Sabtu, 01 Oktober 2016

Kasus Kemarin Sore

Oleh : Ainayya Ayska 

Kembali Putra mendengar keributan antara Yunia dan Mira. Usai dhuhur. Jam makan siang di kantin. Gosip ringan tadi pagi di kelas dijadikan alasan perdebatan mereka. 

"Apa? Kau bela Ainayya?" sembur Mira.


"Kalian engga konsisten banget, sih? Bukannya Ainayya sendiri yang nasehatin untuk tetap sahabatan antara kita berempat? Engga ada saling suka. Tapi apa? Kau dan Ainayya ada apa-apa dibelakang, bukan?" tambah Yunia.

Sukses. Kompak sudah dua gadis itu termakan gosip yang sebetulnya mereka tahu itu tidak benar.

Saat Putra coba jelaskan semua. Menjadi penengah antara Mira dan Yunia. Mereka justru berpikir bukan-bukan. Menuduh tanpa alasan. Bahkan keduanya menolak untuk besuk Ainayya sore nanti. 

Yunia membuka kembali soalan kemarin saat Ainayya hanya sibuk ngobrol dengan ikhwan. Bukan panik mencari Mira. Bukankah mereka bertiga sudah sepakat untuk tak lagi membahas itu? 

"Kalian tidak ingin besuk Ainayya?" tanya Putra sekali lagi. 

Mira dan Yunia kompak diam.

"Oke. Mungkin saat itu Ainayya salah. Dalam sekejab ia lupa. Khilaf. Malah sibuk ngobrol dengan ikhwan yang bagi kalian engga jelas.

"Setidaknya tunjukkan rasa solid kalian sebagai teman. Kalian tak lupa dengan kebaikan apa yang sudah Ainayya coba lakukan selama ini, kan? 

"Adakah kalian begitu saja lupakan banyak hal baik hanya sebab satu kesalahan kecil?" tutur Putra panjang lebar. 

"Kesalahan kecil?" pekik Mira dan Yunia bersamaan.

"Iya. Kecil. Di antara kita berempat, mungkin Ainayya yang sering kekanakan. Egois. Ingin menang sendiri. Tapi dalam kasus kemarin, sebetulnya siapa yang salah?" tukas Putra tanpa ragu, "aku, Ainayya, Mira, atau kau Yunia?" 

Mira dan Yunia kembali bungkam. Tak berkata. Memandang ke sembarang arah.

"Mira. Mira yang terlalu kekanakan. Kenapa? Ingin coba ikuti gaya Ainayya saat lagi marah? Yang terbiasa kabur saat apa yang engga ngenakin hati tengah meluncur menguji emosi? Iya?" lanjut Putra. 

"Hei, ko malah jadi aku yang—" Mira tak terima. 

"Keberatan? Merasa kau benar?" kejar Putra. 

"Putra! Apa kau tak sadar? Kita berteman sedari SMP. Dan Ainayya? Siapa dia? Dia hanya anak baru di antara kita." Yunia semakin emosi.

"Bukan siapa-siapa. Begitu maksudmu?" Putra coba memastikan meski sudah mendapat jawaban. 

Mira dan Yunia tak berkata. Saling pandang. Menatap Putra bersamaan. Sesaat. Lalu berpaling ke arah lain.

"Baik. Terserah kalian. Kalau kalian tak ingin besuk Ainayya tak masalah. Aku bisa besuk dia sendiri." pungkas Putra. Lalu melenggang pergi. 

***

"Boleh Ainayya ngomong sesuatu?" Ainayya membuka percakapan. 

Ayah keluar beberapa saat yang lalu. Tiga sahabat tiba tepat pukul empat sore tadi. Yunia dan Mira masih saja sibuk dengan gadgetnya. Putra bersama buku bacaan yang sebelumnya ada di atas meja. 

Berkumpul di teras depan rumah. Ainayya tampak sedikit baikan. Mungkin esok sudah kembali ke sekolah. Semilir angin sore itu menyapa lembut. Langit cerah. Tampak indah. 

Hari yang tenang. Entah kenapa. Seakan ada sesuatu lain, ingin mendengar apa yang hendak Ainayya sampaikan. 

"Ainayya banyak mendengar puzzle perjalanan kalian bertiga. Dari Putra. Semula baik-baik saja jauh sebelum Ainayya tiba. Bila pun ada perdebatan ringan, itu wajar. Bahkan ayah selalu kasih pengertian soal itu. Dalam hubungan memang seperti itu.

"Yunia, Ainayya paham sejak awal untukmu sulit menerima Ainayya. Bahkan Ainayya tak pernah meminta untuk menjadi bagian dari kalian, bukan? 

"Hingga akhirnya kau menerimaku begitu saja. Tak tersirat, tak terlisan, tanpa pernyataan. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini kau nampak berbeda. Ainayya merasa kau kembali macam semula. Jikalah memang Ainayya harus pergi—"

"Ainayya, apa yang kau katakan?" Putra menyela. Terkejut dengan apa yang Ainayya utarakan. 

"Apa ada yang salah?" cepat Ainayya balas menatap Putra. 

Mira hanya diam. Serius menatap Ainayya dan Putra yang sibuk berdebat. Yunia sendiri beberapa kali menguap. 

"Beberapa waktu ini Ainayya seakan mendapat jawaban bahwa kalian tetap ada tersebab ayah yang pinta. Bukan, begitu?" Ainayya mengajukan pertanyaan yang Putra rasa tidak punyai jawaban. 

Pertanyaan macam apa itu? Tak pernah ada yang pinta tuk tetap bersama Ainayya. Apalagi Arfan, ayah gadis itu.

"Cukup, Ainayya! Habis kesempatanmu untuk bicara. Omong kosong apa yang kau katakan?" tegas Putra.

Cukup sudah drama yang Ainayya buat. Sekarang tidak lagi. Apa maksud dia bicara seperti itu? Oke. Mungkin gadis itu cukup tertekan dengan setiap ucapan Yunia. Suka bicara asal tanpa peduli perasaan lawan.

Anak baru. Itu masalahnya. Sehingga membuat Ainayya merasa, tidak seharusnya ia ada dalam lingkaran persahabatan mereka. Dan jika sekarang harus disudahi, itu akan lebih baik. Untuk semua. Itulah yang sebetulnya ingin Ainayya coba jelaskan. 

Permasalahan ini bermula bukan kerana Ainayya. Tetapi hadirnya rasa di antara tiga sahabat. Sementara Ainayya coba bantu selesaikan semua. Tetapi sayang, hal itu sempat disalah artikan. 

Tetapi bukankah itu sudah berlalu? Semua bahkan sudah baik-baik saja, bukan? Dan kenapa kasus ini dibuka lagi? Ada apa dengan semua? 

"Iya Ainayya. Kau memang tak sepantasnya menjadi sahabat kami," sergah Putra. Tiba-tiba. 

Mira terkejut. Yunia bahkan membelalakkan matanya. Ainayya tak kalah terhenyak. 

"Kau memang tidak pantas bersahabat dengan orang yang bahkan tak pernah mau mengerti dirimu. Dalam beberapa kondisi kami tak pernah memahami bahwa ada satu dua hal yang kau sembunyikan.

"Kau mungkin rasa tertekan dengan lisan kami yang acapkali bicara sembarangan. Seol—" lanjut Putra. 

"Bukan soal itu. Ainayya terlalu banyak menyusahkan kalian. Dan ...," koreksi Ainayya. 

Sayang, obrolan serius itu terpotong oleh kedatangan Arfan. Mengucapkan salam. Membawa sesuatu. Makanan ringan. 

"Aduh, Om! Ko repot begini, sih?" Putra rasa tak enak. 

Arfan tertawa renyah, "santai saja, Putra. Ayuk, di makan. Om tinggal, ya. Kebetulan masih ada kerjaan."

Arfan berlalu. Perdebatan babak kedua dimulai lagi. 

"Berhentilah bicara atau aku akan pulang sekarang juga, Ainayya!" perintah tegas Putra. 

"Kami ke sini tidak untuk berdebat denganmu. Tapi untuk melihat kondisimu. Memastikan bahwa sahabat kami akan baik-baik saja. Kau tahu itu?" terang Putra. Sedikit kecewa dengan semua kata Ainayya. 

Semenit. Dua. Hening. Tetiba Ainayya tergelak. Sampai tersedak. Sigap Mira memberikannya minum. 

Yunia kembali menguap. Selalu begitu. Putra bermuka masam. Lelucon apa yang tengah Ainayya perankan? Putra bangkit lalu pergi. 

"Hei ..., Putra! Bahkan Ainayya cuma bercanda!" seru Ainayya. 

"Bercandamu tidak lucu, Ainayya!" balas Putra sengit. 

Ainayya manyun. Melipat dua lututnya. Selalu begitu. Apa salahnya bercanda. Biasanya juga begitu. Tak ada masalah. Kenapa sekarang Putra yang marah? Huft. Menyebalkan. 

***

"Rizki mau ke perpus?" seru Ainayya.

Sengaja mengeraskan suara. Biar saja kalau Putra mendengar. Ainayya sedang marah padanya. Apa? Bahkan Putra kemarin sore pergi begitu saja. Terpaksa ia mencari alasan saat ayah bertanya.

Tiga sahabat menoleh ke arah Ainayya dan Rizki. Lalu bertukar pandang. Mira menghela napas. Yunia memutar bola mata bosan. Putra tak peduli. Menyimpan kasar semua peralatan ke dalam tas sekolah. 

Jam istirahat pertama. Biasanya mereka berempat selalu bersama. Tapi tidak untuk hari ini. Berasa engga asyik. Ainayya marah pada Putra. Begitu sebaliknya. Semua sebab kasus kemarin sore di rumah Ainayya. 

Ainayya juga. Dalam kasus ini bukankah ia yang salah? Harusnya ia yang minta maaf, bukan? Putra pula, sudah tahu kalau si manja suka bercanda. Masih saja terbawa suasana. 

Putra tak peduli. Ainayya yang harus meminta maaf. Sekali-kali tak masalah bukan?

"Ainayya ikut," pinta Ainayya pada Rizki. 

Rizki ragu. Lalu menatap ke arah Putra. Kembali lagi ke Ainayya saat gadis bawel itu memaksa untuk segera meninggalkan kelas. 

Rizki tampak beranjak saat Putra mengangguk tanda setuju. Mendapat izin. Tunggu. Hei ..., sejak kapan ketika Ainayya harus pergi dengan teman lain harus izin dulu pada Putra? Ini tidak bisa dibenarkan. Baik. Lupakan. 

Ainayya melenggang begitu saja. Menyapa. Tunggu. Bahkan untuk memandang ke arah Putra saja Ainayya enggan. Jadi, lupakan soal bertegur sapa.

"Kalian kalau engga ada yang mau ngalah, sampai kapan juga akan begini. Emang mampu bertahan berapa hari, hah, kalian saling dingin macam ni?" komentar Mira mendapati pemandangan tak mengenakkan barusan. 

Putra hanya melirik. Malas menanggapi Mira. Yunia hanya mengangkat bahu, "engga lama juga baikan. Biasanya begitu, kan?"

Lalu Yunia mengajak ke kantin. Sedikit memaksa. Bahkan mengancam akan menyeret mereka jika tak segera. 

"Engga asyik, nih. Ainayya kalau sudah ngambek ama Putra, bahkan yang lain ikut didiemin," desah Mira, "kau cobalah tegur Ainayya, Putra!"

"Tak akan," tolak Putra. 

"Jangan keras kepala!" omel Mira. 

"Marah saja semua. Pusing tahu, engga, lihat sikap kekanakan kalian," ujar Yunia sarkastik. Berlalu. 

"Hei, bahkan kau sendiri juga kekanakan. Apa kau tak menyadari itu?" seru Mira tak suka. Membuat penghuni kantin menoleh ke arahnya.

Empat bersahabat. Seisi sekolah juga tahu tentang hubungan itu. Kalau lagi ada soalan, Ainayya seorangan hingga bilangan empat itu kembali menjadi tiga sahabat. 

Kehebohan yang selalu mereka buat, kebersamaan, kekompakan, semua penghuni sekolah tahu. Sempat menjadi trending topic di sekolah. Mulai dari kalangan siswa, guru, hingga pengurus yayasan. 

Tidak ada yang berani macam-macam dengan salah satu dari mereka atau dia akan berurusan dengan Putra dan Yunia. Seperti bulan lalu seorang siswa bahkan belum apa-apa sudah meringkuk ketakutan sebab kedapatan mengganggu Ainayya dan Mira. Iseng ngerjain keduanya.

Empat bersahabat tentulah bukan preman. Bukan pula geng yang hanya bisa bikin masalah. Dalam banyak kasus mereka sangat baik dan bersahabat. Terbuka sama siapa saja yang ingin berteman, cakap, atau diskusi bersama. 

"Kau berani macam-macam denganku, hah?" Dengan galak Yunia memelintir tangan kakak kelasnya. Tepat di sebelah pintu kantin saat Yunia ingin keluar. 

Seketika menjadi pusat perhatian seluruh siswa tak terkecuali Putra dan Mira. 

"Aku engga peduli kau cowo bahkan kakak kelas sekalipun. Sekali lagi kau bikin masalah, awas saja!" ancam Yunia begitu kakak kelasnya merintih kesakitan dan meminta maaf. 

Putra biasa saja. Mira yang terlihat sedikit khawatir. Sempat meminta Putra untuk menolong Yunia. Untuk apa? Yunia bukan macam dua sahabat lain. Gadis itu bisa menjaga diri.

Faktanya Yunia bisa mengatasi dengan mudah. Apa yang perlu dikhawatirkan? 

***

__________

Lanjut ke episode 10.

10 komentar:

  1. Jadi ingin nyanyi persahabatan bagai kepompong

    BalasHapus
  2. Ayo, kak. Nyanyiin itu lagu,

    Siap dengerin ahihi

    BalasHapus
  3. Arfan itu ayahnya ainayya ya? Hehehe banyak nama soalnya jadi agak bingung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, ka Sas coba baca dari sesion pertama. Semoga engga bingung.

      Iya, Arfan ayahnya Ainayya.

      Hapus
  4. Ai... Ai... Dasar si manja yg suka bercanda :D

    BalasHapus
  5. hahaha, bercandanya ainayya tidak di waktu yang tepat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahihi iya, bun. Ainayya salah waktu ... Asal dapat sempat main comot aja. Hihi

      Hapus
  6. Balasan
    1. Hayyoo kapan jawaban untuk pertanyaan ini diberikan... Hehehe

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...