Minggu, 09 Oktober 2016

Dilema Sebuah Keputusan

Oleh : Ainayya Ayska 

Temen-temen, makasih untuk kurang lebih enam bulan terakhir ini. Bersama kalian, Ainayya bahagia. Meski acapkali keributan mewarnai perjalanan kita, tapi Ainayya rasa mungkin akan rindukan semua. 

Maaf juga kalau selama bersama, Ainayya suka merepotkan kalian, bikin ribut, dan apalah macamnya. Maaf, jika Ainayya harus pergi. Assalamu'alaikum .... 

Sukses. Tiga sahabat mendapat pesan via grup bersahabat mereka. Tak berapa lama bahkan Ainayya leave dari grup? Benar-benar ni anak. Luar biasa. 

Mira terkejut mendapati itu. Bukankah baru beberapa menit lalu ia meninggalkan kelas? Mungkin juga sekarang tengah di perjalanan pulang. Atau minimal masih di depan menunggu taksi datang. 

"Semua ..., Ainayya duluan, ya ...." Sapaan terakhir Ainayya sebelum meninggalkan kelas tadi. 

Sedih Mira melihat semua. Ini bukanlah Ainayya yang ia kenal enam bulan terakhir. Sebetulnya apa yang terjadi padanya? Mengapa mendadak berubah drastis semacam ini?

Mira terdiam. Berpikir. Adakah ucapan Yunia? Bukankah selama ini Ainayya selalu enjoy dengan itu semua? Atau ..., mereka yang terlalu naif, tak pernah sadari ada sesuatu yang sengaja Ainayya sembunyi? 

Mereka mungkin yang keliru. Pasti. Ainayya terlalu pandai sembunyi untuk mereka coba deteksi. Oh, tidak. Mira rasa Putra sangat memahami hal ini. Ia yang terlalu peduli. Mengerti benar soal tiga sahabatnya. Hanya saja ....

"Kita pulang sekarang," ajak Putra pada Mira dan Yunia. 

"Kau tak menunggu si tuan Putrimu itu? Yang butuh penjagaan dua puluh empat jam?" celetuk Yunia. Sengaja memancing di air keruh. 

"Yunia! Tolong. Aku sedang tak ingin berdebat denganmu," tukas Putra tegas. 

"Kau pura-pura tidak tahu, Yunia? Bukankah kau tadi lihat dan dengar sendiri?" sindir Mira. 

Putra berlalu. Mira menyusul cepat-cepat. Yunia berjalan santai di belakang. Bila pun mereka harus menunggu, biarkan. Yunia tidak peduli. 

Peduli apa? Dua anak di depannya kini tak lagi menghiraukan Yunia. Apalagi yang tersisa? Selama ini selalu Ainayya, Ainayya, dan Ainayya yang selalu mereka acuhkan. 

Yunia ingin seperti masa-masa sebelum datang Ainayya. Saling peduli, berbagi, tak ada yang terlalu diistimewakan. Semua sama. Yunia heran. Memang, apa istimewanya Ainayya, sih? 

"Yunia, cepat!" seru Putra. Bosan menunggu. Sejak kapan anak itu jalannya lambat, hah? 

Tak peduli dengan jawaban Yunia yang sarkastik. Apalagi pandangan sinis gadis itu. Peduli apa? Sekarang semua benar-benar kacau. Apa yang ia khawatirkan telah terjadi. 

Hari sebelumnya Putra sudah mendengar dari Arfan, ayahnya Ainayya. Menyayangkan tentang keputusan anak itu. Bukankah semua bisa dibicarakan ulang? Tetapi tidak. Ainayya menyerah. 

Bagi Ainayya semua akan sama seperti sebelumnya. Jadi untuk apa? Itulah yang Ainayya rasa. Tiada lagi yang tersisa. Tetap berteman layaknya yang lain, itu sudah cukup Alhamdulillah. 

Begitulah. Apa yang Ainayya ingin, itulah yang akan gadis itu lakukan. 

Yunia masuk ke mobil. Duduk di jok belakang. Menutup pintu kasar. Putra dan Mira sama sekali tak menoleh. Tak bicara sepatah dua kata. Putra mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolah. 

Yunia. Itulah alasan Ainayya pergi. Putra mengerti, Yunia mungkin merasa iri. Ia merasa bahwa Mira dan Putra tidak adil terhadapnya. Itulah masalahnya. 

Tetapi Putra tak bisa sepenuh menyalahkan Yunia. Begitu saja. Mungkin memang Putra yang kurang bisa berbuat adil. Mira bahkan terkadang menyudutkan Yunia setiap kali mendapati Yunia menyalahkan Ainayya. 

Solusinya, Ainayya harus pergi. Tapi adakah itu yang terbaik? Versi siapa? Yunia. Mungkin itu jawabnya. Lantas bagaimana dengan Mira dan Putra? 

Kacau. Benar kacau. Ainayya terlanjur masuk dalam lingkaran dan tidak semudah itu mereka melepaskan. Dan Putra yakin, sukar untuk anak itu meninggalkan. 

***

Assalamu'alaikum, Rizki. Maaf nih, bolehkah Ainayya pinta tolong sesuatu? 

Sukses. Akhirnya satu pesan singkat yang sedari hanya ditimbang-timbang, ragu untuk dikirim akhirnya tersampaikan juga. 

Menunggu balasan harap cemas. Terlihat pesannya sudah Rizki baca, tapi tak lekas dijawab. Justru whatsappnya kembali tak aktif. 

Ainayya letakkan kembali ponselnya. Keluar kamar lalu turun ke bawah. Sejak tadi belum makan siang dan rasanya lapar sekali. 

"De Ainayya, bahan dapur sudah banyak yang habis ...," tegur bi Mirna saat Ainayya datang lalu membuka lemari es. 

Ainayya hanya ber-yah ria ketika mendapati makanan yang dicari tak ia temukan. Sedikit kecewa. 

"Daftarnya sudah dibikin, Bi?" tanya Ainayya seraya menuangkan air ke dalam gelas. 

"Sudah, De. Ini daftarnya," jawab bi Mirna sambil memperlihatkan daftar belanja untuk dapur. 

Ainayya sebentar melihat. Meski tak ia baca, "ya sudah, Bi. Kita belanja sekarang saja."

Ainayya lalu beranjak ke atas. Mengambil ponsel juga tas selempang kecil yang ia selalu bawa setiap bepergian. Ainayya iseng melihat layar ponselnya. Yah, barangkali ada pesan dari Rizki. 


Mata itu berbinar. Senyumnya mengembang. Pesan dari Rizki datang. 

Wa'alaikumussalam, Ainayya. Boleh, apa itu? Selagi bisa akan kucoba bantu ....

Ainayya tak lekas jawab. Ingat bahwa bi Mirna sudah menunggu di bawah. Nantilah bisa dibalas saat di jalan.

Besok pengambilan kartu ujian, bukan? Bolehkah besok ambilkan sekalian? Tolong. Jika tak keberatan saja. Sebab Sabtu kita dah libur. 

Nanti biar Ainayya ambil ke rumah. Kalau engga besok, mungkin Sabtu InsyaAllah .... 

Send. Terkirim. Sekarang mereka perjalanan ke super market. 

Di seberang sana Rizki dibuat heran oleh pesan Ainayya barusan. Mengapa bisa? Bukankah jika ia tak bisa berangkat ada tiga sahabat? Rizki benar-benar tak mengerti. 

Hari ini bahkan Rizki lihat konflik mereka makin menjadi. Tak ada percakapan sama sekali. Pemandangan yang cukup langka. Apa yang terjadi? Oh ... ada apa dengan Rizki? Mengapa jadi sibuk berpikir begini? 

Baiklah, Ainayya. InsyaAllah akan aku ambilkan sekalian. Kesempatan bolos sebab engga pelajaran, ya? Ahaha

Send. Terkirim. Rizki tersenyum kecil sedikit menyelipkan gurauan itu. Kali pertama Rizki canda ama Ainayya via pesan. Biasanya sebatas di kelas atau saat tak sengaja bertemu muka di koridor sekolah. Itupun jarang. 

Ingin rasa bertanya mengapa tidak Putra atau Mira saja yang ambilkan. Tapi rasanya tidak mungkin. Rizki tak ingin Ainayya merasa ia menolak permintaannya. Lagian permintaan tolong anak itu tidak berat. Terlebih itu kan bukan urusannya. 

Jadi biarlah. 

***

__________

Lanjut ke episode 18.

7 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...