Kamis, 13 Oktober 2016

Undangan

Oleh : Ainayya Ayska 

Ayah tersenyum kecil mendapati. Putrinya yang lena kini. Penat sudah, tersebab kegiatan satu pekan ini. Ayah hampiri. Mengambil notebook yang hampir saja terjatuh dari pangkuan sang putri. Ponsel di sisi, ayah letakkan bersama dalam satu tempat. Di atas meja. 

Duduk di samping sang putri. Mengusap lembut kepala gadis itu. Tersebab padatnya jadwal, mengharuskan si anak terlambat pulang. Terpaksa begadang semalaman untuk beberes. Hari ini, mereka akan kembali atas berbagai pertimbangan. 


"Astagfirullah, sudah pukul 06.40. Ketiduran bahkan tak ada yang berniat bangunkan Ainayya?" pekik gadis berjilbab pink lembut itu ketika terbangun. 

Sejurus, mata itu terbuka melihat jam dinding searah pintu. Cepat beranjak. Setidaknya kurang lebih satu setengah jam tersisa. Cukuplah untuknya bersiap sebelum berangkat. 

"Ayah sudah siap?" tegur Ainayya di ruang tengah. 

Ayah menghentikan kegiatannya. Menoleh ke arah Ainayya. Tersenyum, "sudah bangun, Sayang?"

"Dih, Ayah ditanya balik nanya ...," gurau Ainayya mendekat ke ayah. 

Ayah tertawa. Melihat putrinya sepintas, "masih ngantuk, Sayang? Bobo dulu aja, kita berangkat pukul sepuluh pagi nanti."

"Engga jadi jam delapan?" Mata Ainayya berbinar. Kesempatan untuknya melanjutkan mimpi yang sempat terputus tadi. Ayah tersenyum. Mengangguk. 

"Alhamdulillah, Ainayya bisa bobo lagi." Ainayya tergelak. Lalu berlari kecil menuju kamar.

Ayah tersenyum melihat tingkah putrinya yang tidak pernah berubah. Menggeleng pelan lalu meneruskan pekerjaannya. 

Kini Ainayya telah lulus dari SMK. Saat dimana mereka akan kembali pulang. Melanjutkan pendidikan di kota kelahiran.

Kepulangan mereka diatur satu bulan lebih cepat. Sebab Ainayya mendapat undangan walimah dari kakak kelasnya dulu. MasyaAllah.

"Barakallah, ya Akhi," ucapnya spontan ketika mendapati kabar bahagia itu.

Undangan baru saja datang. Kakak kelasnya sendiri yang mengantar. Kebetulan sekali acara walimah diselenggarakan di pihak mempelai perempuan. Yang ternyata satu kota, tempat dimana dahulu Ainayya tinggal dan dilahirkan. 

Turut bahagia. Dua tahun lulus SMK, kakak kelas telah menyempurnakan separuh agama. Kalau Ainayya tak salah ingat, masa si kakak kelas berada tepat ditingkat empat. 

"Sengaja menunggu Ade lulus dulu," gurau Raka, si kakak kelas yang begitu bijaksana. Pun suka bercanda.

Raka yang selalu membantu belajar, menjaga dalam diam. Ah, rasanya jadi teringat dengan seseorang nan jauh di sana. Seakan Raka menggantikan sosok orang itu selama ini, saat jarak menjadikan alasan untuk ia tak mampu menjaga dalam dekat. 

Tak mampu? Oh, tidak begitu. Ainayya sendirilah yang tak lagi mengizinkan untuk ia menjaganya dalam dekat. Tak kuasa menolak. Bila pun tak seperti itu, lantas apalah arti kepergiannya selama ini? 

Rindu sangat hati merasa. Sebak rasa teringat perpisahan yang tetiba terbayang di mata. Apa mau dikata, bahkan waktu telah berlalu. Menyisakan kenangan sendu. 

"Nanti Ade langsung datang dari sana aja, ya, Kaka," ujar Ainayya. 

Raka tak berkeberatan. Paham betul anak ini memang berencana akan kembali. Tak lagi tinggal di sini. Di sana melanjutkan study. Jadi Raka pikir, dari sini atau bertemu di sana sama rasa. Tak jauh beda. 

"Ade sendiri gimana? Jadi yang pesantren atau yang di ...,"

***

_____

Lanjut ke episode 21.

3 komentar:

  1. panjang banget ceritanya.. hehe.. baguss :D

    BalasHapus
  2. yang di manaaaaaa..
    hihihi so swit bacanya, ini fiksi atau pengalaman pribadi? :D

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...