Senin, 24 Oktober 2016

Lima Sore

Sumber : kawanimut
Oleh : Ainayya Ayska 

Ainayya bosan. Ah, dalam hati mungkin senang. Entahlah. Sepanjang siang. Usai shalat dhuhur di mushalla tadi, di perjalanan, hingga sore ini bahkan kak Fida dan kak Mela tak jua berhenti godain Ainayya.

"Oh, jadi itu yang di pesantren?"


"Waow. Kebetulan sekali, ya, De. Entar jadi saudaraan ama si ka Raka, tuh."

"Engga disangka, ternyata yang dibicarakan selama ini sepupu si ka Raka sendiri, ya, De. MasyaAllah, banget ...."

Juga kalimat-kalimat lain. Diluar, sih, terlihat sebal. Entah yang didalam sana. Mungkin hatinya tengah berdendang riang.

Bahkan tadi, waktu mereka pamit, dengan enteng si kak Raka nyeletuk, "tenang aja, Ade. Nanti kuliah di sini juga tiap hari bisa jumpa ka Faisal. Ada yang jagain, bukan?"

Ainayya hanya tersenyum geli. Ah, mereka itu.

Ainayya tiduran di ruang tengah saat Mela membaca buku. Barusan kena omel tersebab volume mp3 yang dinyalakan cukup mengganggu konsentrasi.

Fida tengah di dapur bikin makanan entah apa. Ayah kebetulan lagi keluar sejak satu jam yang lalu. Sekarang pukul lima sore.

Lima sore. Bersamaan saat Faisal tengah bersantai. Di teras depan rumah, ditemani sebuah buku sandiwara langit karya ustadz Abu Umar Basyier. Tak lupa bersama segelas air mineral di atas meja. Ponselnya dibiarkan begitu saja. Di sebelahnya.

Langit sore itu seakan mengajaknya bercakap. Tetiba Faisal tersenyum. Teringat dengan pertemuan siang tadi. MasyaAllah. Tanpa sadar tangan itu kembali menutup buku.

Faisal tak sangka akan kembali jumpa. Setelah Ainayya meninggalkan pesantren dulu, bertemu dengan Arfan dan putrinya itu beberapa kali pun sebatas menjadi pemerhati.

Untuk pertama kalinya, setelah beberapa bulan Ainayya pergi dari pesantren, kembali mereka jumpa tak sengaja di pantai. Singkat masa. Tak cakap apa.

Ketika itu, Faisal tengah merekam alam dari camera digital di tangan. Terlalu asyik. Tak perhatikan sekitar. Terlebih teman-teman juga meneriakkan namanya, memberi kode untuk segera ambil gambar mereka.

Saat tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang. Sedikit terkejut. Sejenak menghentikan kegiatannya. Menoleh ke belakang guna melihat siapa dia.

Oh, seorang akhawat. Terjatuh. Kepala tertunduk. Lalu mengangkat pandangannya.

Agaknya murka, terlihat jelas dari rupa. MasyaAllah. Tetapi lihatlah! Tak butuh waktu lima detik mereka menyadari sesuatu. Dia?

Saling tunjuk. Bibir tertarik perlahan membentuk seulas senyum. Bahkan Ainayya terlupa dengan kemarahan yang sempat ada.

"Ade ...."

"Kaka ...."

Sepersekian detik.  Mengaduh. Sedikit rasa sulit hendak bangun. Faisal tersenyum. Lalu mendekat, berniat membantu gadis itu berdiri. Tetapi tidak, bahkan Ainayya berhasil bangkit seorangan.

"MasyaAllah, Kaka di sini juga?" Ainayya bersorak senang. Jelas sekali dari sorot matanya. Kekanakan datang. Tentu saja.

Faisal tersenyum. Hendak jawab bertepatan saat seseorang menarik kasar tangan Ainayya. Menyeret gadis itu entah mau dibawa kemana.

Gadis itu terkejut. Begitu juga dengannya. Adalah Faisal sedikit tidak terima Ainayya diperlakukan seperti itu. Ada pemantik api menyulut.

Sebetulnya siapa perempuan yang menyeret paksa Ainayya? Apa hubungan dan masalah mereka? Hah. Apapun itu. Ada rasa tidak terima. Ingin coba membela. Sudut jiwa yang selalu ingin menjaga Ainayya masih ada.

Faisal berniat mengejar. Menegur seseorang yang dengan kasar menarik tangan Ainayya. Namun, seseorang tetiba datang menahan. Meminta, biarlah ia yang coba menyusul.

Tapi Faisal tak bisa diam begitu saja, bukan? Kenapa pula lelaki di hadapannya kini memaksa menahan dirinya? Memangnya siapa dia? Apa hubungan mereka?

"Percayalah. InsyaAllah semua akan baik-baik saja." Seseorang itu coba yakinkan Faisal.

Entah. Adakah lelaki itu membaca jelas kecemasan Faisal di wajahnya. Akhirnya ia mengalah. Membiarkan ikhwan di hadapannya kini berlalu begitu saja.

Baik. Semoga memang semua akan baik-baik saja. Ingin rasa mengikuti mereka. Mencoba pastikan memang benar tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi, tidak. Teman-teman tetiba datang. Mengajaknya pergi makan. Hah. Sudahlah.

"Faisal, sudah setengah enam, Sayang! Buruan bersiap pergi ke masjid!"

***

_____

Lanjut ke episode 25.

4 komentar:

  1. wah, keren, nii

    BalasHapus
  2. Oh ternyaya ini sudah episose yang kesekian. Makanya sy sempat menerka-nerka yang mana awalnya. Kyakx seru nih klw dibaca dari awal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe
      Makasii kunjungannya...
      Semoga tak bosan ikuti serialnya, ya..

      Hapus
  3. jangan lupa main ya ke blog ku www.alfanismail.com

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...