Jumat, 24 Maret 2017

Bianglala

Oleh : Ainayya Ayska 

"Mengapa kau jadi seperti ini, Ainayya?"

Putra menyerah. Menghela napas pasrah. Memandangi langit. Hujan baru saja reda. Mendung berarak, menyingkir perlahan. Dedaunan basah, kesegaran. Adalah Putra dan Ainayya, saat ini berjalan bersisian menuju kelas. Beberapa saat yang lalu, mereka bertemu di pelataran kampus.


Mendengar pertanyaan Putra, Ainayya sedikit berpikir. Bertanya lebih pada diri. Mencari jawab sendiri. Untuk sejenak gadis berjilbab coklat itu mengerti. Pasti soal debat semalam yang tak kunjung selesai. Secara sepihak, Ainayya memilih menyudahi. Meski fakta tak sesederhana itu. Perdebatan menggantung. Menyisakan sebal di hati masing-masing. 

"Lantas harus bagaimana?" timpal Ainayya. Tanpa beban. Seolah perdebatan telah pun terlupakan. Seakan tiada pertengkaran semalam.

Putra diam sesaat sebelum akhirnya balik bertanya. Ah, rasanya akan lebih tepat jika itu disebut tidak percaya.

"Adakah kau lupa?" Putra memastikan, "kalau benar demikian, baca kembali di pesan." 

Paham betul, sahabat keras kepalanya ini pelupa. Tapi fakta Ainayya tidak lupa –tanpa sepengetahuan Putra tentu saja. Sementara gadis itu hanya mengangkat bahu tidak peduli. 

"Mengapa kau keras kepala?" Putra frustasi. Tak habis tanya gadis yang lamban berjalan ini lamban pula berpikirnya. 

"Bahkan kau terlampau hafal gimana Ainayya. Mengapa seakan, kau baru tahu bahwa Ainayya memang keras kepala, Putra?" respon Ainayya sebal. 

Putra jadi bingung. Sejak kapan tempramen Ainayya naik tingkat? 

"Sudahlah, aku lelah berdebat denganmu." Putra mengalah. Diteruskan hingga dua puluh empat jam juga tak akan bersudah. 

"Semenjak kapan kau berubah?" tanya Ainayya polos. Nyaris tidak mengerti dengan pertanyaan sendiri. 

"Semenjak aku tak lagi bisa mengenali dirimu," tukas Putra.

"Ainayya yang pernah kukenal, adalah seorang gadis manis dengan setiap keceriaan yang ada padanya. 

"Ainayya yang pernah kukenal, adalah bianglala dengan keunikan yang dipunya. Apa adanya dan tidak mengada. Menjadi diri sendiri dan tak pernah mampu memakai topeng dengan menjadi orang lain," lanjut Putra. Tulus. Berhenti sejenak untuk berpikir. Lalu lanjut berkata, "Ah, bukan tak mampu, kerana ia memang tak mau."

Ainayya takzim mendengarkan. Jarang-jarang Putra bicara dengan gaya bahasa prosa. Langka. Dan tak biasa. Hah. Tak dipungkiri Ainayya rindu ketika Putra berpetuah dengan indahnya kata. Dewasa cara berpikir, bijak dalam bersikap. Marah ketika mendapati itu salah. Menyerah, tatkala ia benar lelah. 

"Ainayya yang pernah kukenal, adalah gadis yang selalu berusaha menjadi pemaaf meski apapun kesakitan dan buruknya lisan seseorang menikam hatinya. Melupakan kesalahan seiring berlalunya waktu. Tak merubah suasana seiring berganti masa," imbuh Putra setelah terdiam cukup lama.

Lalu menoleh. Beradu pandang. Tak minat tawa meski lihat Ainayya menggembungkan pipi macam biasa. Sepuluh langkah lagi, mereka sampai di pintu kelas. 

"Namun nyata kini berbeda, Ainayya. Tak lagi sama macam semula. Ada kecewa, tentu saja. Ada luka, tiada dapat dihindar. Satu penawar hingga duka itu perlahan menjadi samar, memudar," tambah Putra sebelum memutuskan untuk berjalan lebih cepat tinggalkan Ainayya.

"Kalau boleh aku pinta, satu hal aja, kembalikan Ainayyaku yang dulu ...," pungkas Putra berlalu pergi.

Menghela napas pasrah. Cukup sudah. Jika satu pinta tak di-iya, apalah. Biarlah. Akan ia cuba belajar untuk bersahabat dengan keadaan. Upaya mengembalikan tentulah punyai batasan. Stok upaya Putra punya, telah pun kehabisan.

Jelas mata itu memancar cahya penuh pengharapan. Ada kelukaan cuba disembunyikan. Ainayya untuk sesaat berhenti. Nyeri rasa memaknai. Berlari. Menyusul Putra lalu melompat tepat di depan pemuda itu seraya berseru, "eits! Tidak bisa. Ainayya nak lebih dulu."

Putra sedikit terperanjat mendapati aksi Ainayya. Urung kaki memasuki kelas. Membiarkan gadis itu lebih dulu. Sudah penuh. Tersisa beberapa kursi belakang.

Satu langkah lebih cepat, Putra menarik Ainayya ke belakang. Tak memberi kesempatan untuk si lambat jalan mencari tempat terdepan. Biarkan. Sesekali duduk di belakang.

Selain itu, dengan isyarat, Putra melarang Ainayya untuk protes. Lihat, si gadis jilbab coklat menjatuhkan diri kesal. Menghela napas bosan. Menggembungkan pipi. Lagi-lagi merajuk. Sebelas-dua belas macam anak kecil.

Tak lama. Hanya beberapa detik saja hingga ia terlupa. Ainayya cepat menghadap ke belakang. Didapati Putra sibuk dengan diktat kali ini. Lantas, tangan itu terhulur menutup buku tanpa permisi.

Putra mengangkat pandangan. Ainayya nyengir di hadapan. Lalu menatap wajah pemuda berkemeja itu lekat-lekat. Mencari kebenaran di sana. Memastikan bahwa tidak ada dusta dari kalimat yang Putra kata.

"Kau yakin dengan satu pintamu tadi, Putra?" Ainayya bertanya datar, "alasannya?"

"Haruskah diulang? Hingga berapa kali untuk kau bisa mengerti?"

Ainayya terdiam.

"Katakan mengapa Ainayya harus melakukan itu! Adakah salah jika Ainayya memilih untuk tetap menjaga? Ketika satu antara kita–"

"Harus berapa kali Yunia minta maaf, membuatmu mengerti bahwa kini, ia menyesali, ia ingin sekali perbaiki?" Putra menyela. 

Ainayya mengangkat bahu tidak peduli. 

"Putra, kau kata Ainayya pelangi. Mengapa bisa begitu?" Dengan cepat, Ainayya merubah tema. Tanpa ia sadar, tentu saja.

"Haruskah aku berikan alasan?"

Ainayya menunduk. Mengerjapkan mata berulang. Pasang wajah memelas. Pura-pura. Tentu saja. Putra terlampau hafal.

"Panggilan sayang terbaru, ya ...?" seru Ainayya riang. Menjentikkan jari mendapati kemungkinan terbaik, yang singgah dipikirannya. 

Putra menatap datar. Tak cakap apa. Memberi isyarat Ainayya menghadap ke depan. Lihat! Dosen dalam diam perhatikan. Yang disuruh justru memutar bola mata bosan. Meski sesaat, lantas balik kanan.

Untuk sejenak Ainayya berpikir. Selama ini, memang hanya Putra yang paling bisa menerima keberadaannya. Untuk itu ia berterimakasih. Tapi ..., penuhi satu pinta sederhana Putra .... Adakah ia bisa?

Baiklah. Akan Ainayya coba. Anggaplah ini sebagai balas terima. Bukankah selama ini, pemuda itu yang menjaga? Putra bahkan banyak memberi sebelum-tanpa dipinta. 

Tidak. Putra pasti tak akan suka mendengar ini. Balas terima? Bahkan pemuda itu tak pernah punyai keinginan untuk semua terbalas oleh para sahabat. Sudah, itu saja. 

"Satu keharusan untuk kita saling menjaga pun peduli, Yunia! Tak ada yang dilebihkan di sini. Apa kau pikir, jika kau mengalami hal yang serupa macam Ainayya, kita tak akan peduli padamu? Begitu?"

Begitulah Putra kata tatkala Yunia cakap, "adakah jika aku atau Mira yang jatuh, kau akan melakukan hal sama, Putra?" 

***

Lanjut episode 44.

2 komentar:

  1. Bakat jadi novelis. Lanjutkan dengan tema yang tetap mendidik dan positif. Sip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin
      Alhamdulillah
      Insyaallah, kak...
      Makasii dah berkunjung,

      Hapus

Terimakasih atas kunjungannya...
Silahkan tinggalkan komentar dan sampaikan dengan santun...