Selasa, 15 November 2016

Tim Delapan (3)

Image : kawanimut

Oleh : Ainayya Ayska

"Jadi katakan, mengapa Ade tidak ikuti kegiatan?"

Lagi. Seseorang memaksa Ainayya untuk memutar tubuhnya. Siapalah lagi orangnya kalau bukan Faisal? Hah. Dia ini. Engga tahu kapan pergi. Tak pula datangnya.

Ainayya tertawa kecil, "bingung nak jawab apa, Kaka ...." 

Ringan. Tanpa rasa bersalah. Faisal menghela napas. Gadis itu memang pandai sekali ngeless. Macam di ponpes. 

***

Lelah Ainayya ikuti kegiatan. Seharian. Dan sekarang, ia masih harus mencari si pemandu kedisiplinan. Saat banyak MaBa sudah boleh pulang. Hah. Resiko MaBa yang disayang. 

Waktu sore sudah menunjuk pukul setengah lima. Saat ruang kampus nampak hampa. Hanya beberapa masih tinggal di sana. Salah satunya ..., tentu saja panitia. 

Hah. Dimana si PK? Mengapa tak jua terlihat oleh mata? Entahlah. 

Ainayya mengedar pandang. Nihil. Lalu putuskan tuk duduk dibangku taman. Hanya beberapa langkah dari keberadaan.

Kini waktu sudah mengarah jam lima kurang. Ketika ayah menelepon, menunggunya di depan. Ya sudah. Biarkan. Abaikan si pemandu kedisiplinan. Kini saatnya ia harus pulang. Tak ingin ayah menunggu kelamaan. 

Bangkit berdiri. Mulai melangkah pergi saat seseorang dengan tegas menyuruhnya berhenti. Ainayya menoleh ke kiri. Ketika seseorang itu datang menghampiri. 

"Kau akan pergi tanpa menemui–"

"Alhamdulillah. Syukurlah Kaka senior yang baik hati menemui. Sedari tadi Ainayya cari bahkan tak ditemui. Sekarang ... Kaka datang sendiri," potong Ainayya riang, "nasib MaBa yang disayang."

Tanpa membalas celoteh Ainayya tak jelas, si pemandu menyodorkan selembar kertas, "ini tugas."

Ainayya menerima tanpa banyak tanya. Unik juga. Begini, ya, sistem sanksi dari panitia untuk MaBa yang dicinta? Cukup berbeda. Langka. 

Ainayya membolak-balik kertas itu seiring si pemandu berlalu. Lalu kembali ke niat. Ini sudah terlalu lama ayah menunggu. 

Kertas itu ia simpan ke dalam tas. Nantilah ketika sempat dibaca. Berjalan, sedikit lebih cepat dari biasa. Ah, hari yang penuh warna. Akan ada banyak hal bisa dicerita. 

Tersenyum pada ayah. Lewat jendela kaca yang terbuka. Ayah membalas senyuman putrinya. Meski sudah jam lima. Namun wajah Ainayya nampak ceria. Luar biasa.

"Assalamu'alaikum, Ayah," sapaan hangat meluncur seiring Ainayya mencari posisi ternyaman. 

"Wa'alaikumussalam warahmatullah ...." jawab Ayah ketika Ainayya sibuk melempar ringan tas kecil ke kursi baris kedua.

"Bagaimana kabar kegiatan hari ini, Sayang?" lanjut ayah seiring melajukan mobil meninggalkan kampus. 

"Alhamdulillah, cukup menyenangkan, Ayah," riang Ainayya, "juga ... menyebalkan, sih ...."

Ainayya tertawa renyah. Ayah tertawa kecil menanggapi polah putrinya. Bercerita sepanjang jalan. Ekspresi macam-macam. Biarkan. Yang penting Ainayya senang. Cukup bikin ayah tenang. 

Membelah jalanan. Berteman keramaian. Awan ikut berdendang. Menyenandung nyanyian alam. Indah nian.

Nampak sekumpulan orang asyik sepedaan. Mendadak rasa kerinduan. Bilakah masa itu kembali datang. Bersama ayah. Sepedaan. 

"Ayah, kapan kita sepedaan lagi?" gumam Ainayya terpaku oleh pemandangan itu. 

"Kenapa, Sayang?" santai ayah terus kemudikan mobil. Fokus pada jalanan. Tak begitu perhatikan gumaman Ainayya. 

Hah. Ainayya kembali merubah posisi. Menyamping menghadap ayah, "Ayah, Ayah tahu tak, tadi Ainayya bertemu siapa di kampus?"

"Siapa, Sayang? Coba kasih tahu Ayah," respon ayah menoleh sebentar. 

Gadis itu menghela napas. Menerawang dekat memutar kenangan. Seharian, "dua orang, Ayah ...." 

***

Lanjut ke episode 30.

2 komentar:

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...