup. 

Banyak dari panitia dan peserta meninggalkan ruangan. Hanya beberapa yang tinggal. Termasuk gadis itu yang entah siapa namanya. 

Terlihat tenang. Ada buku bacaan dalam pangkuan. Sesekali pandangan itu menerawang. Seperti ada yang dipikirkan.

"Tidak. Sebatas mengingatkan. Jika sedari awal kesepakatan telah dibuat, peraturan itu sama saja berlaku untuk semua. Entah panitia atau peserta. Terkecuali jika peraturan ditujukan hanya pada peserta atau panitia. Itu sudah beda cerita," tukas Faisal. Dengan pembawaan santai. 

Sulit untuknya melepas perhatian dari gadis itu. Sedari awal diam. Tak berminat cakap. Cukup sesekali. Itupun jika seorang teman melempar pertanyaan. 

"Tidak hanya ke Putra. Tapi juga ke salah seorang peserta," lanjut Faisal.

Lolos juga. Faisal sengaja. Penasaran dengan ekspresi gadis itu. Adakah tersindir atau biasa saja. Kerana ia yakin, suaranya masih cukup terdengar oleh seorang akhawat berjilbab hitam tak jauh dari tempat duduknya. 

Santri baru spontan menoleh ke arahnya. Faisal menyeringai melihat ekspresi anak itu. Hanya diam. Menggembungkan pipi. Lalu kembali menunduk. 

Sesaat Faisal lihat, gadis itu merubah posisi duduk. Hendak bangkit. Tapi urung. Mungkin sebab mendengar seruan dua panitia dari luar. Meminta semua peserta untuk kembali berkumpul di ruangan. 

Diskusi dilanjutkan. Faisal serahkan tugas itu pada teman yang lain. Karena ia tak berani jamin untuk tidak memanggil gadis itu ke depan. Mempresentasikan tentang apa yang tadi ia saksikan di layar kaca berukuran 20 inch. 

Tujuannya hanya satu. Menguji tingkat kefokusan yang sebetulnya sudah bisa diprediksi. Anak baru itu akan sama seperti santri lain. Diam. 

***

13.52. Faisal menangkap sosok santri baru itu lagi. Bersama seorang ustadzah. Karena kebetulan ia sedang menghabiskan waktu untuk diskusi ringan bersama beberapa teman. Di aula masjid. 

Dari kepala yang terus menunduk. Langkahnya yang gontai. Faisal seolah bisa membaca tentang apa yang sedang mengganggu pikiran gadis berparas cantik itu. Paling macam santri lain. Tidak betah dan ingin pulang. Menyerah. 

Faisal menghela napas. Mengapa ia terus memikirkan santri itu. Setiap kali mata menangkap sosoknya, sulit bagi Faisal tuk berpaling. 

Astaghfirullah. Ada sesuatu yang tidak beres. Tujuan tetap tinggal di sini setahun kedepan bukan untuk memperhatikan seorang perempuan. Melainkan untuk sebuah pengabdian sebelum ucapan 'sampai jumpa lagi' lolos dari lisan. 

Sementara apa yang telah ia lakukan? Faisal istighfar berulang. Hempas jauh-jauh perasaan yang mungkin kan pengaruhi niat murni. Dan itu tak boleh terjadi. 

***

"Faisal, hari ini jadwal kau adzan 'asar, kan? Segeralah bersiap. Lima menit lagi waktu 'asar akan tiba." Arya, yang juga teman satu asrama, mengingatkan. 

"Na'am," jawab Faisal singkat, "syukran."

Faisal bergegas ambil wudhu. 

Teman satu angkatan yang belum juga meninggalkan pesantren hanya berlima. Dirinya, Arya, satu dari ikhwan beda jurusan, juga dua santri akhawat. Teman satu jurusan, satunya lagi lain jurusan. 

Berlima. Ditunjuk langsung dari pihak pesantren. Kalaulah boleh memilih mungkin Faisal sudah pulang untuk melanjutkan pendidikan. 

Adzan berkumandang. Nampak indah lantunan itu. Satu kelebihan Faisal punya. Suara. Fasih benar bacaan Al-Qur'an. Terlebih jika dilagukan. MasyaAllah. Irama itu. 

Orangtua sehingga bangga. Tak sesal menyekolahkan putranya di pesantren. Terlebih mereka tak pernah memaksa. Semua murni keinginan sang anak.

Faisal sendiri merasa bersyukur dengannya tinggal di pesantren. Meski tak jarang ia harus menyimpan dalam kerinduan pada keluarga. Bagaimana tidak? Peraturan sudah menetapkan demikian. Ia bisa apa?

Namun kini, enam tahun tinggal di pesantren ia rasa cukup. Untuk urusan kuliah, Faisal ingin di luar lingkungan pesantren. Bukan tersebab lebih bebas, bukan kerana bosan. Faisal hanya ingin setiap hari bertemu ayah, bunda, juga kakak perempuan yang selalu dirindukan. 

Baginya hidup di pesantren adalah menyenangkan. Bertemu banyak orang, teman, berakhir jadi saudara. Apanya yang membosankan? Faisal selalu menikmati hari-hari. 

Beberapa teman berkomentar, "hidup di pesantren seperti di kekang. Banyak peraturan." 

Faisal tersenyum mendengar komentar teman. Ia paham, mungkin si rakan terbiasa akan kebebasan. Sehingga sedikit banyak peraturan membuat mereka sedikit tak nyaman. 

Itu wajar. Terjadi pada hampir setiap santri di sini. Faisal tak terkecuali. Namun semakin mudah kita beradaptasi, semakin ringan kita menjalani.

Itu yang pernah Faisal alami. Mampu bertahan hingga tahun ke enam. InsyaAllah satu tahun lagi. Tahun terakhir tinggal di pesantren ini. 

Hanya satu. Berkurang waktu untuknya bersama keluarga. Itu saja. Sejauh ini tak menjadikan kendala. Memang begitulah adanya.

Beruntung satu tahun ke depan ia sentiasa bisa berkomunikasi dengan keluarga. Leluasa. Kapan saja. Sebab statusnya sekarang tak lagi sebagai siswa. Tetapi status santri, sampai nanti. Entah kapan. Selamanya mungkin. 

***

__________

Lanjut ke episode 4.

10 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...