Jumat, 14 Oktober 2016

Takdir Sebuah Rasa (Bag.14)


Oleh : Ainayya Ayska

"Ketiadaan Ayska di kelas adalah masalah tersendiri tahu di kelas kita."

"Ayska selalu bikin heboh."

"Asyik juga, ya, sekelas ma si Ayska."


Juga bisik-bisik teman yang lain. Mulai merebak. Berdengung. Peduli apa? Ayska tak hiraukan itu.

"Bagaimana, Nona Cantik. Lanjut mata kuliah atau cerita khayalmu?" sindir dosen. 

Ayska tersenyum kaku pada dosen. Kenapa pula ia harus berada pada dimensi lain sepagi ini? Luar biasa. 

"Ba'da dhuhur ke ruangan Ibu, ya." pinta dosen. 

Tidak. Itu bukan permintaan. Melainkan satu perintah yang tidak menerima penolakan. 

Kembali menepuk dahi. Ayska ingat sesuatu. Bukankah ia berencana sebelum dhuhur sudah sampai di rumah? Lalu bagaimanalah? Merubah rencana macamnya tak mungkin. Menolak perintah dosen adalah masalah. Entahlah. 

Tak tahu. Ayska benar-benar tak tahu harus bagaimana. Jika sudah di ruangan dosen tidak cukup lima sepuluh menit. Bisa sampai setengah bahkan hingga satu jam. Dan itu, membosankan. 

Ayska menghela napas pasrah. Nanti bisa kembali dipikirlah. Sekarang ia hanya berharap menit-menit ini segera berakhir. Lama. Bahkan seperti jamnya berhenti. Tak ingin bergulir menuju waktu yang terharap. 

***

Terdengar suara tertawa menyebalkan diujung sana. Sulit dipercaya. Setidaknya memberi jalan keluar lebih sehat, bukan? 

Farhan sendiri gelengkan kepala. Tidak percaya. Bahkan kebiasaan Ayska sedari dulu belum juga hilang. Kehilangan fokus bahkan saat jam pelajaran. Luar biasa. 

"Jadinya gimana? Kita yang merubah jadwal atau Ade yang memilih kabur?" goda Farhan santai memberi pilihan. 

"Kaka ngaco. Macam manalah bisa kabur? Mau dapat masalah?" omel Ayska. 

Kembali tawa Farhan pecah. Dengan enteng ia berkomentar, "ya sudah, Ade tunggu aja hingga selesai dosen sidang. Lagian juga hanya acara kopdar. Lebih penting mana, hayo?" 

"Iya juga, sih ...," pikir Ayska, "ya sudah." 

"Hei, Ayska!" sapa seseorang dari belakang. Pula dengan acara menepuk bahu. Ringan, sih. Tetapi cukup membuat gadis itu terperanjat. Refleks menutup telepon itu sepihak. 

"Denger-denger kau dapat panggilan dari madam dosen lagi, ya?" tanya Ratna, seorang teman kelas yang pagi tadi sempat bertemu, "panggilan dari itu dosen sama artinya mengurangi nilai kita, loh."

Ayska nyengir. Menghela napas pasrah. Ratna benar. Entah sudah keberapa kali Ayska mendapat panggilan khusus dari madam dosen. Sehingga cukup berpengaruh pada nilainya yang terbukti sangat mengenaskan. 

"Sepertinya kau cukup hobby mendapat panggilan khusus dari Saya, Nona Ayska," sindir madam dosen setiap Ayska memasuki ruangannya, "silahkan duduk!"

Huft. Ayska juga tak pernah pinta untuk melamun saat-saat jam kuliah. Tetapi Ayska bisa apa? Sejauh ini ia sudah berusaha. 

***

'Asar baru saja usai. Segera Farhan pulang tak berlama di masjid macam biasa. Kakak sudah menunggu. Belum lagi harus menjemput Ayska di kampus sebelum meluncur ke lokasi. 

Farhan masih saja tertawa kecil mendengar cerita Ayska selama sidang tadi. Terputus oleh suara adzan yang mengharuskannya segera ke masjid tuk shalat berjama'ah. 

Tujuan Farhan ikut kopdar karena punyai acara sendiri. Kebetulan beberapa teman di rantauan dulu berkunjung ke sini. Jadi apa salahnya jika bertemu sekalian? Sambil menyelam minum air. 

"Kenapa lama sekali?" omel Ayska ketika Farhan dan Nia tiba di kampus. 

Ayska mengambil tempat di jok belakang Nia yang duduk tenang di sebelah kursi kemudi. Tak rasa terusik dengan perdebatan mereka kali ini. Aman. 

"Jalanan macet," alasan Farhan. 

"Mananya yang macet? Kaka tuh yang macam kura-kura jalannya. Sengaja bikin Ade menunggu lama," sewot Ayska. 

"Dih, Ade kalau marah ama madam dosen, sewotnya jangan ke Kaka atuh ...," protes Farhan. Tertawa kecil. 

Nia tampak bergerak. Melepas headset. Lalu menoleh ke arah Farhan dan Ayska yang kini mendadak alim. Farhan yang fokus mengemudi, Ayska pura-pura terpejam. Huft. Mereka ini. 

Jalanan nampak lengang. Macet apanya? Bahkan untuk bakal mobil saja sepertinya nyaman. Dasar si kaka Farhan. Menyebalkan. 

Farhan sendiri tertawa kecil melihat Ayska yang menatapnya sebal. Setidaknya gerakan kak Nia menyelamatkan ia dari omelan Ayska yang panjang kali lebar.

Huft. Anak itu. Kalau sudah dibikin sebal, bicaranya engga kelar-kelar. Apa tidak lejar? Bukankah lebih seru kalau berkelakar? Hah, menghadapi satu anak itu memang harus ekstra sabar. 

***

Ayska terperangah. Tetiba emosinya naik satu tingkat. Apa-apaan ini? Baru juga ditinggal sebentar ambil ponsel sekarang Farhan .... 

***
__________

Lanjut ke epidode terakhir.

Bagian pertama klik Takdir sebuah Rasa.


1 komentar:

  1. Wah ternyata ceritanya berkelanjutan ya... pengen baca yang pertama lagi ah...

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...