Jumat, 02 September 2016

Takdir Sebuah Rasa (Bag. 10)


Teka-teki Hati

Oleh : Ainayya Ayska


"Ada yang ingin Ade diskusiin sama Kaka?"

Mendengar tanya Farhan, Ayska kembali letakkan itu cangkir di atas meja. 

"Apa yang perlu Ade diskusiin sama Kaka?" Ayska tak mengerti, "Kaka kan membosankan bila diajak diskusi."

"Termasuk diskusi soal hati?" sahut Farhan seketika, tersenyum melihat ekspresi Ayska, "asyik, dong ...."

"Candaan Kaka tidak lucu." Sejurus Ayska bangkit lalu meninggalkan Farhan seorangan. 

Farhan merasa heran melihat tingkah Ayska yang tak biasa. Ah, sama. Sudah biasa. Hanya saja ada sesuatu berbeda. Disana. 

Sejenak terpaku. Pandangan pada Ayska tertuju. Dari situ Farhan rasa ada sesuatu. Tersembunyi dibalik qalbu.

Jelas ada yang Ayska sembunyikan. Sesuatu yang tersimpan. Tak ingin diceritakan. Biarlah menjadi rahasia sendirian. Hal yang gadis itu lakukan. 

Entah mengapa Farhan rasa sikap Ayska sedikit aneh. Seakan menjauhi dengan cara sembunyi. Tak terlihat, tak teraba, pun tak terasa. Apalagi disadari. Tidak sama sekali. 

Bermula sejak kembali dari acara. Ada air kesedihan tertangkap dari mata. Tak terlihat memang. Tetapi gurat kesedihan, turut terasakan. Tak dikatakan, namun sikap cukup menjadi jawaban atas apa yang tersimpan. 

Farhan merasa, kalanya Ayska menjadi sosok misterius. Penuh teka-teki dan tertutup. Orang lain boleh tak sadari apa yang terjadi. Tidak untuk dirinya yang Ayska sering tak bisa sembunyi. 

Penasaran. Mencari tahu. Tetiba tangan itu meraih laptop yang Ayska tinggal. Layarnya masih menyala. Deretan huruf rapi berbaris di lapang word. Tulisan mengambang, belum tertuntaskan. 

"Galau tingkat lima," gumam Farhan sekenanya. Tertawa kecil membaca paragraf demi paragraf. 

Tunggu. Sesaat ada tanya. Tentang siapa yang dimaksud dalam itu cerita. Bertanya pada Ayska adalah percuma. Pun tak dapatkan apa. Hanya hal membosankan yang bakal diterima. 

Telisik punya selidik. Hanya bisa menduga. Adakah itu dirinya? Sulit dipercaya. Bukan. Itu pasti orang lain. Ia bukanlah harapan. Jelas bukan ia yang Ayska harapkan. Tetapi ..., adakah benar bukan Farhan? 

Bagi Farhan, Ayska terlalu cerdas merahasiakan rasa. Sebagaimana dirinya yang bahkan tak pernah bisa Ayska baca. Bila pun paham, adakah gadis itu akan terjebak galau tingkat lima? Bukankah Farhan tipe seorang yang setia? Entahlah. Ini sebatas versinya. 

Farhan mungkin benar. Ia hanya salah menduga. Mula dirinya tetapi mana tahu kalau ternyata itu orang lain?

Farhan tersenyum simpul. Mengingat niat yang pernah terikat pun terucap langsung pada ayah Ayska. Sedikit rasa kecewa. Tetapi tidak. Farhan tak boleh prasangka. Bilakah bukan dia orangnya lantas kenapa? Bukankah itu kabar baik untuknya?

Kesempatan terbentang disana. Harapan itu masih ada. Entah kenapa Farhan merasa, tak selalunya cinta yang mencipta satu hubungan. Mana tahu mulanya hubungan justru mencipta rasa, cinta. Dari hubungan terlahir rasa sayang. 

__________

Lanjut ke Bag. 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...