Minggu, 02 Oktober 2016

Persahabatan yang Unik

Oleh : Ainayya Ayska

Ainayya terlihat asyik bersama beberapa teman di dalam kelas. Gelak tawanya jelas terdengar di telinga. Menunggu guru kelas datang. 

Yunia sibuk membolak-balik buku pelajaran. Entah adakah yang menarik disana. Putra dan Mira berjalan menuju bangku masing-masing. Tak lama kemudian guru masuk kelas.

Seperti biasa. Kalau tak kerjakan soal, ulangan, guru pengampu mata pelajaran akhlak selalu meminta siswa untuk mencatat lebih dulu sebelum dijelaskan. 

Huft. Ini yang Ainayya bosan. Sebab guru itu kalau membaca macam kereta sementara Ainayya mencatat bak kura-kura. Selalu saja tertinggal.

Ujungnya pinjam catatan Putra yang super lengkap.

Pinjam Mira atau Yunia percuma. Catatan mereka lompat-lompat.

Pinjam Rizki sungkan, Ainayya sering lupa tidak salin catatan. Buku kembali juga pekan depan.

Pinjam teman lain sama alasan. Tak enak hati bilakah kelupaan. 

"Ainayya engga butuh," celetuk Ainayya saat Putra berikan buku catatan mapel akhlak. 

Tak peduli bilakah menyinggung hati. Putra sendiri memaklumi. Masih ngambek itu pasti. Sehingga gengsi tuk sekedar pinta bagi. 

"Jangan keras kepala," balas Putra santai. 

Meski enggan, Ainayya terima juga. Rizki tersenyum melihatnya. 

"Lucu juga empat bersahabat itu kalau sedang marahan," gumam Rizki. 

Kembali tenang saat guru mata pelajaran selanjutnya masuk kelas. Hingga akhirnya jam kelas berakhir. Tiba juga istirahat kedua. Waktunya untuk shalat dan makan siang. 

"Lepas shalat Ainayya langsung ke kantin untuk makan!" perintah Putra. Tak ingin mendengar protes. Tahu sudah anak itu masih marah. 

"Kalian berdua juga. Awas saja kalau aku engga lihat kalian bertiga di kantin usai shalat," ancam Putra lalu berlalu. 

Menyebalkan. Selalu begitu. Main ancam. Tidak bisakah hal lain saja? 

***

"Ainayya, Sayang. Tadi bi Mirna bilang Ainayya pulang sendiri naik taksi. Kenapa, Sayang? Lagi ada masalah sama teman-teman?" Arfan dengan penuh perhatian menghampiri putrinya.

"Pagi tadi Ainayya pergi gitu aja naik taksi, padahal Putra, Yunia, sama Mira menjemput ke rumah." lanjut Arfan, sang ayah. 

Terlihat sibuk bersama laptopnya di ruang depan. Ayah mengambil duduk di samping Ainayya. 

"Ade lagi sebel sama si Putra, Ayah," terang Ainayya tak alih pandang. Terfokus pada layar di depan. 

"Kalian tengah marahan? Kalau ada masalah segera diselesaikan, ya, Sayang. Engga baik jika berlarut-larut," nasehat ayah.

Ayah meminta Ainayya untuk bercerita. Si manja bersemangat. Menutup layar laptop segera. Lalu menceritakan secara kronologis. 

Ayah mendengarkan dengan baik. Menanggapi setiap celotehan anak tersayang dengan bijak. Jam menunjukkan pukul 17.15. 

"Jadi sebetulnya siapa yang salah dan harus minta maaf?" Ayah bertanya. 

Ainayya menghela napas panjang, "Ainayya."

"Segera minta maaf pada mereka. Ainayya mengerti? Jangan terlalu lama ditunda, ya, Sayang," tukas ayah. 

Ainayya tak menjawab kata. Hanya mengangguk lalu meraih gadgetnya. Kemudian mengirim pesan di grup pribadi mereka. Yang hanya beranggotakan empat bersahabat. Ainayya, Putra, Yunia, dan Mira. 

Maaf ....

Tak lama gadgetnya mendapat pesan baru. Balasan dari Putra. 

Tak apa. 

Selang dua detik disusul oleh Mira

Kita baikan? Besok berangkat sekolah berempat seperti biasa. Ok. 

Terakhir oleh Yunia. 

Yea laa .... 

***

"Kalian berempat berantem lagi?" Seperti biasa, Nafisah, kakak kedua Putra, yang paling peduli dengan keutuhan persahabatan mereka, bertanya. 

"Udah baikan," singkat Putra yang bersiap untuk pergi ke masjid ujung jalan sana. 

"Syukurlah. Begitu lebih baik. Jangan berantem mulu. Engga asyik," jawab Nafisah lalu kembali ke kamarnya. 

Putra paham darimana kakaknya tahu. Tentu saja. Pulang lebih awal. Salah satunya. Nampak terlihat. 

Mereka, kalau sudah berantem pasti jalan sendiri-sendiri. Pulang naik taksi. Berangkat juga seorangan. Sampai di rumah lebih awal satu jam. Berangkat sekolah demikian. Satu jam lebih siang. Acara antar jemput pindah liburan.

Kapan hari, mungkin dua pekan yang lalu pun begitu. Berantem. Marahan. Saling diam. Jika tidak ingat hadits nabi, yang melarang saling diam lebih dari tiga hari, mungkin satu minggu tak tegur sapa juga tahan. Peduli apa? 

"Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560)

Biasa. Hanya salah paham. Tak sependapat. Jika dipinta jujur, jalan seorangan bagi empat bersahabat itu sungguh tidak nyaman. Biarlah jika harus ada perdebatan ringan. Asal tetap ada obrolan. Jalan bareng bersisian. Tidak diam-diaman. 

Tetapi apa? Egois tetaplah ada. Saling merasa. Selalu begitu. Harus ada yang mau mengalah. Kalau tidak pastilah bertambah itu masalah. Entahlah. 

Empat bersahabat yang unik. Begitulah beberapa teman sekolah menilai. Termasuk Rizki. Dalam satu kesempatan, Putra pernah terlibat obrolan ringan. Empat mata bersama Rizki. Saat itu ....

Rizki berkata, "persahabatan kalian itu unik. Sesendiri apa kalian berjalan, semarah apa kalian saling diam, dalam beberapa kondisi kalian tetaplah saling peduli. Mengingatkan, menjaga. Meski itu pada hal-hal kecil, sesuatu yang ringan dan sepele menurut orang. Seperti mengingatkan jam makan siang, shalat, kajian. 

"Orang sangka hal semacam itu engga perlu dilakukan. Beralibi toh kalau laper nanti juga makan. Sebab kita seorang muslim, menyadari shalat adalah kewajiban nanti juga akan berangkat shalat sendiri. 

"Sisi lain anggapan mereka tak salah. Namun tak selalunya betul. Bukankah islam mengajarkan kita untuk saling ingat-menasehatkan dalam kebaikan dan ketakwaan? Tak peduli sekecil apa itu kebaikan, tetaplah bernilai."

"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah : 7)

Mereka masih asyik diskusi di serambi masjid. Melihat para siswa satu per satu pergi. Shalat dhuhur baru saja usai. Kebetulan hari Senin. Tak tergesa untuk makan siang ke kantin. 

Udara di luar begitu panas, untunglah ada beberapa pohon besar menghijau nampak megah. Mampu menetralisir sengatan matahari yang memanggang. Juga taman subur membentang. Tak menyilaukan mata kala memandang. 

"Putra, terkadang sesuatu yang besar kita dapat saat dimana hal-hal kecil bisa kita jaga. Begitu pun dalam sebuah hubungan. Apapun itu. 

"Dalam bersahabat, menjaga hal-hal kecil menurutku perlu. Dimana darinya persahabatan menjadi kuat. Benar begitu, Putra?" Panjang lebar Rizki bicara. Putra hanya tersenyum tak mampu berkata. 

"Dan itu aku temui dalam persahabatan kalian. Membangun satu hubungan persahabatan itu tidak mudah, Putra. Tapi aku salut, kalian menjaga semua itu dengan baik. Semoga berkekalan," pungkas Rizki menepuk bahu Putra pelan. 

Menurut Putra, apa yang Rizki katakan benar juga. Biar bagaimana, sebuah hubungan tetap ada selama timnya menjaga apa yang perlu dijaga. Tak mengabaikan atau meremehkan hal kecil. 

Setelah dipikir-pikir, itu memang ada di antara mereka, empat bersahabat.

"Assalamu'alaikum ...." Sapaan salam membuat Putra pulang ke alam nyatanya. Seorang ikhwan mempersilahkan Putra untuk masuk masjid lebih dulu.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawabnya membalas dengan senyum keramahan. 

Ikhwan itu. Sepertinya Putra pernah bertemu. Tetapi dimana? Entah. Setiap hari bahkan Putra melihat banyak orang. Mana bisa mengingat semua? 

Dua rakaat tahiyatul masjid selesai. Duduk tenang. Dalam diam berdzikir. Menunggu iqamah dan shalat berjama'ah ditegakkan. 

***

"Semoga engga ketahuan kalau aku hanya pura-pura baik sama dia," gumam Mira usai mengirim pesan via whatsapp. 

Entah ngobrol dengan siapa Mira disana. 

"Bangga banget kau jadi orang jahat, Mira," seloroh Ainayya. 

Satu detik, tiga. Putra dan Yunia tergelak. 

"Apa kau bilang?" sinis Mira. Pasang wajah galak. 

Sudah berbaikan. Berjalan, sebagaimana mestinya. Pagi ini bahkan mereka berangkat sekolah bersama. Tengah di perjalanan. 

"Ainayya benar," setuju Yunia. 

"Kenapa bisa begitu?" Mira manyun. Mengikuti bahasa dan sikap Ainayya kala marah. 

"Hei ... Bahkan itu dialog Ainayya." Yunia mengingatkan. 

"Pula sikap Ainayya kala marah," imbuh Putra. 

"Wah ... Mira, kau mau jadi penerus Ainayya, ya?" goda Ainayya. Menaikkan alis. Pura-pura berpikir. 

"Makanya jangan tiru gaya khas Ainayya kala marah," sambung Yunia. 

Pagi yang menyenangkan. Beginilah yang selalu Putra harap. Tidak melulu debat.

***

__________

Lanjut ke episode 11.

19 komentar:

  1. Tergambar jelas raut wajah ainayya ketika ngambek. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha

      Sssttt, jangan bilang-bilang, :p

      Hapus
  2. Langgeng yaa sahabatannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berkenalan, kak. Aamiin...

      Hehe

      Hapus
    2. Ahihi baru nyadar ternyata typo. Maafkan, maafkan.
      Maksudnya berkekalan

      Hapus
    3. Ahihi baru nyadar ternyata typo. Maafkan, maafkan.
      Maksudnya berkekalan

      Hapus
  3. Sahabat untuk selamanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamanya tetap sahabat, hehe

      Hapus
    2. Selamanya tetap sahabat, hehe

      Hapus
  4. nah macam nie lah kan elok di liat.

    BalasHapus
  5. persahabatan bagai kepompong :D
    Follback dong kak :)

    BalasHapus
  6. Akhirnya baikan lagi..😆😆😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, engga marahan. Sudah lelah. :)

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...