Selasa, 25 Oktober 2016

Tanpa Nama

Sumber : pixabay.com
Oleh : Ainayya Ayska

"Faisal, sudah setengah enam, Sayang! Buruan bersiap pergi ke masjid!"

Suara seseorang memaksa Faisal pulang dari bayangan masa itu. Pasti bunda. Sudah bisa ditebak. Meski putranya ini sudah bukan anak kecilnya lagi, bunda tak bosan-bosan selalu mengingatkan. Terlepas dari ... putra-putrinya tahu betul kapan mereka harus shalat. 

MasyaAllah. Faisal tersenyum. Bunda sudah kembali ke dalam. Kini saatnya untuk ia bersiap ke masjid. 

Tak terasa tiga puluh menit berlalu. Mengenang masa itu. Tapi tunggu. Faisal tetiba ingat sesuatu. Ikhwan itu. Setelah hari itu, satu waktu kembali bertemu. Tetapi dimana? 

Coba Faisal mengingat. Tak ia dapat. Hah. Sudahlah. Nanti-nanti mungkin akan ingat. Sekarang tak sempat mengorek bayangan kisah lalu.

Adzan sudah berkumandang. Bersahut-sahutan. Dari pucuk-pucuk menara masjid seberang, nan jauh di sana, pula dimana-mana. Saat waktu shalat berada dalam satu masa yang sama. 

Bergegas. Menuruni tangga. Ayah dan kakak laki-lakinya sudah duluan ke masjid. Sengaja. Karena seseorang yang ditunggu begitu lama. Hah. Sudahlah. Salahnya juga mengapa harus lama. 

Seiring langkah yang dipercepat, Faisal sedikit mampu mengingat soal ikhwan itu.

Ikhwan yang menahannya ketika ia ingin menyusul Ainayya di pantai. Hendak menegur seseorang yang menculik paksa gadis itu.

Ikhwan yang terus memaksa untuk Faisal berdiam. Biarlah seseorang itu yang coba menyusul dan bicara sama mereka. 

Ikhwan itu, yang membuatnya seolah tak berdaya hanya untuk menolong Ainayya, gadis yang ... ah, sudahlah. 

Dan ikhwan itu, seseorang yang tanpa sengaja ia temui di pintu masuk masjid. Waktu maghrib. Yang ia persilahkan masuk lebih dulu ketika itu. Faisal, ingat betul sekarang. 

"Assalamu'alaikum ...." Sapaan salam ketika itu akhirnya meluncur juga.

Beberapa langkah sebelum kaki itu mencapai pintu, Faisal tak sengaja menangkap sosok yang pernah ia temui. Baru beberapa hari.

Faisal perhatikan nampaknya ikhwan itu tengah memikirkan sesuatu. Tadi saja hampir menabrak jama'ah lain karena kehilangan fokus. 

"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawabnya membalas dengan senyum keramahan.

Sedikit terkejut dengan sapaannya. Tetapi ia mampu tuk segera kuasai diri. Buru-buru masuk masjid. Seolah menghindari tatapan tanya yang mungkin tercetak jelas dalam rupa. 

Faisal masa bodoh. Ia kemudian masuk masjid. Mencari tempat yang menurutnya nyaman. Di shaf dua. Shaf pertama sudah penuh betul. 

"Assalamu'alaikum, ya Akhi ...," sapa seseorang dari belakang.

Faisal menoleh saat kakinya sudah sampai di langkah lima memasuki halaman masjid. Ia dapati Raka tengah tersenyum ke arahnya. 

Faisal balas tersenyum, "wa'alaikumussalam warahmatullah ...."

Mereka berjabat, lalu berjalan bersisian. Ngobrol-ngobrol singkat, topik yang ringan. 

"Jangan lupa nanti datang ke rumah," pinta Raka, "lama kita tak bersua, tak cakap bersama. Akan ada banyak point yang bakal kita cerita tuntas malam ini."

Faisal tersenyum. Raka benar. Mereka memang cukup lama tak bersua. Kembali jumpa baru tadi siang di pesta walimahan. Usia mereka tak terpaut jauh. Mungkin hanya setahun lebih muda Raka. 

"InsyaAllah, Raka. Kalau tidak hari ini mungkin esok aku berkunjung," jawab Faisal. Tak bisa menjanjikan malam ini bisa datang. 

Raka balas tersenyum. Kali ini mereka sudah memasuki masjid dan mengambil shaf. Diam dan tak ada lagi percakapan. Tak lupa mereka tunaikan shalat tahiyatul masjid. Baru setelah selesai dan duduk sebentar, iqamah lalu shalat berjama'ah didirikan. 

***

Pulang bersamaan. Berempat. Faisal, ayah, kakak laki-laki, dan Raka. Berjalan santai, saling bercakap,

"Ayahmu tak terlihat, Nak," tanya ayah pada Raka ketika tak mendapati sosok seseorang yang sejak tadi ia cari. 

"Kebetulan tadi ayah dan bunda juga orangtua Zahra sedang keluar, Om," ringkas Raka. 

Ayah mengangguk mengerti. 

"Acara lusa jam berapa, Nak?" ayah bertanya lagi. 

"InsyaAllah kalau engga berubah jadwal jam delapan pagi dari sini, Om," jawab Raka. 

"Mampir dulu sebentar gimana, Khalif, Faisal?" Ayah bertanya. Meminta pendapat.

Jarak rumah Faisal dan Zahra (istrinya Raka) memang terbilang dekat. Masih satu kompleks. Maksud Ayah sekalian berkunjung untuk menyingkat waktu.

Kalau esok jelas ayah tidak bisa. Khalif juga harus kembali pulang mengingat berbagai amanah sudah menanti. Hanya tinggal Faisal bersama bunda dan kakak perempuan, Aqila. 

Akhirnya mereka putuskan mampir sebentar. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga. 

Khalif dan Faisal banyak diam. Sekali dua ikut bicara. Para akhawat sepertinya sibuk di dalam.

Ayah terlihat begitu asyik ngobrol bersama ayahnya Raka juga keluarga dari pihak Zahra. Entah apa yang menarik di sana. 

Khalif, Faisal, dan Raka duduk bersebelahan, di sofa paling ujung. Hanya diam memperhatikan. Sekali dua cakap bareng sesuai tema yang mereka suka. 

"Sudah lama kenal Ainayya, Faisal?"

***

_____

Lanjut ke episode 26.

2 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...