Sabtu, 10 Desember 2016

Sastra Jiwa

Image : kreasiringan.blogspot.com
Oleh : Ainayya Ayska 

"Sayang, cepat habiskan nasi gorengnya. Keburu dingin." Ayah sudah selesai. Membereskan semua peralatan makan. Mencuci piring sekalian bahkan. Namun yang diajak bicara mengabaikan seruannya. 


Ayah mendekat. Menepuk bahu Ainayya ringan. Sejak tadi permata hatinya terus saja terdiam. Tangan itu lambat mengaduk nasi goreng tanpa minat tuk dimakan. Ayah biarkan. Tapi tidak sekarang.

"Nasi gorengnya sudah matang, Sayang. Tinggal dimakan." Ayah tertawa kecil tatkala putrinya tersentak.

Menghentikan kegiatan. Melihat nasi goreng di piring yang entah rasanya sekarang. Hasil ulahnya tentu saja. Tersebab masakan ayah, sudah pasti lezat. 

Kemudian menoleh. Nyengir kuda melihat tawa kecil ayah sambil menggelengkan kepala. 

"Ayah, nasinya udah dingin ...," keluh Ainayya. 

"Lain kali kalau makan dihabiskan dulu. Melamunnya belakangan." Ayah sudah kembali mencuci piring. 

Ainayya hanya nyengir. Lalu meraih gelas minum baru setelahnya melesat ke kamar. Meninggalkan ayah yang sibuk bekerja. Duh Ainayya. Memangnya harus apa? Ayah yang meminta untuk ia segera istirahat. 

***

Mata yang mulanya ingin bermanja kini terjaga. Teringat akan selembar daftar denda. Ah, sanksi maksudnya. Terakhir ia simpan di dalam tas. Dicari-cari akhirnya ketemu juga. 

Tak banyak. Hanya beberapa. Ehm, unik juga. Ainayya kira itu denda bakal menyulitkan bin membosankan. Agaknya tidak demikian. Ia hanya diberi tugas bikin tiga puisi. 

Tunggu. Tiga puisi? Apa-apaan ini? Ainayya menarik napas panjang. Membaca deretan huruf berikutnya. Mungkin akan ada kejutan yang lebih membosankan. 

Dan benar. Puisi itu dibikin untuk tiga orang. Permainan yang entah harus bagaimana mendeskripsikan. Itu kertas kembali Ainayya letakkan. Biarkan. Bahkan Ainayya sudah bosan sebelum berperang. Ah, maksudnya sebelum karya itu ia ciptakan. 

Tak nak berangkat. Satu ide cemerlang yang mampir dibenak. Ah, tidak. Bukan bermaksud menghindari sanksi tiga puisi. Tetapi .... 

Ainayya berpikir. Menjentikkan jari. Bukan seperti itu. Menjadikan Putra sebagai alasan rasanya tidak mungkin. Itu terdengar konyol. Memang letak kesalahan ikhwan itu dimana?

Lantas apa? 

"Kenapa, Sayang?" tegur ayah yang tetiba datang di ruang tengah. Melihat putrinya berpikir keras sepagi ini.

Waktu subuh baru saja lewat. Jadi ayah kembali menekuni pekerjaan yang semalam sempat tertunda. Entah apa yang ayah kerjakan dengan laptopnya. 

"Ayah, bantu Ainayya mencari alasan untuk tidak ke kampus hari ini," pinta Ainayya santai.

Matanya mengikuti ayah yang duduk di sofa sebelah. Meletakkan laptop sambil menghela napas. Duduk nyaman.

"Memangnya kenapa Ainayya mau bolos lagi? Ini sudah hari keempat ospek, bahkan Ainayya baru ikutin sehari ...." Ayah bangkit hendak mengambil file-file yang kemarin disimpan di atas meja sebelah televisi. 

"Ospek itu sebetulnya menyenangkan, Sayang," imbuh ayah. Sudah menemukan file yang beliau cari. Kembali ke tempat duduk semula sambil membolak-balik file tersebut. 

"Apanya yang menyenangkan. Ainayya dapat sanksi bikin tiga puisi untuk tiga orang, Ayah," adu Ainayya. Manyun sebentar. Menarik napas panjang. Lalu menenggelamkan wajahnya pada dua telapak tangan. 

"Serulah, Sayang,"

"Apanya yang seru?" protes Ainayya, "waktunya sudah mepet sekali, Ayah. Tuh, udah jam 05.40. Padahal jam delapan sudah harus kumpul di kampus."

"Masih ada waktu. Daripada Ainayya sibuk mencari alasan tidak berangkat, kenapa sisa waktu yang ada tidak Ainayya gunakan untuk menulis tiga puisi tadi?" saran ayah. Masih sibuk dengan laptop dan file-file itu. 

"Mana selesai?" Ainayya masih bandel. 

"Kalau Ainayya terus berpikir bagaimana puisi itu akan selesai? Jangankan tiga puisi yang harus diselesaikan dalam singkatnya waktu, satu puisi yang diberi waktu sepuluh hari juga tidak akan selesai jika tidak ada aksi, Sayang ...."

Ainayya nyengir. Hah. Ayahnya memang selalu bijak. Ada-ada saja kalimah untuk membalas argumen tidak jelas darinya. Ayah benar, satu tulisan tak akan pernah bisa selesai jika kita terus saja berpikir tanpa aksi. 

Baiklah. Ainayya akan tulis itu puisi. Sekarang. Dalam setengah jam, proyek tiga puisi itu harus bisa ia rampungkan. 

Cepat ia bangkit menuju kamar. Ayah tersenyum melihat permata hatinya yang mendadak antusias. Membiarkan Ainayya berlari kecil menuju kamar. Biarkan gadis itu menyelesaikan karyanya. Ayah yakin putrinya mampu. 

***

"Tunggu, Ayah ...!" Ainayya sedikit terburu.

Ayah sudah menunggu di bawah. Ainayya menyambar tasnya lalu turun. Lima menit. Terlambat lima menit untuk berangkat. Semoga sampai kampus di waktu yang tepat.

Tidak. Bukan kerana kesiangan bikin puisi tadi. Bahkan tiga proyek itu mampu ia selesaikan dalam waktu dua puluh menit saja. Tidak sembarang kata. Ayah sudah membaca itu puisi tadi. Bahkan ayah memuji.

Ia hanya kelamaan bersiap. Kebiasaan lama. Tak jua hilang hingga sekarang.

"Ayah, apa kita bisa tiba di kampus tepat waktu?"

"Ayah, apa laju mobilnya bisa sedikit lebih cepat?"

"Ayah, semoga kita tak terjebak macet di depan, yah ...."

Ayah hanya tersenyum kecil mendengar kalimah-kalimah penuh khawatir dari Ainayya.

"Semoga esok Ainayya bisa lebih cepat saat bersiap," gurau ayah. Tertawa melihat paras ayu putrinya mendadak manyun.

"Kenapa Ayah jadi bahas itu? Ainayya sudah berusaha cepat selama ini. Tapi ya begini, selalu saja butuh waktu sekian jam untuk selesai," protes Ainayya diiringi tawa renyah.

"Sekian jam. Bisa diperjelas?" Tawa ayah kembali pecah. Ainayya lebih keras.

Benar-benar hubungan yang harmonis. Ayah dan anak yang sama saling memahami. Suasana seperti inilah yang ayah selalu berdoa. Tak pernah lelah meminta.

Ayah menambah kecepatan laju mobilnya. Membelah jalanan. Lincah menerabas keramaian pagi itu. Jika bersama ayah, Ainayya tak perlu berteriak untuk sedikit mengurangi kecepatan laju mobilnya. Untuk apa? Ayah tentu saja akan menjaganya dengan baik. Tak akan lalai.

Ainayya sibuk berpikir akan diapakan itu puisi sama kakak PK. Peduli apa? Biarlah. Itu urusan mereka.

Ayah mulai mengurangi kecepatan laju mobilnya. Perlahan menepi. Berhenti. Sampailah mereka di depan gerbang kampus. Ainayya melihat jam digital layar ponsel. 07.57.

"Waow, keren, Ayah. Ayah bahkan tak mau kalah ama pembalap mobil. Tepat waktu. Kurang tiga menit. Ayah hebat," puji Ainayya tulus, lalu membuka pintu. Mengucap salam kemudian berlari kecil memasuki kampus.

Ayah tersenyum memandang putri semata wayangnya terburu. Tersisa tiga menit saja untuk bisa sampai lokasi. Hah. Semoga anak itu tidak terlambat.

***

Lanjut ke episode 35.

6 komentar:

  1. Menginspirasi tanpa menggurui, begitulah kekhasan sebuah cerpen yang bermanfaat untuk masyarakat...dan itu ada di cerpen ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, jazakallahu khairan...

      Makin semangat belajar, nih .... Hehehe

      Hapus
  2. Ka Nay ajarin iput dongs๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehm, hayyuuk Atuh belajar bareng... Hehehe

      Hapus
  3. Ai... Ai... suka banget ih mepet-mepet waktu.. bikin deg-deg an

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahihi
      Efek Ainayya yang pelupa, kaka...

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...