Jumat, 16 September 2016

Takdir Sebuah Rasa (Bag. 13)


Satu Panggilan Sayang 

Oleh : Ainayya Ayska



"Tid—"

"Ayolah, Kaka ..., cobalah mengerti Ade," potong Ayska cepat. Setengah sebal pun panik. Sebentar jalan. Kembali duduk. Begitu seterusnya.

"Tapi Kaka harus ke kantor nyamperin ayah ...." Farhan beralasan.

"Ya sudah, biar Ade telepon si om," desak Ayska. Cemberut wajahnya menambah imut. 

Farhan terdiam lama. Berpikir. 

"Ni anak cerdas juga. Bisa panjang ni kasus kalau dibiarin. Bisa-bisa kena marah ayah, nih," gumam Farhan. 

"Gimana, Kaka? Ngomong apaan?"

Farhan segera sadar tersebab suara di seberang. Beruntung kalimatnya tak jelas terdengar oleh Ayska. Bahaya. Bisa panjang urusan.

"Engga perlu, Ade. Engga perlu telepon ayah. Ngapain pula Ade telepon ayah," cegah Farhan cepat. Tidak berubah. Tetap bertele. 

"Makanya buruan antar buku Ade, Kaka! Jam berikutnya dah mau mulai, nii ...." Mukanya mulai memerah. Nada bicara kini beraroma amarah. 

"Iya, iya, iya ah. Bawel." Farhan mengalah. Mendengus sebal. 

Meski malas, Farhan jalan juga. Ayska terlalu ia sayang untuk terima hukuman. Sanksi adalah kabar tidak sehat yang tak ingin ia dengar. 

Segera melesat dengan kecepatan diatas rata-rata. Berharap tidak terlambat buku itu sampai ke tangan guru. 

Sementara di dalam kelas harap-harap cemas Ayska tak juga mereda. Jam kian bergulir sementara yang ditunggu tak segera hadir. Hati rasa khawatir. Memory tak jua bisa berpikir. 

Waspada. Jangan sampai kecolongan diri tak fokus pada pelajaran. Bisa bertambah runyam. Menjadi panjang urusan. Bisa-bisa bertambah hukuman. 

Pintu diketuk. Tersapa salam dari balik pintu. Senang. Senyuman kelegaan mengembang. Satu kesyukuran terbebas dari hukuman. Farhan kini telah datang. 

"Besok lupa lagi, ya, buku tugasnya," ledek Farhan sambil menimpuk pelan kepala Ayska dengan buku tugas tersebut. 

Sementara yang ditimpuk hanya mengaduh, meringis sambil mengusap pelan kepala. Lalu merebut buku di tangan Farhan. 

"Maafkan, Kaka ...." Ayska mulai berpura, pasang wajah memelas.

Menautkan alis, menahan tawa melihat ekspresi Ayska. Gadis itu pikir Farhan tak paham? Bahkan lebih dari pada hafal.

"Bahkan kau mengusik liburan ternyaman Kaka, Ade," keluh Farhan pula berpura.

"Hei ..., apa Kaka pikir Kaka tidak menyita waktu Ade?" Ayska tidak terima. Tangannya terlipat di depan dada. Membalik badan. Merajuk.

"Nona Ayska yang manis." tepukan pelan dari dosen membuyarkan lamunan. 

Kesadaran Ayska kembali pulang. Melihat dosen spontan. Bergulir pandang ke arah teman-teman. Sukses. Menjadi pusat perhatian. 

"Boleh Saya tahu, hari ini apa yang telah kau khayalkan?" lanjut dosen masih terus perhatikan. 

Ayska nyengir tidak jelas. Spontan menepuk dahi. Teman-teman mulai berbisik-bisik. 

"Boleh ceritakan kabar khayalannya, Putri Khayal?" Dosen terus mengejar, "sudah sampai jalan mana?"

Baik. Hari ini bahkan ia mendapat tambahan panggilan sayang. 

"Wah, Ayska dapat panggilan sayang ...," seru Ayska dengan lugunya, hampir bertepuk tangan. Melebihi anak kecil yang riang mendapat hadiah boneka dari ayah.

Sedetik, dua, tiga, hening. Tawa meledak. Ayska bertanya-tanya. Sementara dosen melihat sekeliling. Lalu menghela napas. Menekan mata. Emosi kini naik satu derajat.

Segera Ayska tersadar saat dosen sedikit mengeraskan suaranya, "adakah yang lucu di sini?" 

Kembali menepuk dahi. Sukses sudah. drama Ayska pagi ini. Berhasil pulang membawa sanksi ni hari. 

"Duh,  ka Farhan bisa tertawa penuh kemenangan kalau begini kasusnya," keluh Ayska sambil memangku kepalanya di atas meja tulis.

Tak peduli bahwa dosen masih betah berdiri di depannya. Menatap Ayska keheranan.

__________

Lanjut ke Bag. 14.

13 komentar:

  1. Hahaha...maaf, aku jadi ikut tertawa

    BalasHapus
  2. Tuh kan saya bilang juga Ainayya ini punya sense yang bagus. Lanjutkan cerita nya, bikin konflik yang berdarah-darah biar tambah greget. Good job

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Aamiin... Doanya ya, kak.

      Masih harus terus dan terus belajar, nih. Heheh

      Hapus
  3. Wah, masya Allah mba ainayya udah smpe bag. 13..dan aku?

    Mba ainayya kereeen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kisah dah sejak lama, mba. Belom jua nak selesai. Ahihi

      Hapus
    2. InsyaAllah masih ingin lanjut, hehe

      Hapus
  4. templatenya bagus mba? mata jadi seger :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aa makasih... Dah berkunjung, ka ian... :)

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...