Kamis, 26 Januari 2017

Setidaknya ....

Oleh : Ainayya Ayska 

Terik siang itu begitu ..., entahlah. Bahkan Ainayya tak terlalu peduli. Meski tak seteduh pagi tadi, toh mau tidak mau ia harus meluncur ke counter pulsa kak Ryan. Apa tidak menyebalkan? Putra ada di sana, jadi Ainayya menyusul terpaksa. Atau ia tak mendapati tugasnya.

Ainayya bosan. Kenapa selalu tugas, tugas, dan tugas. Hah, salahnya juga mengapa harus terlambat di kelas guru itu. Padahal jelas tahu, hadiah istimewa untuk siswa yang terlambat adalah tugas.


Hei ... tapi itu masih mending, sih. Ia masih bisa dapat nilai dari itu. Apa kalian tahu? Guru itu bahkan pernah memberi hukuman pada mereka yang memang ih waow tingkahnya. Apa coba? Tidak boleh mengikuti kelasnya selama tujuh kali pertemuan. Pun tak punyai nilai selama kesempatan itu. Pula tak ada ujian susulan. Ironis banget, bukan?

Ainayya menghela napas bosan. Ni taksi lama banget perasaan. Mana udah jam satu siang. Perjalanan ke sana kan hampir satu jam. Belum lagi ni tugas memusingkan. Pasti butuh waktu pengerjaan.

Ainayya berpikir untuk jalan ke depan. Ah, tidak. Ia terlalu takut untuk naik bus umum sendirian. Jadi ke halte bukanlah pilihan. Sudahlah. Nanti taksi juga bakalan datang.

Tuh, betul, kan. Lima menit berlalu taksi itu datang juga. Bernapas lega akhirnya. Alhamdulillah.

Luar biasa. Ini sudah pukul dua lebih. Hampir setengah tiga malah. Ainayya manyun. Itu taksi jalan, macam kura-kura perasaan. Huft. Menyebalkan.

"Memang kau tidak, Ainayya?" celetuk Putra merespon celoteh Ainayya. Anak itu, baru juga tiba dah banyak cerita. Tadi kata lelah, bukannya rehat malah berkisah.

"Putra! Ainayya sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jadi diamlah," omel Ainayya yang justru dibalas gelak tawa Putra dari sudut ruang yang entah.

Ainayya mengeluarkan semua buku tugasnya seraya berseru, "Putra buruan bantu bikin tugasnya ...!"

Putra hanya ber-iya. Tak langsung betulan mengiyakan. Tanggung. Kerjaannya bentar lagi selesai.

"Putra! Cobalah mengerti. Lusa Ainayya dah ikut ayah ke luar kota. Jadi tugas harus beres ni hari. Esok udah dikumpul." Ainayya meminta. Ehm, memerintah mungkin lebih tepat. 

"Putra, ada pembeli," seru Ainayya ketika melihat seorang bapak-bapak turun dari motor bersama dua anak kecil. 

"Tolong, Ainayya yang–"

"Kaga," potong Ainayya menolak, "kenapa tidak Putra saja? Dan ya, ka Ryan kemana?"

Putra hanya mengangkat bahu. Tak acuh. Gadis itu, bilang kaga juga nanti bakalan bantu. Biasanya juga begitu. 

Huft. Ainayya manyun. Kenapa selalu dirinya? Pembeli dah lanjur tanya kartu data tuh. Mau tak mau Ainayya pula bangkit. Si Putra mah gimana.

Dan ya, ini lagi. Apa-apaan si pembeli itu? Tidak bisakah ia matikan rokoknya sebentar, atau minimal taruh di luar kan bisa. Huft. Bikin penyakit saja. 

Tidak. Ainayya sudah tak nak diam lagi. Membiarkan pembeli itu seenak hati merokok tanpa peduli, membiarkan kepulan asap rokok itu meracuni seisi ruang? Mana bisa? Akhirnya Ainayya meminta baik-baik untuk bapak itu menjauhkan rokoknya.

Terkadang memang maksud kita, sebaik apa cara kita sampaikan, disalah paham oleh beberapa dari mereka. Tak selalunya bisa diterima. Peduli apa?

Si pembeli justru melenggang pergi. Ainayya jadi bingung apa masalahnya? Ainayya mengangkat bahu. Biarlah. Apa ... orang itu marah? Apa ada yang salah? Sudahlah. Ainayya tidak peduli. Bahkan si bapak tadi tak punyai rasa toleransi. Merokok memang hak dia. Tapi, bukankah orang sekitar juga punyai hak tuk menghirup udara bebas asap rokok? Biar juga disangka ngusir, toh nyata tak begitu.

"Kenapa pembelinya pergi, Ainayya? Apa yang dicari tidak ada?" Putra bertanya ketika Ainayya kembali ke tempat duduknya.

"Kenapa tak kau tanya saja dia?" Tidak menjawab, Ainayya balik bertanya. Peduli apa? Pertanyaan Putra tidak penting tuk dijawab, bukan?

"Tadi Ainayya cuma pinta dia tuk jauhkan rokoknya. Agaknya marah dia. Peduli apa, toh Ainayya pinta baik-baik. Engga ada maksud tuk usir dia dari sini," lanjut Ainayya santai. Tak peduli bilakah Putra berkeberatan. 

Putra tergelak. "Ya sudah, biarkan."

Rindu masa-masa itu. Ketika Ainayya sekali dua berkunjung ke counter ka Ryan. Lucu melihat cara gadis itu menghadapi berbagai jenis customer. Apalagi mendengar komentar Ainayya, 'menemui pembeli menyebalkan di sini tuh bener-bener melatih kesabaran.'

Air mukanya yang sebal, komentar-komentarnya, kebersamaan itu ....

"Setidaknya kau harus belajar mengalah, Ainayya. Kalau caramu menangani pembeli yang tak kau suka sep–"

"Ada masalah? Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang melayani tadi? Kau punyai kesabaran double, bukan? Dan ya, kenapa pula tadi kau suruh Ainayya? Kan Ainayya sudah menolak," potong Ainayya cepat sebelum Yunia selesai menceramahinya. Berargumen. Membuat pembelaan diri. 

Tak ada yang sepenuhnya salah. Tak perlulah saling menyalah. Tapi bagaimanalah? Semua terlanjur sudah.

"Setidaknya cob–"

"Kenapa harus?" potong Ainayya kali kedua. Tak memberi Yunia kesempatan untuk bicara.

"Putra! Apa kau tidak bisa menyuruh mereka tuk berhenti berdebat?" Mira, yang duduk tenang di sudut ruang angkat bicara. Keras betul itu suara. Beruntung ketika itu tak ada pembeli.

"Sudahi perdebatan kalian, atau silakan lanjut di belakang. Engga di sekolah, engga di jalan, engga di sini, engga di mana bawaannya ribut mulu. Soalan apa, sih, yang tidak kalian bahas dalam debat? Bisa engga, satu minggu aja aku engga liat kalian debat. Heran aku."

Putra berusaha menyudahi semua. Tanpa disuruh dua kali mereka diam dengan perasaan kesal.

Ehm, rindu kali dengan itu semua. Terkadang, dalam diam Putra merasa, ada masa dimana perdebatan ringan akan menjadi pilihan asal persahabatan itu tetap ada.

Kapan hari, Putra bercerita bahwa Ainayya satu kampus dengannya. Rumah menjadi heboh. Kak Ryan ribut menyuruh tuk Putra mengajak Ainayya main ke counter.

Sekesal apa Ainayya lepas berhadapan dengan customer menyebalkan, beragam komentar dihadiahkan. Itu satu dari banyak yang kak Ryan rindukan. Apalagi ketika Ainayya bisa membuat customer yang mulanya mahal senyum berubah ramah. Entah. Adakah gadis itu mau untuk berkunjung meski satu detik untuknya tetap tinggal. 

"Hei, Putra! Jangan bercanda. Dosen melihatmu terus ...." Ainayya menyeret paksa Putra tuk balik ke negeri nyata dengan petikan jarinya.

Putra tersentak. Kuasai diri cepat-cepat. Ainayya ditatap. Lalu ke seseorang di sana. Entah sejak kapan dosen itu berada di kelasnya.

"Luar biasa. Putra, semenjak kapan kau mengambil peran Ainayya, hah?" komentar Ainayya. Mengedikkan dagu menuntut jawab. 

Hah. Anak itu. Mengapa justru mengajak bercanda? Bukankah ia yang bilang sendiri pada Putra bahwa dosen terus memperhatikan orang di belakangnya? 

"Kembali fokuslah ke depan, Ainayya! Apa kau tidak melihat dosen tengah perhatikan kita?" balas Putra tak peduli. Lalu membetulkan letak duduk. Mengumpulkan keping memory yang mula terserak. 

Ainayya memutar bola mata bosan. Mengikut instruksi tuk kembali balik kanan. "Kau memang tidak berubah, Putra. Masih sama membosankannya macam dulu." 

Putra memutuskan untuk tidak berkomentar. Memilih diam. Tersenyum tipis. Sangat tipis. Hingga tak sesiapa bisa menjumpai.

Sehebat apa Ainayya menyangkal untuk persahabatan mereka cukup sekian, namun tetap saja, kenangan itu terbayang. Bahkan gadis itu belum lupa apa yang dulu pernah dikenalinya. 

Setidaknya ....

***

Lanjut ke episode 41.


2 komentar:

  1. Setidaknya .........

    Jangan buat aku menunggu episode selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha, lantas harus bagaimana?

      Entah, bahkan Ainayya tak tahu...

      Ehm,

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...