Minggu, 13 November 2016

Tim Delapan (2)

Image : kawanimut

Oleh : Ainayya Ayska

"Lurus saja!"

Satu seruan mengalih perhatian. Wajah manis itu menengok ke belakang. MasyaAllah. Seseorang dengan senyum ketulusan memberi instruksi dengan jari tangan. Untuk Ainayya kembali berjalan. Lurus ke depan. 

Tetapi tidak Ainayya lakukan. Ia lebih berminat menunggu seseorang itu. Untuk sepersekian detik mengenali sosok yang kini jelas terlihat lebih dekat.

"Mau ke aula?" 

"Ka Faisal?" Ainayya memastikan. Ah, bahkan tanpa dipastikan Ainayya kenal betul dengan sosok itu. 

Mendapatinya, tak lagi ada minat jawab tanya dari seseorang yang kini berjalan di sebelahnya. 

Faisal mengangguk tersenyum simpul. 

"Sudah check email? Bawa penugasan hari ini?" tanya Faisal tiba-tiba. 

Yang ditanya hanya nyengir tanpa rasa berdosa. Apaan, usahkan bawa penugasan, bahkan baru beberapa menit itu email Ainayya check.

Hah. Tanpa berkata Faisal tahu jawabnya. Sudah ia duga, gadis di sebelahnya kini baru check email ni pagi. 

"Kalau tak bawa penugasan adakah Ade kan kena denda?" gurau Ainayya seiring langkah belok ke kanan dari persimpangan. Tertawa lepas. Tak rasa peduli bilapun nanti kan dapat sanksi. 

Aula nampak jauh di depan. Angin berhembus perlahan. Kanan kiri mereka hanya ada taman kecil memanjang.

Terjebak kebisuan. Ainayya mengitar pandang. Kini gadis itu bosan. Bahkan angin saja menyapa, mengapa tidak dengan Faisal? 

"Hei, Kaka. Kaka kenapa diam sedari tadi? Tak minat cakap? Hei ... bahkan kita baru jumpa. Siapa sangka kita bersua di gedung belajar yang sama." Akhirnya Ainayya angkat bicara juga.

"Hei, Kaka. Kenapa tak jawab? Kenapa sedari tadi cuma diam tersenyum?" Ainayya terus berceloteh.

Faisal hanya tersenyum mendapati si bawel yang dulu ia kenal sepintas lalu. Memang harus apa? Bahkan Ainayya tak memberi kesempatan untuknya bicara. 

Baru berhenti ketika mereka sampai di aula.

"Assalamu'alaikum," sapa Faisal pada timnya. 

Sementara Ainayya hanya mengekor dari belakang. 

"Sudah kumpul semua? Ada yang belum datang?" Faisal mulai menghitung satu per satu timnya. Memastikan semua ada dan tidak terlambat. 

Tiga menit lagi kegiatan akan dimulai. Alhamdulillah, semua sudah berkumpul. Tak satupun terlambat. Penugasan sudah beres. Semua membawa kecuali satu orang saja. Ainayya. 

Ainayya tak mengerti. Mendadak pendiam. Memilih menjadi pemerhati. 

"O iya, kenalin. Ni teman kalian yang menyusul datang." Faisal memperkenalkan Ainayya pada anggota tim.

Ainayya tersenyum. Menjabat teman akhawat yang lain. Menyapa teman ikhwan satu tim. 

"Hei, kau? Kau tak bawa penugasan ni hari?" Ainayya terkejut mendapati seseorang dari belakang menepuk pundaknya dengan nada bicara tegas. 

Kontan gadis berjilbab merah bata itu membalik badan. 

"Ah, Ainayya tak tahu ada penugasan ni hari, kak," jawab Ainayya apa adanya.

Faisal entah kemana. Teman satu tim hanya diam melihat mereka.

"Apa kau tak check email? Bukankah hari sebelum—"

"Ah, Ainayya baru berangkat ni hari, jadi tak mengerti," potong Ainayya pasang wajah memelas. Senjata tuk bisa selamat dari pengintrogasian. 

"Selesai kegiatan, temui aku!" perintah senior yang bertugas sebagai PK yang cukup menyebalkan bagi Ainayya. 

Cara bicara yang singkat, tegas, tak jelas. Bagaimana tidak menyebalkan coba? Temui aku? Hei ... bahkan kau tidak bagi tahu siapa namamu? Dan tadi itu apa? Bahkan tak bagi tahu harus temui dimana. Memberi kesempatan bertanya saja tidak. Melenggang pergi begitu saja. Huft.

"Jadi katakan, mengapa Ade tidak ikuti kegiatan?"

***

Lanjut ke episode 29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...