Rabu, 14 Desember 2016

Afrina

Oleh : Ainayya Ayska

"Hanya buku tulis biasa. Mengapa Kaka begitu ingin tahu?" jawab Afrina tak acuh. Tanpa melihat lawan bicaranya. 

Betul. Dari luar memang terlihat buku tulis biasa. Sekilas melihat ada tulisan tangan Afrina di sana. Bagus juga. Rapi betul.

Yang membuat Alfa penasaran, mengapa pena itu tak mau berhenti. Nampak memberi coret sana-sini. Lantas, apa sebenarnya yang bikin gadis itu sibuk coba? Pasti ada sesuatu di sana. 

Sekali dua Alfa biarkan. Kembali menjelaskan meski tak Afrina indahkan. Bukankah tadi Afrina pinta bantuan tuk ajarkan tentang materi yang tak mampu ia pahami? 

Dan sekarang apa? Bahkan gadis itu sibuk sendiri. Terpaksa Alfa sudahi rasa penasaran di hati. Alfa rebut buku tersebut. Sengaja. Peduli apa? 

"Kaka engga akan kembalikan buku ini sebelum Ade menjawab soal-soal yang Kaka beri," ancam Alfa cepat sebelum Afrina protes. Memperlihatkan beberapa soal pada gadis itu. 

Adik kelasnya itu kan memang hobby protes. Hal sekecil apa, tatkala tak sesuai hati, diri mendadak emosi. 

"Jangan menyentuh buku itu!" perintah Afrina, "letakkan!" 

Alfa menghela napas. Anak itu. Kenapa begitu takut kalau bukunya sampai terbaca. Ketakutan Afrina justru menambah rasa penasaran Alfa. Pasti ada sesuatu di sana. Yah, pasti ada rahasia dibalik buku tersebut. 

Alfa meletakkan buku itu di samping kiri. Lalu meraih laptop, meneruskan tugas yang tadi sempat tertunda.

Belajar bareng di taman depan rumah sungguh menyenangkan, bukan? Terlebih didukung oleh siang cerah seperti ini. Udara bahkan tidak terlalu panas. Nyamanlah. 

Afrina pasang ekspresi sebal, mengambil kasar soal yang Alfa beri. Lagi-lagi, Alfa hanya tersenyum melihatnya. 

"Kenapa pula Ade harus dimentorin ama Kaka? Macam tak ada yang lain aja," gerutu Afrina. 

Alfa kembali tersenyum. Untuk sejenak ia menghentikan kegiatannya.

"Karena kita satu sekolah. Karena rumah kita bersebelahan. Dan ..., karena karena yang lainnya," balas Alfa datar. Memikirkan kemungkinan yang ada. Kembali ia menekuni kegiatan. 

Hening. Afrina tak lagi membalas. Berdebat dengan kakak kelasnya, sungguh hanya membuat gadis itu semakin emosi. 

Mengapa, sih, Afrina harus satu sekolah sama orang menyebalkan di hadapannya kini? 

Mengapa ayah memilih tinggal di sini begitu mereka putuskan untuk pindah? 

Hah. Afrina menghela napas bosan. Bahkan sekarang ayah selalu berpihak pada kak Alfa. Mempercayakan pengawasan atas dirinya pada sosok membosankan itu. Padahal kan mereka belum lama pindah ke sini? Benar-benar sulit Afrina mengerti. 

Adalah Alfa tetiba menjentikkan jari tepat di depan wajah Afrina. Membuat gadis itu terkejut, sontak menangkis tangannya. 

"Cepat kerjakan soal itu," ujar Alfa, menunjuk soal dengan matanya. 

Afrina menatap datar. Menggulir pandang. Kembali hening.

Seseorang di sana, yang sibuk dengan bacaannya, sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan Alfa dan Afrina. Hah. Dua anak itu. Adakah tidak rasa lelah tiap saat berdebat mulu? 

"Hei ..., bagaimanalah Ade nak jawab soal-soal ni, Kaka. Bahkan materi saja tiada satupun bisa Ade pahami," protes Afrina sebal. 

Dan ya, bahkan baru beberapa saat lalu dibahas. Lihatlah. Alfa memperhatikan Afrina. Muka sebal adik kelas itu membuatnya tertawa. Biarkan saja. Alfa masih setia menunggu protes kedua, ketiga, darinya. 

"Dan ini. Apa ini? Soal matematika? Bahkan Kaka belum menjelaskan mengenai rumus-rumus rumit–" 

"Benarkah?" potong Alfa. Menatap Afrina tidak percaya. 

Lantas yang tadi itu apa? Hei ..., bahkan tadi, selama setengah jam Alfa menjelaskan semua. Lengkap dengan cara penyelesaian. Apa yang kurang coba? Dan sekarang, dengan ringan gadis itu berkata bahwa, ia belum menjelaskan apa-apa? 

Afrina tak menjawab. Sibuk memandangi soal tanpa minat. Menarik napas bosan. 

"Baiklah. Apa Kaka bisa jelaskan ulang? Ade akan perhatikan ...." pinta Afrina dengan ekspresi memelas. Tak ada pilihan. 

Alfa tak akan tertipu. Gadis tetangga sebelah, pastilah sedang berpura. Sepertinya tengah berpikir. Tentang bagaimana cara mengambil buku yang ditahannya tadi. Mungkin. 

Hah. Rasa penasaran naik satu tingkat. Sebetulnya apa, sih, isi dari ni buku? Seberapa menariknya coba? 

"Jangan coba berniat baca itu buku!" Afrina cepat menudingkan pena ke muka Alfa, seiring tangan Alfa hendak mengambil buku di atas rumput itu. 

"Ada masalah?" Alfa menaikkan satu alis.

"Tidak–"

"Jadi?"

"Ade kan malu, Kaka. Itu tulisan Ade beberapa tahun lalu ...," aku Afrina jujur.

Terjawab sudah. Jadi buku itu hasil karya Afrina? Baiklah. Alfa akan membacanya nanti. Seperti apa, sih, tulisan anak itu beberapa tahun lalu. Penasaran yang sesungguhnya belumlah hilang. 

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...